Nusa Dua, LenteraEsai.id – Badan Kerja Sama Internasional Jerman atau Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) menyiapkan dana investasi senilai 20 juta euro untuk memperkuat konservasi laut di beberapa negara termasuk Indonesia pada 2026-2031.
“Kami akan bermitra dengan negara penggerak pertama dari perjanjian Biodiversity Beyond National Jurisdiction (BBNJ) termasuk Indonesia,” kata Commission Manager Living High Seas GIZ Indonesia dan ASEAN Yuliana Cahya Wulan di sela peringatan Hari Laut Sedunia dan Segitiga Terumbu Karang di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Minggu.
Selain Indonesia, lanjut dia, negara mitra organisasi dari Pemerintah Federal Jerman itu adalah Senegal, Brazil dan Mikronesia.
Ia menjelaskan nilai investasi dalam proyek Living High Seas itu rencananya mulai dikucurkan pada 2026 dalam bentuk dukungan teknis dan lainnya melalui program International Climate Initiatives sebagai bagian komitmen awal negara itu dalam mendukung berlakunya perjanjian BBNJ.
Melalui BBNJ, ujar dia, kerja sama konservasi mulai bergeser dari negosiasi menuju implementasi nyata, salah satu fokusnya memperkuat upaya konservasi laut termasuk pengembangan wilayah konservasi laut (Marine Protected Area/MPA).
Untuk proyek tersebut, pihaknya akan fokus pada instrumen pengelolaan (Area Base Management Tools/ABMT) termasuk di dalamnya MPA.
Ada beberapa upaya yang akan dilakukan dalam proyek Living High Seas itu yakni membantu negara mitra termasuk Indonesia dalam mengumpulkan data ilmiah terutama di kawasan BBNJ yaitu di luar Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) atau di luar batas 200 mil laut (laut lepas).
Ia menjelaskan data tersebut penting mengingat wilayah laut itu menjadi rentan karena semua bisa mengakses termasuk eksploitasi dari kapal-kapal besar yang beroperasi tanpa pengawasan.
Selain mengumpulkan data, lanjut dia, juga terkait membangun kapasitas negara mitra termasuk Indonesia dalam menentukan wilayah konservasi keanekaragaman hayati dan wilayah untuk pemanfaatan berkelanjutan.
Meski fokus BBNJ berada di laut lepas, upaya konservasi laut diperkirakan akan berdampak positif terhadap perairan di Indonesia termasuk Bali.
Sementara itu, Country Director GIZ Indonesia dan ASEAN Hans Bruns Ludwig menjelaskan kemitraan dengan Indonesia telah berlangsung selama 50 tahun.
Selama setengah abad, lanjut dia, kemitraan telah menandai kemajuan signifikan dari awalnya pengembangan kapasitas teknis dalam kesehatan, pendidikan, sosial hingga berkembang terkait perubahan iklim, penanganan kebencanaan, hingga pembangunan ekonomi.
Kedua negara, imbuh dia, juga saling berbagi pengalaman dan belajar mengingat Indonesia memiliki bonus demografi penduduk usia muda dengan total populasi mencapai 280 juta jiwa, sedangkan negaranya mencapai 80 juta jiwa.
“Jadi tantangannya bagi pemerintah, masyarakat itu sangat besar tidak hanya meningkatkan pendapatan tapi juga bagaimana memastikan ketersediaan pangan masyarakat,” katanya. (LE)
Source: ANTARA







