“Saya bersyukur masih bisa melanjutkan hidup hingga hari ini. Dan itu bukan semata karena uluran tangan dokter, tapi juga karena saya punya akses untuk dirawat,” kalimat ini terucap pelan setengah bergetar dari I Komang Sudarta (45) seorang buruh serabutan yang berasal dari Desa Ababi, Karangasem, Bali.
Dengan bertumpu pada kruk agar kakinya bisa melangkah, Sudarta mengisahkan kronologi musibah yang dialaminya. Pada akhir April 2026, sekitar pukul 22.00 WITA, Sudarta sedang dalam perjalanan pulang dengan berjalan kaki usai bekerja. Hari itu ia bersyukur mendapat panggilan menjadi buruh bangunan, dengan upah Rp 150 ribu per hari. Usai bekerja, ia berjalan pulang dengan kondisi sangat kelelahan. Keringatnya masih mengucur membasahi punggungnya.
Dan ia sama tidak menduga, kalau malam itu mendadak berubah menjadi titik yang nyaris saja menghancurkan hidupnya.
Saat melangkah memasuki jalan masuk areal rumahnya, ada pasir yang terserak di jalan, yang seketika membuatnya terhempas jatuh terpelanting. Tubuh Sudarta menghantam permukaan jalan dengan keras, dan ia bahkan mendengar suara bergeretak. Ia kemudian bangkit dengan gemetar menahan rasa sakit akibat dirasakan ada sesuatu yang menusuk.
Firasat buruk seketika hinggap di kepala Sudarta. Ia meyakini bahwa ada yang tidak beres dengan kakinya. “Seketika langsung terbayang bagaimana cara keluarga bisa makan sehari-hari, karena cuma saya yang bekerja untuk menafkahi keluarga,” ujarnya pahit, seraya membuka fakta kisah lain keluarganya yang sering kali membuatnya merasa seolah sesak nafas.
Sudarta hidup bersama istrinya, Putu Udiyani, dan dua anak mereka. Namun cobaan keluarga ini tidak berhenti pada kecelakaan yang dialami Komang. Sang istri sejak beberapa bulan lalu, tengah berjuang untuk menyembuhkan tumor di kepala, sehingga harus hilir mudik ke rumah sakait. Sementara anak keduanya, Kadek Yoga Suparsana, harus menjalani pengobatan karena kanker kelenjar getah bening secara berkala.
Di tengah kondisi ekonomi yang terbatas, kenyataan jatuhnya Sudarta, terasa seperti gelombang yang datang tanpa henti. Seperti menyempurnakan permasalahan hidup yang tengah dihadapinya.
Malam itu, ketika akhirnya digotong saudaranya untuk dibawa ke RSUD Karangasem, sepanjang perjalanan akhirnya Sudarta menemukan pegangan positif, bahwa paling tidak ia saat ini memegang kartu BPJS Kesehatan, sehingga tidak perlu merisaukan biaya pengobatannya. Karena memang benar ketakutannya semula, kakinya patah akibat tergelincir di pasir, dan satu-satunya jalan memang harus dibawa berobat ke rumah sakit. Dan pengobatamn ini dijalani sekitar sebulan, sampai akhirnya dirujuk ke RSUD Wangaya di Denpasar, sampai akhirnya bisa sembuh
“Sekarang, saya merasakan bersyukurnya memiliki kartu BPJS Kesehatan, pengobatan bisa tuntas, kaki mulai pulih meski masih pakai kruk. Sedang istri dan anak masih menjalani pengobatan, tapi paling tidak, ada kartu BPJS Kesehatan, yang menjadi tumpuan Kesehatan keluarganya. “Kalau tidak menggunakan BPJS Kesehatan, mana bisa saya beserta anak istri berobat sampai Denpasar, bahkan membayangkan saja tidak akan berani. Bersyukur Tuhan dulu memberikan petunjuk sehingga saya mendaftarkan keluarga di BPJS Kesehatan, sekarang justru menjadi penyanggah keluarga saya. Dan untuk biaya hidup dan hilir mudik ke Denpasar, bersyukur bisa makan sehari-hari dari petik sayur di kebun atau ada beberapa bantun dari keluarga dan orang-orang baik,” katanya sembari menangkupkan tangan di dada, pertanda rasa syukur.
