Karangasem, LenteraEsai.id – Gempa yang mengguncang Kabupaten Karangasem, Bali pada Selasa (13/12/2022) sore, telah membuat kepanikan bagi warga di sejumlah desa. Bagaimana tidak, gempa terjadi tak hanya sekali, namun sampai puluhan kali. Bahkan, sempat gempa susulan lebih besar getarannya dari gempa awal, yakni mencapai 5,2 magnitude.
Menurut pihak BMKG, gempa yang pada puncaknya berkekuatan M=5,2 dirasakan hampir di seluruh Bali. Pusat gempa bumi yakni di Kabupaten Karangasem, Bali dengan titik koordinat 8.24LS, 115.60BT, 14 km timur laut Karangasem, di kedalaman 10 km.
Meski dikatakan tidak ada potensi tsunami, namun getaran gempa membuat masyarakat yang berada dekat dengan pusat gempa menjadi was-was. Bahkan sejumlah warga mengaku trauma hingga tidak dapat tidur nyenyak. Masalahnya, gempa masih melanda sejak sore hari hingga tengah malam. Bahkan sampai Rabu (14/12/2022) pagi, geratan gempa masih dirasakan masyarakat.
Sebagian besar warga di Dusun Baturinggit Kelod, Desa Baturinggit, misalnya, memilih untuk menggelar kasur di luar rumah karena tidak berani untuk tidur di dalam kamar. I Made Sutama (64), salah seorang warga yang sempat disambangi media ini, menceritakan kekalutannya ketika kembali terjadi gempa di malam harinya. “Salah satu anggota keluarga kami terkena reruntuhan bangunan saat menyelamatkan anaknya,” ujar Sutama.
“Anak saya yang selamatkan cucu saya, sempat terkena reruntuhan genteng yang ambruk. Jadi dia panik, lari untuk menyelamatkan cucu saya yang umurnya 5 tahun. Kala itu tiba-tiba genteng rumah rontok, dia melindungi kepalanya dengan lengan. Untung saja tidak kena kepala, hanya luka ringan di lengan. Sekarang sudah diobati dan sudah dapat bekerja,” ungkapnya.
Pascakejadian tersebut, Sutama dan keluarga mengaku masih trauma karena masih merasakan adanya getaran gempa dalam berkali-kali hingga hari ini. Ia dan anggota keluarga lainnya belum berani masuk ke dalam rumah. Untuk tidur, mereka menggelar kasur di emperan di luar kamar.
Sementara dua cucu Sutama yang masih berusia 5 dan 12 tahun, tidak berani masuk sekolah, menunggu guncangan gempa tidak terjadi lagi, dan situasi kembali kondusif.
Tetangga Sutama, yakni I Nengah Suci (49) mengatakan hal yang sama. Pihaknya terpaksa tidak tidur atau begadang pada malam kejadian, dan berkumpul di emperan depan rumah bersama para tetangga lainnya.
Akibat gempa yang terjadi secara berturut-turut sejak Selasa (13/12) sore, telah mengakibatkan belasan rumah warga di Baturinggit Kelod mengalami kerusakan, yakni bagian atap rontok dan tembok rumah retak-tetak. Sanggah milik warga pun ada beberapa yang roboh. (LE-Ami)







