OJK: Industri Jasa Keuangan Tetap Solid, Ekonomi Bali Tumbuh 5,58 Persen

OJK
Otoritas Jasa Keuangan - (Foto: Dok LenteraEsai)

Denpasar, LenteraEsai.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali menyatakan stabilitas Industri Jasa Keuangan (IJK) di Bali hingga akhir Maret 2026 tetap terjaga di tengah berbagai tantangan ekonomi global dan domestik.

Kepala OJK Provinsi Bali menyebutkan kinerja sektor jasa keuangan yang positif turut menopang pertumbuhan ekonomi Bali yang pada triwulan I 2026 tercatat mencapai 5,58 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Bacaan Lainnya

“Kondisi industri jasa keuangan di Bali tetap resilien dengan intermediasi yang tumbuh positif, risiko yang terjaga, serta likuiditas yang memadai,” demikian disampaikan OJK Bali dalam keterangan resminya, Kamis (4/6).

Dari sektor perbankan, penyaluran kredit berdasarkan lokasi bank tumbuh 6,45 persen yoy menjadi Rp120,66 triliun. Sementara kredit berdasarkan lokasi proyek meningkat lebih tinggi, yakni 8,19 persen yoy menjadi Rp146,47 triliun.

Pertumbuhan kredit terutama ditopang oleh kredit investasi yang melonjak 16,92 persen yoy atau bertambah Rp6,08 triliun. Kondisi ini menunjukkan meningkatnya pembiayaan untuk ekspansi usaha yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang di Bali.

Selain itu, kredit konsumsi juga masih tumbuh 4,28 persen yoy. Namun kredit modal kerja mengalami kontraksi sebesar 2,25 persen yoy.

OJK mencatat lebih dari separuh kredit di Bali disalurkan kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Porsinya mencapai 51,25 persen dari total kredit dengan pertumbuhan 4,53 persen yoy.

Berdasarkan sektor ekonomi, penyaluran kredit masih didominasi sektor bukan lapangan usaha sebesar 33,33 persen dan sektor perdagangan besar serta eceran sebesar 27,15 persen. Namun dari sisi pertumbuhan nominal, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum mencatat kenaikan tertinggi dengan tambahan kredit Rp2,07 triliun atau tumbuh 15,35 persen yoy.

Menurut OJK, peningkatan tersebut mencerminkan pemulihan dan penguatan sektor pariwisata Bali yang mendorong kebutuhan pembiayaan usaha.

Di sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 7 persen yoy menjadi Rp206,21 triliun. Pertumbuhan terutama didorong peningkatan tabungan masyarakat yang bertambah Rp7,64 triliun.

Sementara itu, kualitas kredit perbankan juga menunjukkan perbaikan. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) gross turun menjadi 2,56 persen dari sebelumnya 3,10 persen pada periode yang sama tahun lalu. NPL net juga membaik dari 2,17 persen menjadi 1,77 persen.

Ketahanan Bank Perekonomian Rakyat (BPR) di Bali juga dinilai tetap kuat. Cash Ratio (CR) tercatat sebesar 14,58 persen dan Capital Adequacy Ratio (CAR) mencapai 33,84 persen, jauh di atas batas minimum yang ditetapkan regulator.

Investor Pasar Modal Tumbuh Hampir 30 Persen

Di sektor pasar modal, jumlah investor di Bali terus meningkat. Hingga Maret 2026, jumlah Single Investor Identification (SID) mencapai 392.841 atau tumbuh 29,67 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tertinggi terjadi pada investor saham yang meningkat 31,97 persen yoy. Sementara nilai kepemilikan saham masyarakat Bali mencapai Rp7,95 triliun atau naik 48,40 persen yoy.

Pembiayaan Fintech Naik Signifikan

Pada sektor perusahaan pembiayaan, piutang pembiayaan tercatat Rp12,06 triliun atau mengalami kontraksi tipis 1,17 persen yoy. Meski demikian, kualitas pembiayaan tetap terjaga dengan rasio Non Performing Financing (NPF) sebesar 1,54 persen.

Sementara itu, pembiayaan melalui perusahaan modal ventura tumbuh 27,58 persen yoy menjadi Rp118,42 miliar.

Pertumbuhan paling tinggi terjadi pada layanan fintech peer to peer lending yang meningkat 35,64 persen yoy menjadi Rp2,25 triliun. Tingkat Wanprestasi 90 hari (TWP90) tercatat 4,35 persen, masih berada di bawah rata-rata nasional yang mencapai 4,52 persen.

OJK Intensifkan Literasi Keuangan

Sepanjang Januari hingga April 2026, OJK Bali telah melaksanakan 53 kegiatan edukasi keuangan yang menjangkau 3.718 peserta secara langsung serta sekitar 53.100 orang melalui media sosial.

Selain itu, melalui program Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN), lembaga jasa keuangan di Bali telah menyelenggarakan 413 kegiatan edukasi dengan total 444.915 peserta.

Dengan demikian, total kegiatan edukasi keuangan di Bali selama empat bulan pertama tahun ini mencapai 466 kegiatan yang menjangkau 448.633 peserta.

Di bidang perlindungan konsumen, OJK Bali menerima 653 pengaduan hingga April 2026. Sebagian besar berasal dari sektor fintech peer to peer lending sebanyak 351 pengaduan dan sektor perbankan sebanyak 179 pengaduan.

Permasalahan yang paling banyak dikeluhkan masyarakat berkaitan dengan perilaku petugas penagihan serta restrukturisasi atau relaksasi kredit dan pembiayaan.

OJK menegaskan akan terus memperkuat pengawasan industri jasa keuangan serta meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat. Di saat yang sama, masyarakat diimbau untuk mewaspadai investasi ilegal dan selalu memastikan aspek legalitas serta logika sebelum menggunakan produk keuangan.

Masyarakat yang menemukan indikasi aktivitas keuangan ilegal dapat melaporkannya melalui Satgas PASTI atau menghubungi Kontak OJK 157. (LE-003)

Pos terkait