Data di RSUP Prof Ngoerah, untuk pasien yang berobat menggunakan BPJS Kesehatan.
JKN dibangun di atas prinsip gotong royong: yang sehat membantu yang sakit, yang mampu menopang yang rentan. Prinsip ini hanya akan bertahan jika kepercayaan publik dijaga. Kepercayaan peserta terhadap kepastian layanan, kepercayaan rumah sakit atas pembayaran klaim yang adil, serta keyakinan tenaga kesehatan bahwa mutu pelayanan tidak dikorbankan menjadi fondasi utama keberlanjutan sistem.
Direktur Utama BPJS Kesehatan Prihati Pujowaskito menilai peran pemerintah daerah (pemda) sangat penting dalam mendukung keberlanjutan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Apalagi program tersebut dinilai sangat dibutuhkan masyarakat dalam mengakses layanan kesehatan.
“Program JKN itu dari program negara yang diamanahkan ke BPJS Kesehatan untuk dikelola supaya manfaatnya bisa dirasakan sebesar-besarnya oleh masyarakat. Sumber dana Program JKN bukan dari pajak, melainkan dari iuran peserta. Ada kontribusi iuran dari peserta dan pemberi kerja yang dikelola secara gotong royong untuk menjamin pelayanan kesehatan bagi seluruh peserta JKN,” kata Pujo dalam keterangan t tertulis, Selasa (17/3/2026).
Pujo menjelaskan bahwa kontribusi pemerintah daerah dalam memastikan seluruh lapisan penduduk Indonesia terlindungi jaminan kesehatan, sangatlah besar. Berdasarkan data per 14 Maret 2026, terdapat 284,8 juta jiwa penduduk Indonesia yang sudah terdaftar Program JKN.
Dari jumlah tersebut, ada 96,8 juta yang ditanggung pemerintah pusat sebagai peserta Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK). Sementara, ada pula 49,1 juta jiwa yang ditanggung pemerintah daerah sebagai peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) kelas III atau lebih dikenal dengan istilah peserta PBPU Pemda.
BPJS Kesehatan dan sistem kesehatan Jerman sama-sama bertujuan memberikan perlindungan kesehatan universal, tetapi keduanya memiliki karakteristik yang berbeda. Jika berbicara tentang keunggulan BPJS Kesehatan, ada beberapa aspek yang cukup menonjol dibandingkan sistem asuransi kesehatan di Jerman.
1. Iuran Relatif Sangat Murah
Keunggulan paling nyata BPJS adalah biaya kepesertaannya yang sangat terjangkau.
Di Indonesia, peserta mandiri membayar iuran bulanan yang relatif rendah dibandingkan biaya kesehatan yang ditanggung. Bahkan masyarakat miskin dan rentan dapat menjadi peserta PBI (Penerima Bantuan Iuran) yang iurannya dibayar pemerintah.
Sementara di Jerman, peserta asuransi kesehatan wajib membayar kontribusi sekitar 14–15 persen dari pendapatan ditambah kontribusi tambahan dari masing-masing dana asuransi. Bagi pekerja, jumlahnya bisa mencapai ratusan euro per bulan.
2. Perlindungan untuk Penyakit Katastropik Tanpa Batas Biaya Besar
BPJS menanggung banyak penyakit berbiaya tinggi seperti:
Kanker
Gagal ginjal dan cuci darah
Penyakit jantung
Stroke
Operasi besar
Kemoterapi
Radioterapi
Banyak pasien Indonesia yang mengaku tidak mungkin mampu membiayai pengobatan tersebut tanpa BPJS.
Di Jerman memang layanan serupa juga ditanggung, tetapi kontribusi peserta jauh lebih besar dibandingkan iuran BPJS.
3. Prinsip Gotong Royong yang Kuat
BPJS dibangun dengan prinsip solidaritas sosial.
Orang sehat membantu yang sakit.
Orang mampu membantu yang kurang mampu.
Orang muda membantu yang lanjut usia.
