Kain Endek Wayan Djani Menjangkau Antar-Pulau Berkat JNE

Pelaku usaha kain endek Ni Wayan Djani

Denpasar, LenteraEsai.id – Suara detak alat tenun tradisional mengalun berirama di satu siang menjelang penghujung tahun 2021 di Desa Manduang, Kabupaten Klungkung, Bali.

Sejumlah perempuan lansia dengan ekspresi wajah yang teduh tengah  duduk di depan alat tenun. Tangannya masih gesit menggerakkan alat tenun untuk menghadirkan lembar demi lembar kain endek khas Manduang. Mereka nampak begitu larut dalam pekerjaan, mengikuti aliran tradisi yang sudah diturunkan leluhur secara turun-temurun.

Bacaan Lainnya

“Sebenarnya, menenun merupakan kegiatan tidak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari warga Manduang. Namun yang agak memprihatinkan, belakangan ini yang masih setia menggeluti kegiatan menenun kebanyakan adalah para lansia,” kata Ni Wayan Djani, yang menggeluti usaha tenun endek khas Manduang, ketika djumpai pada Kamis (30/12/2021) siang di sela kegiatan memantau pembuatan kain endek di desanya.

Sepertinya, lanjut dia, menenun kurang dilirik generasi muda sebagai lahan pencaharian. Padahal jika tidak ada generasi penerus, apa jadinya kerajinan kain tradisional di Manduang ini?. Mungkin dalam beberapa puluh tahun ke depan, bisa tinggal nama belaka jika tidak ada upaya pelestarian, atau ada generasi yang mau meneruskannya.

Djani mengatakan, dirinya memulai usaha memasarkan kain endek khas Manduang ini sejak tahun 1990-an, terdorong karena ingin mengenalkan dan melestarikan kain tradisional ini ke pasar lokal dan mancanegara. Pada tahun 1990-an, kain endek Manduang belum banyak dikenal masyarakat. Djani yang saat itu tinggal di Jakarta, pada suatu ketika pulang ke kampung halamannya di Manduang. Saat menyaksikan sejumlah orang berusia lanjut nampak tengah menenun, hatinya menjadi terketuk  untuk memasarkan kain khas di kampungnya supaya lebih dikenal secara global.

Kain endek Manduang, dijelaskan Djani, memiliki keunggulan pada motifnya yang elegan dengan bentuk patra, dedaunan atau bunga. Proses pembuatan kain endek ini memakan waktu yang lama, berkisar 1-2 bulan, melalui proses penenunan secara manual yang dikerjakan dari hari ke hari dengan penuh kesabaran oleh para lansia.

“Jadi ketika suatu hari saya pulang kampung dan melihat betapa menariknya kain tradisional di kampung saya, seketika menginspirasi saya untuk berbuat sesuatu. Karena kain ini kan memang tidak bisa djual murah, sehubungan bahannya pilihan dan waktu pembuatan sampai dua bulan. Faktor ini yang membuat saya tertarik untuk memasarkan. Dan syukurnya berkat tampilan etnik kain endek Manduang, akhirnya saat itu bisa diterima untuk dipasarkan di Sarinah Departement Store di Jakarta,” kata Djani dengan antusias.

Dia melanjutkan, saat itu yang membeli kain endek Manduang adalah tamu dari berbagai negara yang sedang kunjungan kerja atau berwisata ke Indonesia. Kain endek Manduang akhirnya dikenal sebagai salah satu souvenir khas Indonesia. Harga yang dibandrol adalah Rp 200.000 – Rp 750.000 untuk per lembar kain dan Rp 350.000 – Rp 850.000 untuk harga baju hem. Saat dipasarkan di Sarinah Departement Store, rata-rata penjualan kain endek mencari 250-300 pieces per bulan.

Peminat kain endek khas Manduang ini adalah warga mancanegara dari Jepang, Australia, Kuwait, Turki, Amerika Serikat, Singapura dan sejumlah negara lainnya. Warga asal Jepang atau Kuwait cenderung menyukai warna yang gelap dengan motif bunga-bunga Nusantara.

Tahun 1997, Djani memutuskan pindah ke Denpasar, supaya kian dekat dengan para perajin kain tradisional untuk lebih mudah melakukan pembinaan. Langkahnya ini berhasil sehingga berdampak usahanya bertambah maju. Alhasil Djani sering kali diundang pihak Kementerian  dan Disperindag untuk mengikuti pameran di dalam  dan luar negeri, dengan mengusung merek usaha ‘Ananta Busana’. Pelanggan kain tradisional Ananta Busana akhirnya berhasil merambah ke berbagai daerah di Tanah Air dan mancanegara.

Hantaman Pandemi, Terselamatkan JNE

Laju usaha yang semula berjalan lancar dan berhasil mengibarkan bendera bisnis kain tradisional, sempat goyah ketika awal mula dunia dilanda pandemi Covid-19. Pameran demi pameran yang biasanya rutin diikuti setiap bulan, seketika terhenti. Omzet usaha Ananta Busana langsung terkoreksi menurun tajam.

