Denpasar, LenteraEsai.id – Pasraman Purwa Dharma 6, tempat pendidikan anak bagi umat Hindu yang terletak di Dusun Sambirejo, Desa Sambimulyo, Kecamatan Bangorejo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, dirusak oleh orang tidak dikenal pada akhir Januari 2020.
Akibatnya, sejumlah buku pelajaran dan 5 kitab suci agama Hindu mengalami kerusakan. Kitab suci yang ditemukan telah rusak dan acak-acakan, antara lain Bhagavad Gita, Yajurveda, Atharwaweda, Pancaweda, dan Regveda.
Selain itu, pelaku juga mencoret-coret dinding ruang belajar, papan tulis, meja dan kursi siswa. Bahkan papan tulis dicoret-coret dengan gambar tidak senonoh. Buku-buku siswa dipotong-potong, seperti menggunakan pisau cutter.
Menanggapi hal tersebut, mantan Sekjen Laskar Bali I Ketut Putra Ismayajaya mengaku sangat menyayangkan kejadian itu.
“Perusakan semacam itu sudah lima kali terjadi. Seperti tidak ada kepedulian dari umat agama lain. Kita kan NKRI, menganut Pancasila. Mestinya saling menghargai,” ujar pria yang akrab dipanggil Keris ketika dihubungi di Denpasar, Rabu (5/2/2020).
Dia melanjutkan, semestinya umat non-Hindu yang tinggal di Bali, dapat menyampaikan kepada keluarga atau tokoh agama mereka masing-masing, bahwa di Bali umat berlainan agama selalu diperlakukan dengan sangat baik.
“Jika ada sekolah atau tempat ibadah non-Hindu di Bali, kita malah mendukung. Sama sekali tidak pernah mengusik atau mengganggu, apalagi harus merusaknya,” kata Keris.
Pada akhir penjelasan, ia menegaskan, semestinya sebagai anak bangsa itu saling menghargai. “Harusnya tidak ada perbedaan dalam memperlakukan setiap anak bangsa,” ujar dia, menandaskan. (LE-DP)