Konsep ini mirip dengan sistem asuransi sosial Jerman, tetapi BPJS beroperasi dalam kondisi ekonomi yang jauh lebih menantang dengan jumlah peserta yang sangat besar.
4. Cakupan Kepesertaan Sangat Luas
BPJS merupakan salah satu program jaminan kesehatan terbesar di dunia dengan cakupan lebih dari 98 persen penduduk Indonesia.
Jumlah peserta yang sangat besar ini menjadi pencapaian penting bagi negara berkembang dengan wilayah kepulauan yang luas.
5. Tidak Ada Penolakan Karena Riwayat Penyakit
Peserta BPJS tetap dapat memperoleh perlindungan meskipun memiliki penyakit kronis atau kondisi kesehatan yang membutuhkan biaya tinggi.
Di banyak sistem asuransi swasta dunia, kondisi yang sudah ada sebelumnya (pre-existing condition) sering menjadi pertimbangan khusus.
Keunggulan utama BPJS Kesehatan bukan pada kemewahan fasilitas atau kecepatan layanan, melainkan pada kemampuannya memberikan akses pengobatan yang luas dengan biaya yang sangat terjangkau bagi masyarakat. Dalam konteks negara berkembang dengan lebih dari 280 juta penduduk, BPJS menjadi instrumen perlindungan sosial yang memungkinkan jutaan warga memperoleh pengobatan penyakit berat tanpa harus jatuh miskin akibat biaya kesehatan. Sementara itu, sistem Jerman sering dipandang lebih unggul dari sisi kualitas layanan dan sumber daya, tetapi dengan biaya kontribusi yang jauh lebih tinggi bagi peserta.
Komisi ahli yang dikenal sebagai “Finanzkommission Gesundheit” (Komisi Keuangan Kesehatan) pada Senin (30/03) memaparkan 66 rekomendasi untuk menekan kenaikan iuran asuransi kesehatan yang harus dibayar masyarakat Jerman. Komisi yang dibentuk pemerintah Jerman ini bertugas mengevaluasi kondisi keuangan sistem asuransi kesehatan nasional (GKV).
Sistem kesehatan Jerman termasuk salah satu yang paling mahal di dunia. Asuransi kesehatan negara mengeluarkan sekitar €1 miliar (sekitar Rp17 triliun) setiap hari untuk membiayai layanan kesehatan, dan angka ini diperkirakan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang. Di sisi lain, iuran yang dibayar warga Jerman naik rata-rata 3% tahun ini, setelah sebelumnya meningkat 2,5% pada 2025.
Meski iuran terus naik, pengeluaran asuransi kesehatan negara meningkat lebih cepat. Dalam konferensi pers, komisi tersebut menunjukkan data GKV yang memperkirakan defisit antara pendapatan dan pengeluaran akan membengkak dari €15,3 miliar (sekitar Rp260,1 triliun) pada 2027 menjadi €40,4 miliar (sekitar Rp686,8 triliun) pada 2030 jika tren saat ini terus berlanjut.
Tulus Sudarta terdiam sejenak saat mengenang masa-masa paling sulit dalam hidupnya. Masa ketika ia terbaring dengan kaki patah, tidak bisa bekerja, sementara istrinya berjuang melawan tumor dan anaknya menjalani pengobatan kanker. Di tengah ketidakpastian itu, ada satu hal yang membuat keluarganya tetap memiliki harapan: kartu JKN yang selalu ia simpan dengan hati-hati di dompetnya.
“Kalau tidak ada JKN, saya tidak tahu bagaimana nasib keluarga kami. Mungkin kami tidak akan sanggup membayar semua biaya pengobatan,” ujarnya lirih.
Kini, setiap kali melihat keluarganya masih bisa tersenyum dan menjalani pengobatan dengan baik, rasa syukur selalu memenuhi hatinya. Baginya, JKN bukan sekadar program kesehatan, melainkan penolong yang hadir saat hidup sedang berada di titik paling rapuh.
Bagi sebagian orang, JKN mungkin hanya selembar kartu. Namun bagi Tulus dan keluarganya, kartu itu adalah harapan yang tak ternilai—harapan untuk sembuh, bertahan, dan terus melangkah menghadapi hari esok. (Tri Vivi Suryani)