Di tengah kondisi ini, Djani mencoba tidak patah arang. Dia berupaya berkomunikasi dengan sejumlah pelanggan atau pembeli yang sebelumnya pernah dijumpai ketika dirinya mengadakan pameran di berbagai kota di Indonesia. Dengan mempromosikan motif baru kain endek atau pemberian harga khusus pada hari istimewa seperti peringatan Hari Ibu atau Hari Kartini, perlahan-lahan usaha Djani bergerak kembali.

“Kalau dulu, setiap bulan mengikuti beberapa kali pameran sehingga barang yang dipajang sering kali ludes sebelum acara berakhir. Dari ajang pameran inilah, sangat mendongkrak omzet usaha. Namun dengan guncangan pandemi, mau tidak mau kita harus improvisasi. Saya akhirnya sistem jemput bola menghubungi kembali orang-orang yang pernah membeli, dan mempromosikan kain endek Manduang ini dengan gencar menggunakan pendekatan dari mulut ke mulut. Syukur, kini mulai berdatangan lagi pesanan. Baru saja kenalan memesan 200 pieces kain untuk dibawa ke Yunani,” kata Djani dengan sumringah.

Sedangkan untuk dalam negeri, permintaan kain tradisional ternyata mulai meningkat pula belakangan ini. Untuk penggunaan jasa kurir demi memaksimalkan pengiriman barang ke konsumen, Djani mempercayakan pada PT Jalur Nugraha Ekakurir (JNE).

Wanita berusia 50 tahun ini menjelaskan, selama menggunakan jasa kurir JNE, dirinya tidak pernah mengalami kendala, dikarenakan tempo pengiriman selalu tepat waktu dan kondisi barang dalam keadaan baik  sesampai di tangan konsumen, sehingga Djani tidak pernah menerima komplain. Posisi barang juga bisa dipantau melalui website, sehingga tidak ada rasa kecemasan jika barang nanti telat sampai di konsumen.

Layanan unggulan yang sering digunakan ialah pertama, YES (Yakin Esok Sampai). Layanan ini adalah pengantaran barang yang memiliki batas waktu sampai keesokan harinya, yang mana sudah termasuk dengan hari libur nasional. Batas waktu pengiriman barang paling lambat hingga pukul 23.59 waktu setempat pada hari berikutnya.

Dan kedua, JNE REG (Reguler). Layanan ini kadang dipilih Djani sesuai permintaan konsumen, dikarenakan harganya termasuk ekonomis dan dapat mengirim barang ke seluruh Indonesia dengan waktu antara 1-7 hari kerja sesuai dengan daerah antaran.

“Sampai saat ini, saya merasa nyaman dan barang aman  sampai di tangan konsumen pemesan kain tradisional, makanya saya tidak pernah berpaling dari JNE. Harapan saya, JNE selalu menjadi mitra untuk membesarkan usaha di masa mendatang,” kata Djani.

Harapan lain ke depan, Djani ingin bisa terus memberdayakan para lansia di Desa Manduang sehingga mereka tetap dapat produktif di masa tua, bisa memperoleh penghasilan, serta menjaga warisan budaya leluhur agar kain tradisional tetap terjaga sepanjang zaman. “Saat ini saya memberdayakan 20 orang lansia. Moga kami bisa merawat tradisi dan mengembangkan usaha ini berkat sinergi tepat dengan JNE, untuk memasarkan antar-pulau ke seluruh negeri. Selanjutnya ‘goal’ yang saya tetapkan adalah dapat menjangkau konsumen  mancanegara secara maksimal,” harap Djani.

JNE Optimalisasi Jaringan Distribusi

Sebelumnya, Vice President of Marketing JNE Eri Palgunadi mengatakan, pada masa pandemi ini,  JNE melakukan upaya seperti optimalisasi jaringan distribusi melalui semua jalur yang masih bisa diakses, baik darat, udara, maupun laut. Selain itu, JNE juga menerapkan prosedur protokol kesehatan (Prokes) pencegahan Covid-19 yang ketat bagi para karyawan.

Banyaknya masyarakat, lanjut Eri, yang beraktivitas dari rumah pada masa pandemi, sebenarnya menjadi keberuntungan tersendiri bagi usaha kurir JNE, dikarenakan terjadi lonjakan pengunaan jasa kurir seiring dengan meningkatnya aktivitas usaha di  platform e-commerce.

“Justru dengan meningkatnya penggunaan jasa kurir di masa pandemi ini, membuat kami terus berupaya keras untuk meningkatkan kualitas layanan sesuai dengan kebutuhan di masyarakat sehingga menghadirkan digital payment dan lainnya,” kata Eri.

JNE merupakan salah satu jasa ekspedisi terlama yang hadir di Indonesia, sehingga banyak dipercaya oleh konsumen. Justru dengan kepercayaan ini, menghadirkan tanggung jawab untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat.

“Kami sangat mendukung agar bisnis e-commerce kian berkembang maju, sehingga kami menyelaraskan dengan mengadakan program seperti diskon ongkos kirim (ongkir), cashback dan lainnya. Intinya kami sangat mendukung supaya usaha kecil mikro dan menengah (UMKM) Indonesia untuk  tetap ‘survive’ dan akhirnya melaju lancar meski di tengah hadangan pandemi,” ujar Eri.  (Tri Vivi Suryani)

Pos terkait