Karangasem, LenteraEsai.id – Warga yang bermukim di beberapa desa lingkar Gunung Agung, dikagetkan mendengar suara gemuruh yang disinyalir berasal dari dalam perut gunung yang bercokol di wilayah Kabupaten Karangasem, Bali bagian timur.
Suara gemuruh disertai getaran yang bagai sebuah tebing terjal mengalami keruntuhan atau bencana tanah longsor, terdengar cukup ‘tingglis’ pada Kamis (4/2) siang sekitar pukul 10:46 Wita.
Beberapa warga yang tinggal di daerah Pempatan, Menanga, Muncan dan wilayah Selat, mengaku sempat mendengar suara gemuruh yang sebagian besar menduga berasal dari Gunung Agung.
I Made Sumerta, salah seorang warga asal Banjar Batusesa, Desa Menanga, Kecamatan Rendang mengaku mendengar suara gemuruh cukup keras yang berasal dari arah utara dari desanya.
Suara yang diikuti getaran pada bagian permukaan tanah, meski tidak begitu kuat, semula diduga berasal dari bagian tebing terjal yang longsor. “Namun sejauh ini tak ada laporan mengenai adanya tebing yang ’embid’ tersebut, sehingga kuat dugaan suara berasal dari dalam Gunung Agung,” ujar Sumerta.
Senada dengan Sumerta, I Ketut Pande, penduduk Wates Tengah juga mengaku sempat mendengar suara gemuruh cukup keras, tetapi tidak berlangsung lama. “Cuman sebentar. Terdengar dari arah gunung yang siang itu tidak kelihatan karena tertutup kabut,” ujarnya.
Sementara itu, Kalaksa BPBD Kabupaten Karangasem Ida Ketut Arimbawa yang dihubungi terpisah, mengatakan bahwa saat ini kondisi Gunung Agung masih dalam kondisi aktif normal. Dengan kata lain, belum ada laporan tentang adanya peningkatan aktivitas vulkanik dari gunung yang berada di utara Pura Agung Besakih.
“Memang benar pada pukul 10:46 Wita terekam ada gempa hembusan, namun dalam intensitas yang tidak begitu besar,” kata Kalaksa Arimbawa dengan menambahkan, gempa hembusan tersebut merupakan hal yang masih wajar, mengingat sampai saat ini kondisi Gunung Agung masih berada di Level II (Waspada).
Mengenai adanya dugaan suara gemuruh berasal dari Gunung Agung, Kalaksa Arimbawa belum dapat memastikan asal-muasal atau sumber dari kemunculan suara yang sempat didengar penduduk dari sejumlah desa di lingkar gunung tersebut.
“Secara visual, tidak terlihat adanya peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Agung, sehingga belum dapat dipastikan kalau suara gemuruh tersebut berasal dari gunung setinggi 3.142 meter di atas permukaan laut itu,” ucapnya, menjelaskan.
Sehubungan dengan itu, Kalaksa Arimbawa mengimbau masyarakat untuk tidak panik, melainkan tetap tenang dengan tanpa harus mengurangi kewaspadaan. (LE-Jun)







