Bali Produksi 3.436 Ton Sampah per Hari, Gung Nik: Ini PR Darurat

Pegiat lingkungan pelopor Yayasan Tukad Bindu sekaligus pendiri Komunitas Gila Selingkuh, I Gusti Rai Ari Temaja - (Foto: Dok LenteraEsai)

Denpasar, LenteraEsai.id – Gubernur Bali Wayan Koster mengungkapkan volume sampah di Provinsi Bali saat ini mencapai 3.436 ton per hari. Lebih dari 60 persen berasal dari rumah tangga, dan sekitar 17 persen berupa sampah plastik sekali pakai.

Koster menyatakan, persoalan sampah dapat diselesaikan jika pengelolaan berbasis desa dilakukan secara optimal. Namun, ia menilai hasil selama enam tahun terakhir belum memuaskan. Untuk itu, ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, desa, dan masyarakat adat dalam pengelolaan sampah berbasis sumber.

Bacaan Lainnya

Menanggapi hal tersebut, pegiat lingkungan pelopor Yayasan Tukad Bindu sekaligus pendiri Komunitas Gila Selingkuh, I Gusti Rai Ari Temaja atau yang akrab disapa Gung Nik, menilai persoalan sampah sudah masuk kategori darurat.

“Ini sudah masuk PR yang darurat dan tidak bisa ditunda-tunda lagi,” tegas Gung Nik saat ditemui di kawasan Tukad Bindu, Denpasar, Senin (14/7/2025) malam.

Menurutnya, sampah seharusnya tidak hanya menjadi bahan perdebatan, melainkan bisa diolah menjadi produk bernilai. Hal ini telah dilakukan oleh komunitasnya yang memanfaatkan kayu hanyutan sungai menjadi kerajinan.

Gung Nik menyambut baik terbitnya Surat Edaran (SE) Gubernur Bali Nomor 9 Tahun 2025 tentang Gerakan Bali Bersih Sampah. SE tersebut merupakan tindak lanjut dari Peraturan Gubernur Bali Nomor 95 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan sejenisnya.

SE tersebut memuat ketentuan pembatasan plastik sekali pakai serta pengelolaan menyeluruh di berbagai sektor seperti kantor pemerintahan, sekolah, pasar, hingga tempat ibadah. Kebijakan ini disepakati dalam rapat koordinasi antara Pemprov Bali dan pemerintah kabupaten/kota se-Bali pada 12 Maret 2025, dan akan mulai berlaku efektif pada 1 Januari 2026.

Lebih lanjut, Gung Nik menekankan pentingnya perubahan pola pikir masyarakat.

“Kita harus berhenti berpikir bahwa persoalan sampah adalah tanggung jawab orang lain. Kita yang menghasilkan, kita pula yang harus mengelolanya,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kesadaran individu dan kolektif adalah kunci utama. “Kalau kita tidak mampu mengelola sampah sendiri, barulah kita minta bantuan pihak lain. Tapi intinya, jangan selalu bergantung.”

Menurut Gung Nik, sampah plastik pun bisa diolah jika ada kemauan dan komitmen bersama. Ia menutup pernyataannya dengan ajakan reflektif.

“Alam tidak butuh diselamatkan. Justru kita yang harus menyelamatkan diri sendiri. Kita ini cuma numpang hidup di bumi, jadi jangan merasa paling berkuasa,” tandasnya. (LE-Vivi)

Pos terkait