Singaraja, LenteraEsai.id – Drs I Gusti Agung Oka Yadnya MPd, Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan dan Pemuda Kabupaten Buleleng, berhasil menciptakan sebuah aplikasi (website) pendukung sistem pendidikan digital.
Ciptaannya itu berawal dari kekhawatiran terjadinya ancaman lost learning bagi para siswa atau peserta didik selama pandemi Covid-19 yang sampai saat ini belum juga berakhir.
Hasil karya Oka Yadnya telah dinobatkan sebagai salah satu karya terbaik dalam kegiatan akhir tahun yang digelar Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Bali.
Kegiatan bertajuk ‘Diseminasi Pemetaan Mutu, Supervisi dan Pendampingan Sekolah Berdasarkan Standar Nasional Pendidikan (SNP)’ yang dimotori LPMP Bali itu, diikuti berbagai praktisi di bidang pendidikan. Baik dari kalangan guru, kepala sekolah, maupun pengawas sekolah se-Bali, bertempat di Conrad Hotel Tanjung Benoa, Nusa Dua, Kabupaten Badung pada 29 November sampai 2 Desember 2021 lalu.
Pada kesempatan tersebut, Oka Yadnya tampil mengisi urutan ke-6 mempresentasikan karya terbaiknya (best practices) berjudul “Penerapan ‘Sarang Sasi’ dalam pendampingan sekolah untuk meningkatkan kinerja guru”.
Saat pemaparan karyanya di hadapan peserta lainnya, pengawas sekolah yang belum lama ini meraih jabatan Ahli Utama, mendapat perhatian serius, sambutan dan apresiasi baik dari juri maupun peserta lainnya. Bahkan, tidak sedikit yang bertanya langsung tentang cara membuat aplikasi tersebut dan ingin mengembangkan di tempat kerjanya.
Ditanya tentang alasan pembuatan aplikasi itu, ayah dari dua anak dan telah memiliki tiga orang cucu ini menuturkan, selama pandemi Covid-19 sesungguhnya guru-guru telah berusaha melaksanakan pembelajaran jarak jauh (daring) dengan berbagai versi, sesuai dengan kemampuannya. Ada yang menggunakan berbagai platform digital pendukung pembelajaran daring, tetapi tidak sedikit pula hanya mengandalkan WhatsApp Group (WAG).
Menutut dia, tidak dapat dipungkiri masih ada guru yang bingung memilih model pembelajaran daring mana yang cocok untuk digunakan. Kalau ini dibiarkan, tentu akan terjadi kesenjangan dalam tingkat pemahaman konsep pelajaran dan kemajuan belajar anak. Ini rawan terjadinya pembelajaran yang hilang (lost learning), yang dalam jangka panjang dikhawatirkan memicu timbulnya fenomena generasi yang hilang (lost generation).
“Guna mengantisipasi kebingungan guru dalam memilih platform digital pembelajaran daring, menjadi alasan utama bagi saya untuk membuat website pendukung pendidikan ini,” kata Agung Oka Yadnya menjawab pewarta LenteraEsai.id (LE) via Whatshapp Kamis malam, 9 Desember 2021.
Ditambahkan, sebagai pengawas sekolah, Oka Yadnya setiap hari mengaku menemukan kendala bagi sekolah binaannya dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ). “Makanya saya merasa terpanggil untuk membantu sekolah dalam menyelesaikan permasalahan yang cukup krusial ini,” karanya.
Oka Yadnya menyebutkan bahwa permasalahan PJJ saat ini yang dirasakan sekolah binaannya lebih menonjol pada permasalahan teknis. Oleh karena itu, solusinya tentu pada dukungan teknis, yaitu berupa program aplikasi yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan sekolah.
Akhirnya dirancang sebuah program aplikasi komputer yang mudah diakses dan dioperasikan para guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah.
Program tersebut dibuatnya menggunakan fasilitas yang sudah disiapkan oleh Google dalam Google drive-nya. Menurut pendidik asal Desa Bongkasa, Kabupaten Badung itu, program aplikasi pendukung pendidikan digital ini sengaja dibuat berbasis website. Agar dapat digunakan kalangan pendidik lewat smart phone.
Dikatakan, salah satu hal menarik dari program aplikasi ini adalah bersifat interaktif dan kolaboratif. Sifat interaktifnya memungkinkan pihak sekolah dapat melakukan interaksi multi arah. Unsur kolaboratifnya tampak kental pada proses pembuatannya. Menariknya lagi, website ini tidak berbayar (free) walaupun dapat diakses publik di mana saja, kapan saja dan dengan perangkat apa saja, asalkan dapat digunakan untuk akses internet.
Oka Yadnya yang memiliki pengalaman panjang menjadi guru dan kepala sekolah, tahu persis kesulitan yang dihadapi sekolah terutama dalam pembelajaran jarak jauh. Selama ini sering ditemukan adanya permasalahan tentang minimnya pengalaman dalam menggunakan platform digital bagi beberapa guru. Oleh karena itu, penerima Widya Kusuma tahun 2017 ini sengaja merancang website-nya agar dapat mendorong para guru belajar menggunakan aplikasi komputer. Bahkan, dalam konteks ini guru dituntut untuk membuat progam aplikasi sendiri sesuai dengan kebutuhan pembelajaran di kelasnya.
Program aplikasi yang dibuat masing-masing guru ini selanjutnya digandengkan dengan program aplikasi buatan pengawas sekolah untuk menjadi website sekolah yang utuh. Ini berarti website pendukung pendidikan digital ini bersifat kolaboratif, di mana satu orang guru memiliki andil satu aplikasi buatannya sendiri, ucapnya.
Karenanya, wajar kalau pada halaman depan website temuan Oka Yadnya itu tertera tulisan ‘Sarang-Sasi’, yang merupakan akronim dari ‘satu orang-satu aplikasi’. (LE/Ima)







