Kupang, LenteraEsai.id – Siang itu cahaya matahari bersimbah di hamparan tanah kering dataran Flobamora. Pada siang bersimbah cahaya matahari inilah, terjadi momen bersejarah yang diliputi keharuan, tepatnya pada tanggal 14 Juli 2020 lalu, ketika Jembatan Gantung Bima Sakti diresmikan, yang ditandai dengan pemotongan pita dan penandatanganan prasasti.
Sejumlah warga desa yang menyaksikan nampak menahan haru bercampur gembira, tatkala mimpi untuk memiliki jembatan
yang sudah tersimpan sejak puluhan tahun lalu, akhirnya terwujudkan.
Jembatan gantung ini menghubungkan dua desa, yakni Desa Noepesu, Kecamatan Miomafo Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur dan Desa Bonleu, Kecamatan Tobu, Kabupaten Timor Tengah
Selatan.
Jauh sebelum Jembatan Gantung Bima Sakti ini dibangun oleh TNI melalui Satgas Pamtas RI-RDTL Sektor Barat Yonif 132/BS, setiap hari siswa dan warga Desa Noepesu dan Bonleu harus bertaruh nyawa ketika melintasi Sungai Noebesi. Siswa dan warga tidak memiliki pilihan lain, mesti menguatkan tekad karena harus melintasi titian bambu yang diikat tali, untuk melintasi atas sungai yang dikenal berarus deras. Bebatuan di Sungai Noebesi pun terbilang besar-besar, sehingga sulit untuk dilintasi.
Salah seorang guru dari Desa Bonleu, Soleman I Bay menuturkan, keberadaan jembatan Bima Sakti benar- benar dibutuhkan siswa, guru atau penduduk Desa Noepesu dan Bonleu. Sungai Noebesi selama ini dikenal berarus ganas, khususnya jika musim penghujan tiba.
“Kami sangat takut melewati jembatan bambu di atas sungai, karena kondisinya darurat. Apalagi beberapa warga nyawanya sudah melayang karena terseret arus deras saat Sungai Noebesi banjir. Kalau tidak salah terjadi tahun 2011, 2012 dan 2014. Yang terakhir, ada dua nona yang hendak menyeberang. Ketika dilihatnya arus sungai masih deras, mereka duduk menunggu di atas batu di pinggir sungai. Tak disangka kemudian datang air bah, sehingga tidak terelakkan salah satu dari nona itu terseret air dan akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia,” kata Soleman, guru honorer di SMP Katolik Santo Yoseph Freinademetz Kapan, dengan ekspresi berduka.
Soleman melanjutkan, setiap hari siswa-siswa harus melewati jembatan bambu, karena memang hanya itu satu-satunya akses jalur penghubung menuju sekolah. Para orang tua sebenarnya terhinggapi kengerian karena melihat buah hatinya bertaruh nyawa, namun untuk mengantarkan setiap hari melintasi jembatan bambu, tentu memakan waktu sementara mereka harus membanting tulang untuk bekerja mencari nafkah.
“Ketika kami mendengar kabar jika pembangunan itu ditargetkan berlangsung selama dua minggu pada program TMMD, kepala desa antusias mengumumkan untuk ikut kerja bakti gotong royong dengan mengutus warga dua RT. Inilah semangat kami warga desa karena memang sudah lama memimpikan jembatan untuk melewati Sungai Noebesi. Syukurlah jembatan ini terwujud, benar-benar kami sampaikan terima kasih kepada Bapak Tentara atas persembahan jembatan ini. Siswa tidak trauma lagi kalau berangkat sekolah,” kata Soleman mengungkapkan kegembiraannya.
Sementara itu, Dansatgas Pamtas RI-RDTL Yonif 132/BS Letkol Inf Wisyudha Utama menyatakan bahwa rasa tergugah yang dirasakan sejumlah personel Satgas Yonif 132/BS untuk membangun jembatan, terdorong keprihatinan melihat warga dan siswa di perbatasan RI – Republik Demokratik Timor Leste (RI-RTDL), yang setiap hari harus berjibaku menahan ketakutan ketika melewati jembatan darurat dari bambu.
“Sebelumnya ada jembatan gantung, tetapi sudah terputus karena terjangan banjir di sungai. Melihat kondisi keprihatinan siswa dan warga, para personel akhirnya tergerak ingin membuatkan jembatan gantung. Apalagi sudah ada korban jiwa. Dengan adanya jembatan gantung ini, diharap tidak ada lagi korban jiwa di kemudian hari,” ujar Dansatgas.
Jembatan gantung ini sepanjang 80 meter dengan lebar sekitar 1,2 meter, memakai konstruksi kayu yang diikatkan pada menara besi. Jembatan dilengkapi dengan pelindung tangan setinggi 75 centi meter, yang dibangun hasil kerja sama antara Satgas Pamtas RI-RDTL Yonif 132/Bima Sakti dengan Vertical Rescue Indonesia (VRI).
“Jembatan ini diberi nama Bima Sakti, dengan harapan masyarakat setempat bisa mengingatnya dengan mudah. Dan seusai tugas kami nanti, semoga warga dapat mengenang kami jika sedang memandang atau melewati Jembatan Gantung Bima Sakti. Inilah persembahan kami, semoga bisa meringankan warga, sehingga tidak ada lagi yang mengalami hal berbahaya ketika menyeberangi Sungai Noebesi,” ujar Dansatgas. (Tri Vivi Suryani)







