DenpasarHeadlines

Pembunuh Gadis Teller Bank Dituntut 7,5 Tahun Penjara

Denpasar, LenteraEsai.id – PHAP (14), anak baru gede yang menjadi terdakwa dalam kasus pencurian dengan kekerasan hingga menyebabkan teller bank bernama Ni Putu Widiastiti (25) tewas dengan puluhan lubang bekas tusukan senjata tajam, dituntut hukuman 7 tahun 6 bulan penjara.

Dalam sidang yang digelar secara tertutup di Pengadilan Negeri Denpasar, Kamis (21/1) siang, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ni Putu Widyaningsih yang hadir membacakan nota tuntutan, menjerat terdakwa PHAP dengan Pasal 365 ayat (3) KUHP.

Berdasarkan pasal itu, terdakwa yang terbukti melakukan tindak pidana pencurian dengan kekerasan hingga mengakibatkan orang lain meninggal dunia, sesungguhnya diancam pidana penjara paling lama 15 tahun.

“Tapi karena pelaku adalah anak di bawah umur, maka sesuai degan UU Perlindunhan Anak, hukuman maksimal untuk pelaku anak adalah setengah dari hukuman orang dewasa,” ujar Kasi Pidum Kejari Denpasar, I Wayan Eka Widanta ketika dikonfirmasi mengenai tuntutan 7,5 tahun penjara yang disampaikan JPU di depan persidangan yang dihadiri terdakwa PHAP.

Eka Widanta menyatakan, sebelum menyampaikan tuntutan hukuman penjara selama itu, JPU terlebih dahulu mempertimbangkan hal hal yang memberatkan dan meringankan.

Yang memberatkan, perbuatan si anak di bawah umur tersebut menarik perhatian masyarakat. Dan sudah barang tentu menyebabkan hilangnya nyawa dan harta benda milik korban berupa uang tunai Rp 200 ribu, 1 unit sepeda motor Honda Scoppy tahun 2014 warna merah crem No. Pol DK- 3114-KAR beserta STNK atas nama korban Ni Putu Widiastiti, ucapnya.

“Mohon majelis hakim menjatuhkan pidana penjara selama 7 tahun 6 bulan kepada terdakwa,” ucap JPU pada sidang di hadapan majelis hakim yang diketuai Hari Supriyanto siang itu.

Atas tuntutan tersebut, terdakwa PHAP melalui kuasa hukumnya langsung mengajukan pembelaan secara lisan, yang intinya memohon keringanan hukuman.

Seperti telah diberitakan, sebelum terdakwa/pelaku menghabisi nyawa korban, terdakwa terlebih dahulu mengambil pisau dapur dan menyelipkan di pinggangnya pada hari Minggu (27/12/2020) sekitar pukul 16.00 Wita.

Setelah itu terdakwa/pelaku berjalan menuju rumah korban yang jaraknya kurang lebih 25 meter dari tempat kos terdakwa di daerah Ubung Denpasar. Di sana ia mengawasi keadaan sekitar sembari melihat situasi rumah korban.

Saat itu pintu gerbang rumah korban Ni Putu Widiastiti tertutup dengan kunci gembok hanya tercantol di pintu, sementara korban terlihat berada di halaman belakang rumahnya.

Terdakwa/pelaku kemudian masuk ke rumah korban dengan cara memanjat pagar tembok di sisi sebelah timur rumah korban yang tingginya kurang lebih 2 meter dan langsung masuk ke dalam rumah korban melewati pintu depan rumah yang tidak terkunci.

Sampai di dalam rumah, terdakwa menuju kamar yang berada di lantai bawah dan mencari barang-barang berharga yang ada di kamar tersebut. Namun baru membuka lemari, korban Ni Putu Widiastiti dilihatnya masuk ke rumah dan lewat di depan kamar.

Terdakwa lalu sembunyi di balik pintu kamar, sementara korban Ni Putu Widiastiti langsung naik ke kamar di lantai 2. Setelah korban berada di lantai atas, terdakwa ikut naik ke lantai atas.

Di sana korban berdiri di depan kamar dengan posisi membelakangi terdakwa sambil memainkan handphone. Rupanya korban mengetahui keberadaan terdakwa dan berteriak maling sebanyak 5 kali.

Mendengar itu terdakwa PHAP berlari mendekati korban dan mendorong ke belakang sehingga korban jatuh di atas kasur. Terdakwa kemudian membekap mulut korban dengan menggunakan tangan kiri.

“Ketika korban berusaha melepas bekapan, terdakwa mengambil pisau yang sudah disiapkan dan menusukkan pisau tersebut ke arah paha kiri korban,” tutur jaksa.

Korban berusaha merebut pisau dari tangan terdakwa. Setelah didapat korban menusukkan pisau tersebut ke lengan kiri terdakwa. Namun tak lama terdakwa berhasil merebut pisau dari korban dan kembali menusuk korban kurang lebih 38 kali.

Setelah korban Ni Putu Widiastiti dibuat tak berdaya, terdakwa PHAP  turun ke lantai bawah menuju kamar mandi untuk membersihkan luka bekas tusukan korban di tangan kirinya.

Lantaran darah terus mengalir, terdakwa mengambil jaket kain warna abu-abu milik korban untuk menutupi lukanya. Setelah itu terdakwa naik kembali ke lantai atas untuk mencari barang berharga milik korban.

Di sana terdakwa mengambil uang Rp 200 ribu dari dalam tas warna putih krem milik korban. Terdakwa juga sempat akan mengambil handphone milik korban, namun lantaran berisi sandi, ia mengurungkan niatnya.

Selain mengambil uang, terdakwa juga mengambil sepeda motor milik korban. Setelah itu ia kabur ke rumah temannya yang bernama KAW alias Tata yang tinggal di Pantai Penimbangan, Kabupaten Buleleng.

Oleh KAW, terdakwa PHAP diajak ke tempat kos milik Ros untuk membersihkan luka. Setelah itu terdakwa diajak ke tempat Kansa (DPO) yang membantu menggadaikan sepeda motor hasil curian dari rumah korban senilai Rp 3 juta.

Sementara hasil Visum Et Revertum dokter forensik di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar, mengungkapkan bahwa kematian korban Ni Putu Widiastiti diakibatkan luka tusuk yang bersifat fatal, yakni di dada samping kanan dan tiga buah luka tusuk pada perut kanan atas korban.  (LE-PN)

Lenteraesai.id