HeadlinesKarangasem

Kisah Komang Supartini, Berhasil Bangkit Usai Kesetrum Listrik Sampai Lumpuh

Karangasem, LenteraEsai.id – Kisah hidup Ni Komang Supartini sungguh memilukan. Kepedihan demi kepedihan tak lepas mengiringi perjalanan hidupnya, bahkan sejak masih berusia balita. Kehilangan ayahanda di usia 2 tahun, berlanjut mengalami musibah tragis kesetrum aliran listrik sampai terpental cukup jauh, dan harus dirawat berbulan-bulan di rumah sakit.

Supartini mengaku sempat merasa patah arang dalam menjalani hidup yang penuh derita ini, alias tidak punya semangat sama sekali untuk melakoni perjalanan hari demi hari.

“Ya, tahun 2016 saya mengalami musibah karena kesetrum listrik. Waktu itu sekitar pukul 23.00 Wita, sedang musim pertandingan bola Piala Dunia. Kakak sangat semangat menonton, namun siaran televisi terlihat buram. Kakak kemudian membenahi antena dan meminta Ibu untuk memegangi bambu yang merupakan tiang dari antena tivi,” ucapnya.

“Ketika itu saya di teras, akhirnya bangkit dari duduk dan berisiniatif ikut membantu memegangi bambu. Saat itulah, tiba-tiba saya merasakan ada suara ledakan dan badan saya seketika sangat panas. Menyengat. Saya terpentak kemudian tersungkur di halaman rumah. Ibu dan kakak langsung melarikan saya ke dokter terdekat, namun harus dirujuk ke rumah sakit di Karangasem dan berlanjut dibawa ke rumah sakit di Sanglah, Denpasar,” ujar Supartini ketika ditemui di rumahnya Banjar Pegubugan, Manggis, Karangasem, pada Minggu (11/2/2024) siang.

Belakangan diketahui, ujung bambu yang dipakai tiang antena televisi yang dalam kondisi basah terguyur air hujan itu, nampaknya teraliri setrum setelah menyentuh kabel aliran listrik bertegangan cukup tinggi, yang membentang di atas rumah keluarga Supartini.

Di Rumah Sakit Sanglah, lanjut gadis yang kini telah berusia 28 tahun, dirinya dirawat selama enam bulan. Berkali-kali menjalani operasi, sampai kemudian dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang. Saat di rumah, ternyata gadis ini mengalami infeksi kuman sehingga kembali harus menjalani perawatan di rumah sakit. Perawatan opname yang kedua ini berlangsung selama dua bulan, sampai akhirnya Supartini kembali dinyatakan pulih kesehatannya dan diperbolehkan pulang ke rumah.

Meski telah dinyatakan pulih, bukan berarti kondisi Supartini benar-benar selayaknya orang normal. Saat itu, Supartini tidak bisa menggerakkan kedua kakinya, sehingga kalau berjalan harus ‘ngesot’ dengan menggunakan alas ban bekas sebagai bantalan di pantatnya.

“Saya terpuruk. Sedih. Trauma. Bukan kepalang sedihnya minta ampun. Tadinya saya sudah bekerja di minimarket, akhirnya harus menjalani masa-masa kehidupan baru sebagai gadis yang tidak normal lagi,” katanya, lirih.

Pada tahun 2018, berkat perawatan penuh kasih dari Sang Ibu, perlahan-lahan Supartini mulai bisa menegakkan badan di atas kedua kakinya, meski harus dilatih berkali-kali dengan kesabaran. Perkembangan ini membuat semangat hidupnya bangkit kembali.

“Syukur sekali sekarang sudah bisa berjalan, tapi tidak boleh jauh-jauh dan harus perlahan karena kondisi kaki memang tidak seperti dulu. Akibat kesetrum juga membuat otot kaki menjadi kaku, sehingga jari-jari susah digerakkan. Tapi apapun itu, saya tetap bersyukur dengan perkembangan ini. Saya bisa bergerak lagi menggunakan kedua kaki, itu sangat membuat saya tak henti mengucap terima kasih pada Hyang Widhi,” ujarnya dengan sorot mata berkaca-kaca.

Kini, Supartini hanya tinggal berdua bersama kakak yang bekerja sebagai buruh. “Kakak pertama kerja di Denpasar, sedang kakak kedua inilah yang menemani tinggal di rumah. Ibu sudah meninggal dunia tahun 2022 lalu. Meninggal mendadak mungkin karena kecapekan. Seperti ayah dulu yang juga meninggal mendadak karena jatuh dari pohon wani, kan ayah dulu bekerja sebagai buruh panjat untuk petik buah,” kata Supartini.

Tak mau larut dalam kubangan duka, Supartini saat ini setiap hati tekun membuat ‘porosan’ untuk dijual. “Saya membuat porosan dan dijual secara online melalui media sosial. Selain menjual porosan, saya mencoba berjualan produk lain seperti baju adat Bali. Nanti selesai kerja meburuh, kakak saya yang mengantarkan pesanan orang yang membeli porosan atau busana adat. Pokoknya saya terus berusaya memberdayakan diri biar tidak terus-terusan sedih dengan kondisi fisik saya. Waktunya untuk bangkit,” ucap Supartini. Kali ini dengan nada dan mimik wajah yang penuh semangat.

Pewarta: Vivi Suryani
Redaktur: Laurensius Molan

Lenteraesai.id