Angkat Tema Air, Unit Lontar Unud Gelar Ulas Lontar III

Unit Lontar Unud menyelenggarakan Ulas Lontar III secara daring. (Foto: Dok Humas Unud)

Denpasar, LenteraEsai.id – Unit Lontar Universitas Udayana (Unud) yang bertempat di Fakultas Ilmu Budaya Unud menggelar Ulas Lontar III dengan mengangkat topik ‘Udakalango: Wacana Konservasi Air sebagai Lanskap Keindahan dalam Naskah Lontar Bali’ yang diselenggarakan secara daring melalui aplikasi zoom meeting, pada Jumat (8/7).

Ulas Lontar III ini menghadirkan dua pembicara yaitu Dr I Made Suparta MHum, dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (UI), dan I Nyoman Suwana SS MHum, staf Unit Lontar Universitas Udayana. Acara diskusi dipandu moderator Putu Ari Suprapta Pratama SS MHum, dosen Program Studi Sastra Jawa Kuna FIB Unud.

Bacaan Lainnya

Acara diawali dengan sambutan dari Ketua Unit Lontar Universitas Udayana Prof Dr I Wayan Cika. Dalam sambutannya, Prof Cika mengungkapkan bahwa acara Ulas Lontar ini merupakan upaya aktualisasi amanat dari para pendiri Fakultas Sastra Universitas Udayana dahulu, yang kini bernama Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unud.

“Acara Ulas Lontar ini merupakan aktualisasi amanat pendiri Fakultas Sastra Unud, yaitu sebagai kunci wasiat untuk membuka secara ilmiah perbendaharaan Bali, sebagai peti tempat penyimpanan perbendaharaan sastra dan budaya lama,” ujarnya.

Dekan Fakultas Ilmu Budaya yang diwakili oleh Wakil Dekan III FIB Unud, Dr Ni Ketut Ratna Erawati MHum, membuka secara resmi kegiatan Ulas Lontar III ini. Dalam sambutannya disampaikan bahwa acara Ulas Lontar  sangat penting untuk mempersempit jarak antara keberadaan naskah lontar dengan para pembacanya.

“Acara Ulas Lontar sangatlah penting bagi para pembaca atau penikmat naskah Jawa Kuno dan Bali, sehingga dapat mengetahui berbagai hal yang terkandung di dalam naskah lontar yang ada,” ucapnya. 

Diskusi diawali dengan pemaparan materi oleh Dr I Made Suparta MHum yang membawakan membawakan materi dengan topik ‘Pasir Wukir dan Apsudewa Tattwa dalam Teks Bhasa Hanyang Nirartha: Kajian Ethno-Theo-Hydrology’. Dalam pemaparannya, Dr I Made Suparta menjelaskan berbagai sumber teks Jawa Kuno dan Bali yang memuat wacana tentang air.

Teks-teks Jawa Kuno dan Bali yang memuat wacana tentang air, di antaranya Kakawin Anyang Nirarta, Adi Parwa, Tantu Pagelaran, dan sebagainya.

Lebih jauh Dr I Made  Suparta mengungkapkan bahwa pemuliaan terhadap air dilakukan tidak hanya terhadap wujud fisik air semata melainkan pula melalui proses transendensi air di dalam tubuh manusia. 

Pembicara kedua, I Nyoman Suwana memaparkan tentang upaya pelindungan air dalam naskah Tantu Pagelaran. Suwana mengungkapkan, upaya pelestarian air dalam teks Tantu Pagelaran dilakukan melalui proses reflektif.

“Proses reflektif yang dimaksud adalah ketika manusia mampu memperlakukan air selayaknya manusia, maka air akan melakukan sebaliknya. Artinya, ketika kita mampu merawat air dengan baik, maka air juga akan memberikan yang terbaik untuk kita,” ungkap Suwana.

Acara diskusi yang berlangsung selama dua jam ini dihadiri oleh 150 peserta yang terdiri atas dosen, mahasiswa, penyuluh agama Hindu, penyuluh bahasa Bali, serta khalayak umum. Diskusi berlangsung hangat dengan banyaknya peserta yang bertanya selama giat Ulas Lontar berlangsung. (LE-DP)

Sumber: www.unud.ac.id

Pos terkait