Bandung, LenteraEsai.id – Kenikmatan secangkir teh hitam yang dicampur dengan irisan lemon kering dengan uapnya yang mengepul, memberikan kehangatan bagi tubuh di tengah dinginnya Pangalengan yang berkabut tipis menyelimuti hamparan hijau pohon teh di pagi itu.
Kabut itu, kabut tipis yang sama, yang menjadi kawan sejati dari tiap langkah para pekerja menuju lokasi kerjanya pagi itu di Perkebunan Teh Malabar, Kabupaten Bandung.
Di balik kenikmatan rasa sepat alami secangkir teh yang berpadu dengan rasa asam dari kesegaran sitrus lembut itu, ada peran vital dari para pekerja di perkebunan yang sebagian besar merupakan perempuan, sebagai pemetik daun tehnya.
Teh dari Nusantara, khususnya dari Jawa, bahkan menjadi teh pertama yang tembus sampai ke pasar Eropa di luar China pada 1835. Hal ini menjadikan kawasan Priangan sebagai pemeran utama teh di dunia, dan tuan tanah pemilik lahan menjadi sangat kaya, dengan ada tangan-tangan perempuan yang bekerja memetik daun-daun teh dari lahan yang membentang ribuan hektare.
Kebun Teh Malabar, Pasir Malang, dan Kertamanah, kini digabung di bawah PTPN 1 Regional 2 Malabar yang luas total lahannya sekitar 4.000 hektare, dengan ribuan karyawan, dan pekerja perempuan di dalamnya tetap memainkan peran dominan.
Sejak 1940-an Indonesia masih menjadi negara tiga besar eksportir dunia dengan volume di atas 70-80 ribu ton per tahun, yang 80 persennya berasal dari Jawa Barat. Namun, seiring waktu, ekspor Indonesia mengalami penurunan.
Data terbaru dari Asosiasi Petani Teh Indonesia (Aptehindo), menunjukkan pada 2025 volume ekspor teh hitam dan hijau sekitar 28 ribu ton (Januari-November), turun 13 persen dibanding periode yang sama tahun 2024.
Negara tujuan ekspor, seperti Uni Eropa juga, kini semakin ketat menerapkan standar keamanan bagi pangan konsumsinya, seperti batas residu pestisida (anthraquinone) yang sangat rendah, kualitas produk yang ditunjang kebersihan dan sanitasi kebun, hingga isu-isu sosial, seperti kesejahteraan pekerja dan kesetaraan juga jadi perhatian pasar.
Ketua Dewan Teh Indonesia Iriana Ekasari mengungkapkan industri teh Indonesia, kini tidak lagi bisa sekadar mengandalkan adu kualitas rasa di panggung lelang internasional, karena pasar global, mulai menggeser parameter premium mereka pada aspek pemenuhan hak-hak pekerja perempuan dan keberlanjutan lingkungan.
Komoditas legendaris di Jawa Barat yang sempat merajai pasar Eropa, Mesir, hingga Rusia sejak awal era 1900-an ini, kini didorong untuk mengadopsi narasi baru berbasis pemenuhan Sustainable Development Goals (SDGs).
“Dunia sudah berubah. Isu kesetaraan gender dan pemberdayaan remaja menjadi penentu utama konsumen global dalam memilih produk teh saat ini. Hak-hak pekerja tidak lagi dipandang sebagai cost atau biaya operasional oleh perusahaan, melainkan sebagai revenue atau sumber pendapatan baru melalui label produk khusus perempuan,” ujar Iriana, di sela diskusi publik bertajuk “Kolaborasi Multipihak dalam rangka mewujudkan perkebunan teh yang Inklusif, produktif, dan berkelanjutan” di Kantor PTPN 1 Regional 2 Bandung.
Kondisi sosial perkebunan
Walaupun zaman telah banyak berubah sejak era kolonial hingga berdirinya negara Indonesia, kini, kondisi kehidupan di kawasan perkebunan masih memiliki tantangan sampai saat ini.
Yang menjadi tantangan pertama adalah lokasi pemetikan daun teh yang terkadang sangat jauh dari kantor operasional perkebunan atau pabrik pengolahan teh, sehingga memaksa para pekerja beradaptasi secara was-was untuk memenuhi keperluan mereka, seperti sanitasi dan area privasi misal untuk menyusui bagi para pekerja perempuan yang harus turut membawa bayinya.
Pemetik teh di Kebun Pasir Malang, Nyai Sinarsih mengaku memulai hari dengan bangun sekitar pukul 03.00 untuk Shalat Subuh, menyiapkan makanan dan segala sesuatunya bagi keluarga, sebelum tiba di tempat penjemputan sekitar pukul 05.00 untuk ke lokasi pemetikan.
