judul gambar

Apriyadi Kusbiantoro, Komikus Asal Bantul yang Mendunia Lewat Karyanya

Apriyadi Kusbiantoro, komikus asal Bantul yang mendunia lewat karyanya
Komikus asal Bantul yang karyanya mendunia, Apriyadi Kusbiantoro tengah menggambar tokoh dalam salah satu komik yang sedang ia garap di meja kerjanya, Bantul, Yogyakarta, Jumat (5/6). ANTARA/Agung Dwi Prakoso.

Yogyakarta, LenteraEsai.id – Di balik kesederhanaan sebuah rumah di Kalurahan Trimulyo, Kapanewon Jetis, Bantul, tersimpan jejak prestasi yang mendunia. Belasan lukisan dan sampul komik menghiasi dinding, menandai asal-usul karya-karya yang kini telah merambah pasar Amerika Serikat, Belanda, Jerman, dan seluruh penjuru Eropa.

Pemilik rumah itu adalah Apriyadi Kusbiantoro (50), seorang komikus senior Bantul yang sukses menaklukkan industri komik internasional. Kisahnya berawal dari hobi masa kecil yang dulu kerap diremehkan, tapi kini telah membuahkan hasil nyata.

Bacaan Lainnya

Saat memasuki rumahnya, suasana seni langsung terasa. Berbagai Ilustrasi karakter dan sampul buku di dinding bukan sekadar hiasan, melainkan monumen perjalanan karier selama puluhan tahun. Di sudut ruang kerja mungil berukuran lima meter persegi, tumpukan kertas, kuas, dan cat air tetap setia menemani proses kreatifnya yang tak pernah padam.

Bagi Apri, sapaan akrabnya, karya-karya yang terpajang itu bukan sekadar dekorasi. Semua menjadi semacam lini masa yang mengingatkannya pada perjalanan panjang dari seorang anak yang gemar mencoret-coret buku pelajaran hingga menjadi ilustrator komik yang dikenal di mancanegara.

 

Dimarahi orangtua karena buku tulis penuh gambar

Kecintaan Apri terhadap komik telah tumbuh sejak ia duduk di bangku sekolah dasar. Namun, kegemaran itu tidak selalu mendapat restu orang tuanya. Apri masih ingat jelas bagaimana buku-buku pelajarannya lebih banyak dipenuhi coretan gambar daripada catatan pelajaran. Hal ini kerap memicu kemarahan orang tuanya.

“Waktu SD, orang tua saya sering kesel melihat buku tulis saya yang penuh gambar dibandingkan catatan pelajaran,” ujar Apri saat ditemui ANTARA di kediamannya, Jumat (5/6).

Kini, Apri memahami alasan di balik kemarahan tersebut. Pada masa itu, menggambar sering kali dipandang sebagai hobi yang tidak menjanjikan masa depan. Terlebih, sebagian besar waktunya habis untuk membaca komik, bukan belajar. Menurut Apri, pandangan masyarakat saat itu sangat berbeda dengan kini. Membaca komik bahkan sering dianggap dapat menurunkan kecerdasan akademis anak.

“Karena kala itu orang tua di sekitar saya menganggap kepintaran hanya didapat dari buku pelajaran,” katanya.

Berbagai komik Amerika dan Eropa menjadi teman setia masa kecilnya. Karakter seperti Batman, Superman, Captain America, hingga Storm dan Tintin mengisi hari-harinya. Koleksi komik tersebut sebagian besar berasal dari kakaknya yang gemar membeli dan menyewa buku komik.

“Saya nebeng di situ, jadi punya privilege dari kakak, walaupun memang orang tua tidak suka,” ujarnya sambil tertawa.

Dari kegemaran membaca itulah muncul keinginan untuk menciptakan komik sendiri. Saat duduk di bangku SMP, ia mulai membuat cerita lengkap dengan ilustrasinya. Namun, tidak satu pun berhasil diselesaikan karena masih sebatas sarana menyalurkan hobi.

