Amlapura, LenteraEsai.id – Belayag khas Karangasem, yang adalah salah satu kuliner legendaris di wilayah Bali bagian timur, hingga kini masih tetap bertahan di kalangan pembeli tanpa pernah tersingkir oleh berbagai jenis penganan modern yang belakangan muncul di pasaran.
Belayag yang diperdagangkan di Warung Mek Sambru di Jalan Raya Gajah Mada Amlapura, ibu kota Kabupaten Karangasem, hingga kini tak pernah sepi pembeli sejak warung itu berjualan pada tahun 1967 silam.
Penjualnya bernama Ni Made Sambru, yang akrab dipanggil Mek Sambru, adalah seorang ibu rumah tangga berusia 78 tahun. Setiap harinya ia menggelar dagangan di pinggir trotoar kota. Tempatnya sangat sederhana, namun pembeli belayag ini nyaris tak pernah surut berdatangan.
Menariknya, pembeli tidak hanya datang dari berbagai daerah di Karangasem, namun dari luar kabupaten itu tidak sedikit juga yang memborong buah tangan Mek Sambru untuk dibawa pulang.
Di tengah sinar lembut mentari pagi pada Selasa (23/8/2022), terpantau Mek Sambru begitu cekatan berjualan dengan tetap memakai pakaian tradisional berupa kebaya dan kamben jadulnya. Mek Sambru mengatakan jika dirinya sudah mulai berjualan belayag sejak lebih dari 55 tahun silam, yakni sejak usianya baru menginjak remaja.
Belayag menjadi pilihan menu untuk dijual, terinspirasi dari ibu kandung Mek Sambru yang sering membuat belayag di rumah. Dari semasih gadis hingga saat ini sudah memiliki cucu, ia masih setia menjual belayag, yakni penganan yang terbuat dari beras dibungkus daun kelapa muda. Ada pula yang dicampur dengan ketan.
“Saya tidak mau kuliner belayag yang sudah saya rintis sejak tahun 1967 hilang begitu saja. Sehingga saya sangat berharap bisnis ini bisa diteruskan oleh anak, ponakan, dan bahkan cucu saya,” katanya dengan bahasa Bali yang medok.
Seporsi belayag dihargai Rp20.000, jika makan di tempat. Isi menunya berupa belayag dengan berbagai lauk seperti tempe, plecing, ayam goreng, ayam kare, ayam tok-tok, telur, urab, saur, sate ayam, kuah santan, dan lainnya. Sedangkan jika dibawa pulang, pelanggan dapat membeli mulai harga Rp10 ribuan saja. Di samping itu, pelanggan bebas memilih lauk sesuai selera.
Pelanggan belayag Mek Sambru bukan saja berasal dari Kota Amlapura atau berbagai deerah lain di Kabupaten Karangasem, namun tidak sedikit yang beradal dari Klungkung, Bangli, Denpasar, Badung, dan daerah lain di Bali.
Sehubungan dengan rasanya yang gurih dan khas, telah membuat kuliner Mek Sambru menjadi begitu dikenal dari mulut ke mulut, sehingga tak jarang rombongan tamu datang dari luar Karangasem untuk memborong belayag dari pusat kota di Amlapura itu.
Selain itu, Mek Sambru juga mengaku sering mendapat pesanan untuk acara hajatan dan lainnya dari para pelanggannya. Dengan begitu, ia menyebutkan selama musim pandemi ini masih mampu meraih omzet yang mencapai Rp1,5 sampai Rp2 juta per-harinya.
Ke depan, Mek Sambru berharap usahanya ini dapat diteruskan oleh keluarganya, sehingga kuliner legendaris khas Gumi Lahar ini tidak sampai musnah di masyarakat, mengingat jumlahnya kini sudah semakin menghilang di pasaran. (LE-Ami)