Ia bekerja memetik teh dari pukul 07.00-14.00 dengan satu kali istirahat makan. Setelah hasil panennya yang tiap hari ditarget minimal harus mencapai 95 kilogram ditimbang, dia pulang dan mempersiapkan lagi kebutuhan rumah untuk keluarganya.
Dari segi ekonomi, nyai yang merupakan pekerja selama 10 tahun di perkebunan tersebut, mendapatkan upah bulanan di luar bonus kinerja jika hasil timbangan melebihi target, yang walau minim tetap ia syukuri.
“Waktu anak-anak masih sekolah saya harus banting tulang lagi mengambil borongan panen kopi atau lainnya. Tapi tetap saya syukuri, saat ini Alhamdulillah anak-anak saya satu lulus D3 dan satu lulus SMA,” kata nyai.
Selain tantangan dalam pekerjaan, hasil wawancara yang dilakukan ANTARA mendapati bahwa para pekerja perempuan terkadang menghadapi tantangan akses, seperti akses penyampaian aspirasi serta akses fasilitas sanitasi saat bekerja.
Juga tantangan kesetaraan gender, salah satunya potensi kekerasan, baik di dunia kerja, lingkungan, maupun dalam rumah tangga. Dan lebih jauh, para perempuan tidak mengetahui harus bagaimana, atau melapor ke mana.
Kolaborasi menguatkan budaya setara
Kultur dan pemikiran sebagian besar masyarakat Indonesia, perempuan dianggap kelompok lebih “rentan” yang jadi pintu masuk terjadinya berbagai permasalahan yang dihadapi perempuan tidak terkecuali di ekosistem masyarakat perkebunan.
Di tengah kondisi seperti itu, aspirasi dan masukan pekerja pemetik teh yang sebagian besar perempuan, kerap susah terealisasi di lingkungan kerja, padahal mungkin usulan tersebut sejatinya bermanfaat bagi keberlangsungan perkebunan itu sendiri.
CEO CARE Indonesia Dr Abdul Wahib Situmorang mengungkapkan, berbagai tantangan, salah satunya kesetaraan akses yang terjadi di lingkungan perkebunan, termasuk di industri teh itu sendiri, menjadi pendorong lembaga waralaba ini bersama para mitranya, mendampingi tiga desa kawasan perkebunan, yakni Desa Banjarsari (Malabar), Margaluyu (Pasir Malang), dan Indragiri (Nagara Kanaan), Kabupaten Bandung, guna membangun kekuatan dan pemberdayaan, khususnya bagi pemetik teh perempuan.
Proporsi pekerja di perkebunan, khususnya pemetik teh yang sangat vital bagi kelangsungan industri perkebunan teh, didominasi oleh perempuan, namun dukungan untuk mereka masih perlu diberdayakan, termasuk dalam penyampaian aspirasi, kesetaraan akses, ekonomi, perlindungan dari Kekerasan Berbasis Gender dan Kekerasan Seksual (KBG-KS) serta sanitasi.
Di balik vitalnya para pemetik teh, pendapatan mereka masih perlu peningkatan untuk turut menopang ekonomi keluarga dan lebih berkelanjutan, karena ada periode tertentu tidak bisa dipetik untuk memberikan waktu tumbuh bagi pohon teh.
“Padahal kebutuhan rumah tangga tidak bisa on off, sehingga kami lihat ada masalah. Belum lagi beban ganda yang mereka emban harus siap-siap sebelum kerja jam 4 pagi dan pulangnya harus menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Di tempat kerja juga ada beberapa masalah, seperti sanitasi, kebersihan, perlindungan, serta tidak adanya jenjang karir yang luas,” kata Abdul.
Community Development Forum (CDF) dengan pendekatan holistik, menurut Abdul, diinisiasi CARE Indonesia dengan dukungan para mitra, untuk pemberdayaan komunitas, termasuk perempuan di tiga desa di kawasan perkebunan teh di Bandung Selatan itu.
Forum pembangunan masyarakat ini, lanjut Abdul, dibangun, diperkuat, dan dipergunakan sebagai alat untuk membangun kesejahteraan tiga pihak, yakni manajemen perkebunan, pekerja termasuk perempuan, dan pemerintah desa, yang bekerja sebagai ruang bersama yang mempertemukan berbagai pihak tersebut, termasuk komunitas, hingga kelompok perlindungan masyarakat.
Ketiga pihak ini, menurutnya harus berkolaborasi untuk membangun kesejahteraan para pekerja, di saat bersamaan memastikan perkebunan bisa berkelanjutan di mana desa dengan masyarakatnya juga sangat bergantung pada keberlanjutan kebun tersebut.
“Kalau ketiga-tiganya ini bisa bekerja sama, maka tujuan-tujuan pembangunan di tingkat desa, tujuan-tujuan keberlanjutan di kebun itu sendiri, bisa tercapai. Karenanya kegiatan besar utamanya membangun kolaborasi multipihak,” ucap Abdul.
