AdvertorialDenpasarHeadlines

Gubernur Koster Komitmen Selesaikan Shortcut Singaraja-Mengwitani

Denpasar, LenteraEsai.id – Pemerintah Provinsi Bali di bawah kepemimpinan Gubernur Wayan Koster dan Wakil Gubernur Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati, berkomitmen untuk mewujudkan infrastruktur terintegrasi. Salah satunya yakni dengan melanjutkan pembangunan shortcut atau jalan baru batas Kota Singaraja-Mengwitani titik 7A, 7B, 7C serta titik 8 dan rest area.

Dengan dilanjutkannya proyek ini diharapkan dapat mengurangi kelokan dan kemiringan jalan. Dengan demikian, strukturnya menjadi lebih landai dan mempersingkat waktu perjalanan dari Denpasar ke Singaraja, dan sebaliknya.

Ground Breaking dimulainya pembangunan ruas jalan titik 7A, 7B, 7C dengan panjang 601 meter serta titik 8 sepanjang 1.564 meter (panjang total jalan 1.404 meter dan panjang total jembatan 160 meter) serta Rest Area atau Anjung Pandang, akan dilaksanakan pada Kamis (2/9) pagi di Desa Pegayaman, Sukasada, Kabupaten Buleleng.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Provinsi Bali Nusakti Yasa Weda dalam keterangan persnya pada Rabu (1/9) pagi di Denpasar.

“Bapak Gubernur berkomitmen untuk menyelesaikan shortcut Singaraja-Mengwitani ini. meski di tengah pandemi. Bahkan pembangunan infrastruktur yang dibiayai dari APBN, semuanya masih sesuai dengan rencana, tidak ada yang batal atau dipotong. Jadi semua akan terus jalan. Pemprov Bali juga telah menuntaskan biaya pembebasan lahannya,” ungkap Nusakti.

Lebih lanjut disebutkan, pembangunan shortcut (SC) pada ruas batas Kota Singaraja-Mengwitani ini penting untuk menciptakan pemerataan pembangunan antara Bali Utara dan Selatan, khususnya di sektor pariwisata sesuai dengan visi Pemerintah Provinsi Bali ‘Nangun Sat Kerthi Loka Bali’.

“Latar belakang dibangunnya shortcut pada titik 7A, 7B dan 7C, dikarenakan karena kondisi jalan existing terdapat tikungan pendek yang jari-jari tikungannya kecil dengan kelandaian lebih dari 10 %, sehingga kecepatan kendaraan hanya 20 km/jam,” ucapnya.

Adapun skema pembiayaan melalui dana APBN Murni maupun SBSN dengan rencana biaya digabung dengan SC 8 senilai Rp 145.568.901.000 (Multi Years Contract), katanya.

Dalam hal ini, kata Nusakti, Pemprov Bali mengerjakan Detail Engineering Design (DED) serta melakukan pembebasan lahan untuk titik 7A, 7B, 7C, 7D dan 7E serta titik 8 seluas 11,970 Ha dengan biaya pembebasan mencapai Rp 83.731.405.598 yang saat ini telah tuntas dilakukan.

Tak hanya sampai di situ, pada proyek ini juga akan dibangun rest area atau anjung pandang dan Monumen Ki Barak Panji Sakti sebagai ikonnya nanti. Di mana luas area taman dan parkir 2,158 M2 dan luas bangunan 180,3 M2 dengan perkiraan biaya mencapai Rp. 4.171.904.431,67.

Diungkapkan Nusakti, pembuatan rest area atau anjung pandang ini berawal dari kunjungan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono di lokasi pembangunan jalan baru titik 3,4,5 dan 6, yang dalam arahannya pada saat itu agar dibangun view point (rest area).

Sesuai keputusan bersama antara Gubernur Bali Wayan Koster dan Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana, maka untuk patung yang akan dipasang pada lokasi anjung pandang nantinya adalah patung Ki Barak Panji Sakti. Seperti diketahui, Ki Barak Panji Sakti merupakan seorang raja yang menjadi kebanggaan warga Buleleng karena tokoh tersebut terkenal arif, bijaksana dan sangat merakyat dalam mempimpin kerajaannya.

Konsep patung dari Ki Barak Panji Sakti adalah menghadap ke arah barat bersama ayahnya yang menunjukan daerah kekuasaan beliau yang terlihat pada tanah Blambangan (Banyuwangi).

“Anjung pandang nantinya bisa menjadi destinasi pariwasata yang
baru dan ke depannya akan diintegrasikan dengan konsep rest
area pada area sekitar anjung pandang, sehingga diharapkan
dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar,” ujarnya.

Lebih lanjut Nusakti mengatakan, pembangunan shortcut atau jalan baru ini menjadi salah satu upaya Kementerian PUPR untuk mendukung pemulihan sektor pariwisata Bali, khususnya di wilayah Bali bagian utara seperti Kabupaten Buleleng yang memiliki potensi pariwisata yang diharapkan dapat terus berkembang.

“Pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian PUPR tetap memberikan prioritas anggaran untuk pembangunan serta pengembangan infrastruktur di Bali meski saat ini tengah menghadapi pandemi Covid-19. Saya pastikan jika semua rencana proyek infrastruktur strategis di Bali akan tetap berjalan seperti halnya Shortcut atau jalan baru batas kota Singaraja-Mengwitani, Pusat Kebudayaan Bali di Klungkung serta pembangunan Pelindungan Kawasan Suci Pura Besakih di Karangasem,” imbuhnya.

Sementara Kepala Dinas Kominfos Provinsi Bali Gede Pramana menambahkan, acara peletakan batu pertama ini dilaksanakan dengan tetap mengikuti protokol kesehatan Covid-19, di mana semua peserta yang hadir di lokasi menjalani rapid test antigen terlebih dahulu.

Peserta yang hadir dikatakan Pramana sangat dibatasi. Bagi masyarakat serta awak media yang ingin meliput diarahkan agar mengikuti melalui live streaming di akun YouTube Pemerintah Provinsi Bali mulai pukul 09.00 Wita.  (LE-DP1)

Lenteraesai.id