 

Komik pertama yang terbit di Balai Pustaka

Kesempatan untuk menyelesaikan sebuah komik akhirnya tiba saat Apri menjadi mahasiswa semester pertama Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) ISI Yogyakarta pada 1994. Ia menciptakan komik berjudul Bunglon, yang terinspirasi dari ide seorang teman SMP. Teman tersebut berimajinasi tentang sosok pahlawan super dengan kemampuan berubah warna.

“Teman SMP dulu ingin dibuatkan tokoh superhero yang bisa berubah warna karena dia punya mainan mobil termokromik yang bisa berganti warna,” kenangnya.

Dari ide sederhana itu, lahirlah komik setebal 36 halaman dengan tokoh utama yang mampu berkamuflase menggunakan kostum berbahan termokromik. Setahun kemudian, pada 1995, komik tersebut resmi diterbitkan oleh Balai Pustaka. Kini, edisi cetak Bunglon telah menjadi barang koleksi yang cukup langka.

Ironisnya, Apri sendiri tidak memiliki satu pun salinan fisik dari komik pertamanya itu. Ia bahkan mengaku sempat merasa malu ketika para kolektor memperlihatkan komik tersebut untuk dimintai tanda tangan.

“Tapi kolektor komik justru senang, mereka bangga menunjukkan komik itu kepada saya untuk ditandatangani,” katanya.

Meski sempat menerbitkan karya, industri komik Indonesia pada akhir 1990-an mulai mengalami kemunduran. Demi menyelesaikan pendidikan dan memenuhi kebutuhan hidup, Apri memilih beralih ke dunia desain grafis dan animasi. Profesi inilah yang kemudian menjadi sumber penghasilan utamanya selama bertahun-tahun.

 

Titik balik menuju industri komik internasional

Karier Apri di dunia desain grafis dan animasi memang berjalan mulus. Namun, seiring berjalannya waktu, ia mulai merasakan kejenuhan. Selain itu, karya-karyanya untuk industri periklanan jarang memperkenalkan namanya secara langsung kepada publik karena sebagian besar dikerjakan di balik layar sebagai ghost artist.

“Saya pernah bilang ke ibu kalau iklan di televisi itu hasil karya saya. Tapi ibu bertanya, bagaimana dia bisa tahu kalau itu buatan saya,” katanya.

Pengalaman itu memunculkan keinginan untuk kembali ke dunia komik. Sekitar tahun 2007, ia mulai mencari peluang menjadi ilustrator komik Amerika melalui berbagai forum dan platform daring.

Usahanya tidak langsung membuahkan hasil. Setelah bertahun-tahun mengirimkan portofolio dan membangun relasi, kesempatan pertama akhirnya datang pada 2011. Seorang penulis dari Amerika Serikat tertarik pada gaya gambarnya dan mengajak Apri berkolaborasi. Hasilnya adalah komik Three Stooges yang diterbitkan Bluewater Productions pada 2012.

“Jadi saya mulai mencari sejak 2007, baru dapat proyek pada 2011 dan masuk proses produksi,” ujarnya.

Nama Apri perlahan mulai diperhitungkan di industri komik Amerika. Pada tahun yang sama, penerbit raksasa Dark Horse Comics mempercayainya untuk mengilustrasikan komik pendek berjudul Radio Gaga. Proyek-proyek lain pun mulai berdatangan. Namun, tuntutan tenggat waktu (deadline) yang ketat memaksanya membagi fokus antara dunia animasi dan komik.

Di tengah kesibukan ganda itu, muncul tantangan baru yang sebenarnya telah menjadi impian masa kecilnya: menembus pasar komik Eropa.

 

Dari penggemar Storm berhasil jadi ilustrator resminya

Komik Eropa menempati posisi istimewa dalam perjalanan karier Apri. Salah satu karya favoritnya adalah Storm. Sebagai penggemar setia, ia kerap mengunggah fan art karakter tersebut di galeri daring pribadinya. Tak disangka, unggahan itu menarik perhatian seorang kolektor komik asal Belanda. Melalui surel, pria tersebut menghubungi Apri dan memuji gaya gambarnya yang sangat mirip dengan Don Lawrence, ilustrator legendaris di balik kesuksesan Storm.