“Secara total dari tiga desa, ada 1.812 orang yang terlibat langsung, dengan 169 anggota CDF aktif (133 perempuan dan 33 laki-laki), kemudian saat ini di tiga desa itu ada 145 posisi yang diisi para perempuan dengan 34 di antaranya posisi kepemimpinan,” ucapnya.
Kolaborasi berdampak
CDF menurut Abdul, memberikan kesempatan peningkatan kapasitas masyarakat, termasuk kelompok perempuan, mulai dari kepemimpinan, komunikasi, kesetaraan gender, pengurangan risiko bencana, hingga pencegahan kekerasan berbasis gender dan pengembangan alternatif mata pencaharian ini, memberikan dampak langsung pada ribuan masyarakat di tiga desa kawasan perkebunan.
Lanjut Abdul, adanya CDF yang mengembangkan pembangunan komunikasi lebih baik antara anggota serta pihak manajemen perkebunan, menciptakan kepercayaan diri dari para pekerja termasuk pekerja perempuan di perkebunan.
Ketua Srikandi PTPN 1 Regional 2 Mira Sumirah mengatakan pendekatan dialogis melalui CDF membantu membangun komunikasi yang lebih baik antara pekerja dan atasan serta perusahaan kepada komunitas perkebunan. Sehingga membuat lingkungan perkebunan bisa menjadi ruang aman bagi para pekerja.
Melalui CDF, lanjut dia, perusahaan semakin memahami kebutuhan para pekerja untuk mendukung produktivitas, sekaligus menciptakan ruang kerja yang aman dan nyaman. Salah satunya, penyediaan toilet portabel di area perkebunan, sehingga pekerja perempuan dapat merasa lebih aman dan nyaman saat bekerja.
“CDF menjadi ruang yang mempertemukan berbagai pihak untuk bersama-sama membicarakan kebutuhan dan tantangan di komunitas. Kami melihat adanya perubahan sikap dari para pemetik yang menjadi lebih lugas dalam menyampaikan aspirasi kepada atasannya. Demikian juga dengan masyarakat yang tinggal di perkebunan, ini menumbuhkan budaya dialog yang lebih terbuka dan partisipatif,” katanya.
Kepercayaan diri dan komunikasi aspirasi yang lebih baik dengan manajemen perkebunan itu juga seperti yang dirasakan nyai lewat program CDF ini, selain juga ada peluang untuk sumber pendapatan baru menambah hasil dari aktivitas di perkebunan.
Seiring waktu, CDF di tiga desa juga mendorong lahirnya berbagai inisiatif komunitas yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat, melalui pengembangan Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dengan melihat potensi sumber daya yang ada dan kebutuhan masyarakat setempat.
“Paling utama kepercayaan diri terbangun, tambah ilmu, teman, ada keluarga baru. Alhamdulillah sekarang dengan ada KUBE Lemon yang saya ikuti, ini juga jadi tambahan penghasilan sehingga saya bisa menabung,” kata nyai.
Di Perkebunan Pasir Malang, dengan koordinasi di CDF, informasi yang diterima ANTARA, telah didirikan KUBE yang memproduksi olahan berupa lemon kering, kopi, jamur, serta pengolahan sayur dan buah yang dikelola 23 orang (21 perempuan, 7 laki laki).
Hal serupa juga dirasakan oleh Ketua KUBE Warung Enteh CDF Malabar Hani Maharani yang menyebut dengan adanya program itu, antarpekerja perkebunan dari yang banyak tidak saling mengenal, kini memiliki ruang untuk berbagi cerita keluh kesah yang mereka alami.
Selain itu, masa depan para pekerja juga menjadi lebih cerah, menurutnya, dengan adanya sumber pendapatan baru lewat Warung Enteh, yakni usaha kafe, tempat makan dan istirahat di lokasi strategis jalur wisata yang menawarkan berbagai makanan dan minuman khas teh lemon, yang dikelola 15 orang (14 perempuan, 1 laki-laki).
Menurut Hani, tingkat kunjungan yang meningkat seiring waktu, yang terlihat dari rata-rata 20 resi pesanan per hari dengan satu resi biasanya satu rombongan keluarga, omzet yang dihasilkan rata-rata per hari adalah Rp2 juta.
“Dan mudah-mudahan lebih maju lagi ke depan dengan menu baru dari cuanki dan teh lemon Malabar, yang semenjak hadir menu itu, terlihat peningkatan penjualan sampai 70 persen,” kata Hani.
Bagi Mustari Siti Harom, koordinator KUBE Lemon Desa Margaluyu yang tiap bulan sedikitnya memproduksi 50 pax lemon kering seberat 50 gram dan 100 gram, merasa yakin program CDF yang berjalan tetap akan bisa berlanjut dengan komunikasi yang terbangun antar anggota selama ini, serta kerja bersama dengan komunitas CDF di dua desa lainnya.
