Samarinda, LenteraEsai.id – Sekretariat DPRD Kabupaten Badung, Bali pada 4-7 September 2024 melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Kabupaten Kalimantan Timur (Kaltim). Saya nyempil di antara 45 orang rombongan. Delegasi yang dipimpin Kabag Keuangan Sekretariat DPRD Badung I Putu Ngurah Thomas Yuniarta itu sebelum kunjungan resmi menyempatkan tangkil ke Pura Payogan Agung Kutai di Kecamatan Tenggarong, Kaltim.
Rombongan yang terdiri dari pegawai Sekretariat DPRD Badung dan awak media massa tersebut terlambat mendarat di Bandara Udara Sepinggan. Penyebabnya lantaran pesawat Lion Air yang ditumpangi dari Bandara Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali delay kurang lebih dua jam. Kami baru menginjakkan kaki di Tanah Borneo (sebutan bagi Pulau Kalimantan, Red) sudah malam. Selanjutnya rombongan langsung menuju ke Pura Payogan Agung Kutai di Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kaltim dengan menumpang bus. Kata pemandu wisatawan lokal, Pak Sugeng perjalanan dari bandara ke Pura Payogan Agung sekitar tiga jam. Karena faktor waktu, ganti pakaian dari pakaian bebas ke pakaian sembahyang pun dilakukan di jalan atau di nista mandala (jaba luar) Pura.
Bus yang ditumpangi rombongan tidak bisa langsung masuk ke areal Pura Payogan Agung Kutai. Lantaran banyak kabel-kabel melintang relatif rendah di atas jalan. Kalau dipaksakan pasti kabel-kabel itu digeret badan bus. Walau harus berjalan sekitar 300 meter dari tempat parkir bus menuju lokasi pura, rombongan tetap bersemangat termasuk ibu-ibu. Jalan yang dilalui tampak belum diaspal, hanya dari batu putih. Kondisinya pun tidak rata.
Tidak begitu lama kami menginjakkan kaki di areal Pura Payogan Agung Kutai, Kaltim. Di Nista Mandala (jaba luar) terdapat bangunan wantilan tidak terlalu besar dan toilet. Wantilan adalah tempat masandekan (istirahat) bagi umat Hindu yang akan sembahyang. Bangunan itu juga dipakai untuk pementasan hiburan dan kegiatan lainnya.
Pura Payogan Agung terletak di ketinggian Bukit Sedayu, Tenggarong,Kaltim. Memasuki pemedal yang menghubungan Nista Mandala dan Madya Mandala (jaba tengah) melintasi tangga, terdapat kori Agung yang megah ditatah ukiran khas Bali. Juga terdapat patung Gajah dan patung-patung lainnya. Di Madya Mandala terdapat bangunan Bale Lantang dan sejumlah pelinggih.
Sedang di Utama Mandala (jeroan), pelinggih lebih banyak, seperti Padmasana, pepelik kanan kiri, gedong dan lainnya. Areal tempat sembahyang dipasang ubin dan dengan penerangan yang memadai. Disana sudah menunggu Jro Mangku Alit lanang istri dan Jro Mangku Gede Ida Bagus Made Agung Dwija Tenaya.
Setelah upakara ditaruh di pelinggih masing-masing, persembahyangan dimulai dipimpin Jro Mangku Gede. Persembahyangan diawali dengan Puja Tri Sandya, disusul panca sembah. Terakhir nunas tirta dan bija. Malam persembahyangan di Pura Payogan Agung Kutai berlangsung sangat khusuk. Angin malam pun mendesir menerpa tubuh setiap pemedek dari DPRD Badung tersebut.
Dibangun mulai tahun 1991:
Menurut Jro Mangku Gede Ida Bagus Made Agung Dwija Tenaya, pembangunan Pura Payogan Agung Kutai dimulai tahun 1991. Pembangunan Pura ini diprakarsai umat Hindu asal Bali yang bertugas di Kepolisian dan TNI di Kalimantan. Yakni mewujudkan keinginan umat Hindu yang ada di Kalimantan Timur.
“Pada mulanya tokoh-tokoh pemrakarsa pembangunan Pura gagal mencari tempat yang sesuai persyaratan. Kemudian pemrakarsa berinisiatif menghadap ke SultanTenggarong untuk minta restu. Beliau pun menyambut baik dan memberi restu. Bupati Kutai (sekarang Kutai Kartanegara Red) juga mendukung umat Hindu mendirikan Pura. Waktu itu Sultan memberi beras kuning,” papar Jro Mangku Gede.
Kemudian lokasi pembangunan Pura yang sesuai ketentuan ditemukan di tempat sekarang. Lahan yang dibeli ketika itu hanya 25 are. Sesuai perkembangan jaman, areal Pura Payogan Agung sekarang mencapai satu hektar. Pembangunan berproses terus, tahun 2001 baru rampung. Tahun itu juga dilaksanakan upacara pemelaspas di puput Ida Sulinggih. Pujawali di Pura ini berlangsung setiap Purnama Sasih Kepitu. Pengempon Pura umat Hindu Provinsi Kalimantan Timur. Umat Hindu di daerah itu sekarang kurang lebih 600 orang.
Pewarta: I Made Astra
Redaktur: Laurensius Molan







