BadungHeadlines

‘Tedun’ Pawisik Gaib Usai Melukat di Pura Kereban Langit Badung

Badung, LenteraEsai.id – Masyarakat Banjar Pekandelan, Desa Sading, Kecamatan Mengwi, Kabupater Badung masih memegang adat tradisi yang kental. Di banjar inilah taksu niskala begitu kuat menggema, terkait dengan keberadaan bangunan suci Pura Kereban Langit yang sudah dikenal kesakralannya sejak zaman kerajaan dahulu kala.

Suasana hening dan aura magis sangat dirasakan pemedek ketika menapaki tangga turun untuk menuju Pura Kereban Langit. Kuatnya kepercayaan krama terhadap kesakralan pura ini, telah membuat pemedek hampir tiap hari datang untuk tujuan tertentu atau nunas tamba atas penyakit yang tengah dideritanya.

Pura ini memiliki keunikan karena terdapat beberapa arca kuno, di samping letaknya yang cukup ganjil, yakni berada di tengah goa yang menjorok ke dalam sekitar 6 meter. Di dalam goa ini, terdapat lubang menganga di bagian atasnya, sehingga mendasari penamaan pura sebagai tempat suci yang beratapkan angkasa atau langit (kereban langit).

Pemangku Pura Kereben Langit Jro Ketut Witera mengatakan, sebenarnya pura ini sudah terkenal sejak zaman Kerajaan Bedahulu, di mana saat itu Raja Cri Udayana mendapatkan pawisik gaib untuk mencari Tirta Selaka untuk diberikan kepada permaisuri guna mendapatkan keturunan. Atas pawisik yang diterimanya, baginda raja pun memerintahkan kepada patih agar mencari Tirta Selaka yang dimaksud.

Melalui petunjuk dan penelusuran, akhirnya patih tiba di Banjar Pekandelan, Desa Sading, dan berhasil menemukan tempat suci yang terletak di dalam goa. Begitu masuk ke dalam goa, patih bertemu seorang pertapa.

Kepada pertapa itu, sang patih sertamerta menanyakan tentang letak Tirta Selaka, dan pertapa hanya menunjuk ke arah pancuran air yang ada di dalam goa, namun tidak memahami namanya. Patih lantas mengambil air dari pancuran dan membawanya ke puri raja. Air itu kemudian diminum permaisuri, dan tidak lama berselang, mengandung. Ketika tiba saat melahirkan, ternyata permaisuri mendapatkan kembar buncing yang kemudian diberi nama Cri Masula-Masuli, ucapnya.

Selama ini, lanjut Jro Witera, yang datang ke Pura Kereben Langit adalah pemedek yang berniat untuk nunas keturunan atau ingin sembuh dari penyakit yang dideritanya. “Ada yang sudah 18 tahun menikah, namun istrinya tidak kunjung hamil. Syukurnya ketika usai melukat dan nunas tirta di Pura Kereban Langit, tidak lama kemudian membawa kabar menggembirakan bahwa istrinya sudah hamil,” ujar Jro Witera.

Dia menambahkan, selain nunas keturunan, tidak sedikit yang ingin sembuh dari penyakit seperti kanker, dihantui mimpi buruk, bengkak kaki, stroke, atau penyakit non medis lainnya. “Selain itu, ada juga pejabat, artis, seniman atau atlet yang ingin memenangkan pertandingan, datang untuk melukat ke sini. Jadi selain untuk nunas tamba dan keturunan, memang banyak juga yang ingin mendapatkan taksu dengan melukat di sini,” katanya.

Usai melukat, sembahyang dan nunas tirta, kata Jro Witera, tidak sedikit pula pemedek yang mendapatkan pawisik gaib. Misalnya, ketika ada pasangan yang menginginkan keturunan, menyusul mendapatkan pawisik bahwa permohonannya terkabulkan, atau sebaliknya tidak.

Mengenai pemedek yang permohonannya tidak terkabulkan, lanjut Jro Witera, pada umumnya adalah warga yang di lingkungan rumahnya masih dalam kondisi ‘leteh’ atau pada diri yang bersangkukan sedang ‘kesebelan’.

Dikatakan, para pemedek yang permohonannya terkabulkan, beberapa di antaranya ada yang kemudian membayar kaul dengan ‘ngaturayang’ kain busana atau sepasang tedung berwarna putih kuning.

“Namun saya di sini adalah sebagai pengantar saja. Beliau, Ida Bathara yang berstana di sini yang menentukan, apakah suatu keinginan terkabul atau sebaliknya tidak ?,” ucapnya.

Perlu pemedek ketahui bahwa Bathara yang berstana di Pura Kereben Langin meliputi Bathara Ratu Niang, Ratu Made, Ratu Ayu, Ratu Gede Lingsir, Kanjeng Ratu Batu Bolong dan para Bathara ring Taman Beji.

“Beliau-beliau itulah yang akan mengabulkan atau tidaknya sebuah doa, dan saya hanya penghantar saja,” kata Jro Witera seraya menyatakan bahwa upacara piodalan di Pura Kereban Langit dilangsungkan pada setiap hari Rabu Wage Wuku Ukir.  (LE-BD)

Lenteraesai.id