“Saya yakin dengan pelatihan dan dampingan yang kami dapatkan, serta rasa memiliki dari para anggota dan kapasitas komunikasi yang dibangun selama program berjalan akan memastikan dampak dari program ini terus berjalan, ditambah kolaborasi dengan KUBE lainnya saya yakin bisa,” ucap Siti.
Berjalannya koordinasi CDF di Perkebunan Nagara Kanaan dikatakan kepada Antara, telah mendirikan pula KUBE toko sebagai tempat penjualan gas elpiji dan pupuk yang dikelola 10 orang (9 perempuan, 1 laki-laki).
Selama berjalan, ketiga KUBE ini memiliki omzet tahunan yang cukup menggembirakan di mana Warung Enteh mencatatkan Rp100 juta, Toko gas elpiji dan pupuk beromzet Rp17.000.000 juta, dan KUBE Lemon Kering memiliki omzet Rp7,5 juta.
Dari aspek kesetaraan gender dan perlindungan perempuan, CDF dikatakan mampu menekan kasus kekerasan yang terjadi. Seperti diceritakan Koordinator Satuan Tugas Perlindungan Perempuan dan Anak (SAPPANA) Desa Banjarsari, Kanny Destana.
Hadirnya SAPPANA, kata dia, membuat warga desa merasa terlindungi karena mengetahui harus ke mana dan menghubungi siapa ketika mengalami KBG-KS, tanpa perlu khawatir ada pelabelan macam-macam dari masyarakat.
“Sejak tiga tahun lalu berdiri, SAPPANA Desa Banjarsari menangani enam laporan yang masuk kebanyakan kekerasan keluarga, dan langsung kami dampingi untuk melakukan langkah-langkah yang diperlukan koordinasi dengan dinas perlindungan perempuan dan telah diselesaikan. Masyarakat makin merasa terlindungi dengan adanya SAPPANA dan isu krusial pun cenderung menurun,” ucap dia.
Hingga kini, CDF turut memperkuat mekanisme perlindungan perempuan dan anak di desa, melalui peningkatan Satuan Tugas Perlindungan Perempuan dan Anak (SAPPANA) di tiga desa dengan total anggota 72 orang (36 perempuan 36 laki laki), yang menjadi forum dialog, serta jalur pencegahan, pengaduan dan penanganan KBG-KS yang lebih mudah diakses.
Dr Abdul Wahib Situmorang membenarkan program CDF itu dasarnya adalah memberikan landasan dan kesiapan untuk pemberdayaan masyarakat perkebunan termasuk pekerja perempuan.
Selama berjalan, Abdul menambahkan, CDF yang memberikan kesempatan peningkatan kapasitas dengan fasilitasi kejar paket A,B,C bagi anggotanya dan masyarakat dengan rincian di Malabar 20 orang anggota CDF dan warga, di Pasir Malang sembilan anggota CDF, dan di Kanaan 15 orang anggota CDF.
Kemudian lewat kolaborasi multi pihaknya, program CDF ini menghadirkan fasilitas WASH (water, sanitation, and hygiene) lewat rehabilitasi fasilitas pekerja di Dusun Kanaan dan Dusun Palawija. Serta pembuatan ruang laktasi, ruang istirahat pekerja di perkebunan Malabar.
Menghadirkan pula kemudahan akses sanitasi bagi pemetik teh yang terdiri dari 1 MCK toilet portabel di Perkebunan Malabar, 1 toilet portabel di perkebunan Pasir Malang, dan 1 toilet permanen di perkebunan Negara Kanaan.
Kolaborasi melalui CDF menurut Abdul juga menghadirkan akses kebutuhan air di RW 05 Desa Margaluyu (Kebun Pasir Malang) untuk untuk memenuhi kebutuhan air warga yang kerap kesulitan, terlebih di musim kemarau dengan reservoar berkapasitas 10.000 liter yang menghasilkan 360 liter/hari untuk kurang lebih 200 KK yang dialirkan dari saluran sepanjang 800 meter.
Abdul menegaskan, tujuan utama CDF membangun sistem yang membangun reputasi dari produk perkebunan khususnya teh nasional, termasuk pada pemberdayaan kesejahteraan dan keamanan pekerja perempuan, serta kualitas produk yang memenuhi tuntutan pasar.
“Sebanyak 60-80 persen orang di Amerika dan Eropa itu minum teh. Kita harus mengubah paradigma. Karena pasar itu menginginkan membeli produk teh yang etis, yakni yang ramah lingkungan, yang melindungi pekerja, termasuk pekerja perempuannya dan membangun wilayah dan masyarakat sekitarnya,” tutur Abdul Wahib Situmorang, menutup. (LE)
Source: ANTARA








