ITDC Edukasi Warga Benoa Bali Olah Sampah Organik Jadi Ekoenzim

ITDC edukasi warga Benoa Bali olah sampah organik jadi ekoenzim
Peserta mencacah sampah organik yang diolah menjadi ekoenzim dalam sesi pelatihan yang diadakan ITDC di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Senin (1/6/2026). ANTARA/HO-ITDC Nusa Dua

Nusa Dua, LenteraEsai.id – BUMN PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (ITDC) mengedukasi warga Benoa, Denpasar, Bali, mengolah sampah organik menjadi ekoenzim guna mendukung kemandirian masyarakat menjaga lingkungan dalam pariwisata berkelanjutan.

“Kami berharap peserta tidak hanya memperoleh pemahaman baru, tetapi juga terdorong untuk menerapkan praktik ini secara konsisten dan membagikannya di lingkungan masing-masing,” kata Vice President Commercial and Relation ITDC The Nusa Dua Made Purnama Damayanti di Kabupaten Badung, Senin.

Bacaan Lainnya

Sebanyak 30 peserta terdiri dari pedagang yang tergabung dalam Paguyuban Pedagang di pantai kawasan Nusa Dua serta perwakilan masyarakat Kelurahan Benoa mengikuti pelatihan mengolah sampah organik menjadi pupuk cair itu.

Dalam edukasi itu, peserta mendapatkan pemahaman sekaligus praktik langsung pengolahan limbah organik rumah tangga menjadi ekoenzim mulai mencacah sampah organik hingga mencampurnya dengan bahan alami.

Adapun ekoenzim adalah cairan hasil fermentasi limbah organik yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk alami maupun pembersih ramah lingkungan.

Pelatihan menghadirkan I Made Tirta Jati selaku ketua unit di tempat pengolahan sampah berbasis pengurangan timbulan, pendauran ulang, pemanfaatan kembali TPS3R Sadu Sumerta Kaja, Denpasar, sebagai narasumber.

Tak berhenti pada sesi pelatihan, program ini juga dilanjutkan dengan memberikan pendampingan selama dua bulan untuk memantau pembuatan ekoenzim oleh peserta, memastikan penerapan materi, sekaligus mendokumentasikan hasil praktik pengolahan sampah secara mandiri.

Damayanti menambahkan pihaknya menilai penting keterlibatan masyarakat sebagai elemen krusial dalam mendukung terciptanya kawasan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan.

Pasalnya, kata dia, keterlibatan masyarakat mendukung kualitas kawasan, sekaligus memperkuat budaya pengelolaan lingkungan di sekitar destinasi yang lebih bersih dan sampah yang terkelola dengan baik. (LE)

Source: ANTARA

Pos terkait