Mahasiswa ITB STIKOM Bali Siap Tampil Dalam Pembukaan PKB ke-44

Mahasiswa ITB STIKOM Bali laksanakan Gladi Pembukaan PKB ke-44 (Foto: Dok Humas STIKOM Bali)

Denpasar, LenteraEsai.id – Jelang pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-44, sebanyak 135 penari dari mahasiswa ITB STIKOM Bali melaksanakan gladi bersih pagelaran tari kolosal bertajuk ‘Labuh Gentuh’ di depan Monumen Bajra Sandhi Renon Denpasar, pada Sabtu (11/6).

Penari yang terlibat dalam pagelaran tersebut berasal dari anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tari Tradisional dan UKM Tabuh di bawah bimbingan dua dosennya, I Gede Putra Mas Yusadara SKom MKom, dan Putu Setyarini SSn MSn.

Bacaan Lainnya

Seusai gladi, I Gede Putra Mas Yusadara mengatakan sebanyak 135 mahasiswanya siap memberikan yang terbaik dalam pawai akbar dengan menampilkan pagelaran kolosal ‘Labuh Gentuh’ pada pembukaan PKB tahun ini. “Kami sudah latihan maksimal hampir sebulan penuh dan siap tampil besok,” ujar pria yang kerap disapa Demas Yusadara.

Ia mjenyebutkan, penampilan mahasiswa ITB STIKOM Bali dalam pawai PKB ini merupakan yang ketiga kalinya dan selalu mendapat apresiasi luar biasa dari masyarakat. Demas Yusadara menjelaskan bahwa pagelaran kolosal ‘Labuh Gentuh’ merupakan presentasi upacara kurban ‘Bhuta Yadnya’ yang bertujuan untuk mengharmoniskan hubungan manusia dengan alam melalui upacara ‘Danu Kerthi’.

“Guna menjaga kesucian berbagai sumber air dan sungai yang dilaksanakan dengan tujuan untuk memohon keselamatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewa Wisnu,” imbuh Demas Yusadara.

Ditambahkannya, Upacara ‘Bhuta Yadnya’ ini selain untuk menetralisir kekuatan ‘Bhuta Kala’, juga untuk mengharmoniskan hubungan manusia dengan alamnya. “Sehingga diharapkan dengan pelaksanaan upacara Labuh Gentuh ini dimohon agar Ida Sang Hyang Widhi Wasa menganugerahkan sumber air tawar yang cukup sehingga kesuburan tanah terpelihara untuk kehidupan umat manusia,” jelas Demas Yusadara.

Karya ini turut menampilkan figur ogoh-ogoh yang menggambarkan Dewa Wisnu sebagai Dewa Air, pemelihara dan pelindung alam semesta beserta isinya. Selain itu, penari lainnya juga akan menampilkan sesajen kelengkapan ucapara, diikuti penari perempuan dan pria untuk menetralisir (nyomia) kekuatan ‘Bhuta Kala’ agar tidak mengganggu manusia.

Adapun penata artistik pegelaran ini adalah Dr Swasti Widjaja Bandem SST MHum, didukung oleh Pande Gde Eka Mardiana SSn MSn sebagai penata tabuh dan Putu Setyarini SSn MSn sebagai penata tari. Pagelaran ini diiringi gamelan Adhi Merdangga, sebuah ansambel besar yang diciptakan tahun 1984 oleh ASTI Denpasar di bawah sutradara Prof Dr I Made Bandem MA, Rektor ASTI Denpasar kala itu. Adhi Merdangga ini beberapa kali tampil di Istana Negara Jakarta dalam upacara 17 Agustus saat penurunan bendera merah putih dan saat SEA Games di Jakarta. (LE-DP)

Pos terkait