Komunikasi yang awalnya hanya sebatas obrolan antarpenggemar kemudian berkembang menjadi peluang profesional. Melalui perantara penggemar tersebut, Apri dipertemukan dengan seorang penulis komik Belanda yang mengajaknya berkolaborasi. Hasil kerja sama itu melahirkan komik De Verloren Verhalen van Lemuria yang diterbitkan Dark Dragon Books pada 2014.

Menariknya, selama proses pengerjaan yang berlangsung hampir dua tahun, Apri tidak terlalu memusingkan soal honorarium. Baginya, proyek ini lebih merupakan tantangan pribadi dan bukti kemampuan di pasar Eropa. Setelah komik terbit, ia diundang ke Belanda untuk tur promosi dan bertemu langsung dengan para pembaca.

“Aku yang masih anak bawang tiba-tiba seperti jadi superstar di sana, antrean tanda tangan panjang sekali,” kenangnya.

Pengalaman itu menjadi titik penting dalam kariernya. Sejak saat itu, kepercayaan dirinya tumbuh dan peluang kerja dari berbagai penerbit Eropa semakin terbuka. Puncaknya datang ketika impian masa kecilnya benar-benar terwujud.

“Pernah ada masa ketika saya berani bermimpi menjadi ilustrator Storm. Dan ternyata mimpi itu tercapai ketika penulis asli Storm meminta saya menjadi ilustratornya,” katanya.

 

Warga Bantul yang menembus pasar komik dunia

Hingga kini, Apri telah terlibat dalam puluhan proyek komik internasional. Misalnya di Amerika Serikat, ia mengerjakan berbagai judul seperti George Carlin, Three Stooges, Soft J.N. Williamson’s Illustrated Masques, dan Radio Gaga. Sementara di Belanda, ia terlibat dalam sejumlah serial penting, antara lain De Verloren Verhalen van Lemuria, De Levende Mantel, serta serial legendaris Storm.

Pada 2024, ia juga menjadi ilustrator komik De Rover van Pasar Setan dalam serial Elang Jawa yang diterbitkan majalah komik Belanda Eppo Stripblad. Bagi Apri, proyek Elang Jawa memiliki makna yang sangat istimewa karena membawa cerita Indonesia ke pasar Eropa.

Elang Jawa ini proyek kebanggaan saya karena merupakan komik Indonesia,” ujarnya.

Dalam waktu dekat, ia kembali bertolak ke Eropa untuk meluncurkan komik Elang Jawa sekaligus edisi terbaru serial Storm dalam bahasa Belanda dan Jerman.

“Jadi di Eropa saya meluncurkan komik Indonesia pertama saya yang diterima pembaca Eropa, yaitu Elang Jawa,” katanya.

 

Inspirasi bagi ekosistem komik DIY

Prestasi Apriyadi Kusbiantoro di panggung internasional tidak luput dari perhatian Pemerintah Daerah DIY. Bagi Iwan Pramana, Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata DIY, sukses Apri adalah validasi bahwa Yogyakarta memiliki talenta yang siap bersaing secara global.

Menurut Iwan, komik kini tidak lagi dipandang sekadar produk seni dan hiburan, melainkan telah berkembang menjadi kekayaan intelektual (intellectual property/IP) yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan dapat dikembangkan menjadi animasi, gim, merchandise, serta berbagai produk kreatif lainnya.

Ia juga menyebut Apri sebagai salah satu aset daerah yang berperan penting dalam diplomasi budaya sekaligus inspirasi bagi generasi muda untuk berani berkarya di tingkat global. Selama ini, Pemda DIY telah menjalin berbagai kolaborasi dengan Apri dalam pengembangan ekosistem ekonomi kreatif, khususnya subsektor komik dan mural.

Pemerintah terus berupaya mematangkan ekosistem ini melalui berbagai inisiatif: mulai dari pelatihan teknis, program “Marathon Komik”, dukungan produksi animasi, hingga penyediaan fasilitas ruang kerja bersama di Jogja Creative Hub.

Dengan fondasi seni, budaya, dan komunitas kreatif yang sudah mengakar kuat, Yogyakarta optimistis dapat mencetak lebih banyak komikus berkaliber internasional seperti Apriyadi, putra Bantul yang telah mengharumkan nama daerah di mata dunia. (LE)

Source: ANTARA

Pos terkait