TMMD ke-114, Kisah Warga yang Relakan Lahan untuk Perluasan Jalan Desa Sangketan

Kebersamaan warga bergotong royong bersama Satgas TMMD ke-114 di wilayah Banjar Anjar, Desa Sangketan, Kecamatan Penebel, Tabanan, Bali (Foto: Dok Kodim 1619/Tabanan)

Tabanan, LenteraEsai.id – Langit membujur mendung pada pertengahan Agustus 2022 di bentang perbukitan wilayah Banjar Anyar, Desa Sangketan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali.

Sejak pagi, puluhan lelaki desa nampak tengah berkumpul di sepanjang jalan yang membentang membelah Banjar Anyar. Mereka mengenakan sandal jepit yang sebagian berlumur lumpur, dan mengayun cangkul dengan sekuat tenaga untuk membantu meratakan tanah litosol berkerikil di areal jalan Banjar Anyar.

Bacaan Lainnya

Percik-percik kegembiraan nyata terlihat pada rona wajah warga, mengingat perbaikan jalan yang merupakan program TNI Manunggal Masuk Desa (TMMD) ke-114 dan dilaksanakan Kodim 1619/Tabanan ini, memang sudah lama ditunggu-tunggu warga.

Berpuluh tahun lalu, warga bahkan ‘menabung’ selaksa harapan agar jalan desa tidak lagi menghadirkan perih di musim penghujan karena susah dilewati. Selain licin dan becek bergenang air, jalan itu tidak terlampau lebar sehingga apabila ada mobil berpapasan maka membutuhkan keterampilan tersendiri untuk bisa melintas tanpa kendaraan saling berserempetan.

Tidak mengherankan, begitu Kepala Dusun Banjar Anyar mengumumkan bahwa jalan desa segera dibangun, seketika gelombang kegembiraan menghangatkan hati warga yang tinggal di wilayah perbukitan yang bercuaca dingin itu.

Bahkan, demi segera terealisasinya perbaikan jalan yang sudah puluhan tahun menjadi gambaran di angan-angan ini, tidak sedikit warga yang dengan suka rela memberikan tanahnya untuk digunakan pelebaran jalan.

“Jalan yang sekarang tengah dibangun ini, semula lebarnya 2,5 meter dan dalam keadaan banyak rusak berlubang, sehingga menyulitkan warga jika ingin membawa hasil panen ke pasar. Bersyukur sekarang jalannya dilebarkan menjadi 6 meter dan sudah dibeton sehingga tidak becek lagi ketika musim hujan,” kata Wayan Jarwa (47) selaku Kepala Dusun Banjar Anyar.

Betonisasi jalan sepanjang 1.150 meter yang dilakukan penuh semangat dan sarat keakraban antara TNI dengan rakyat. (Foto: Dok Kodim 1619/Tabanan)

Menurut Wayan Jarwa, memang sudah lama warga menunggu-nunggu langkah konkret perbaikan jalan yang menjadi penghubung antara Desa Sangketan-Kecamatan Penebel menuju Desa Wanagiri-Kecamatan Selemadeg. Namun apa daya, berhubung dana desa terbatas sehingga harapan warga memiliki jalan yang lebih layak ini tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk mewujudkannya.

Tahun demi tahun berganti. Warga tetap tabah menebarkan doa ketika melewati jalan berlumpur dan kadang tergenang air di desanya. Sampai akhirnya pada tahun 2022 ini, tebaran doa bersambut, dengan adanya program TMMD ke-114.

Tidak mengherankan, kehadiran para Satgas TMMD di Banjar Anyar, meletupkan keceriaan bagi warga. Segenap warga dengan suka cita menyambut personel yang menginap di rumah-rumah mereka, dan akhirnya tercipta kebersamaan selayaknya keeratan jalinan keluarga.

“Di rumah saya ada 13 anggota Satgas yang tinggal selama masa TMMD ini. Hubungan dengan Satgas TMMD sudah seperti keluarga sendiri saking dekatnya. Kami makan atau ngopi bersama jika pekerjaan sudah selesai, sambil membahas berbagai hal mengenai program TMMD. Lancarnya komunikasi warga dengan anggota Satgas TMMD, membuat kami sama sekali tidak berat memberikan beberapa are lahan untuk perluasan jalan,” kata Wayan Jarwa.

Kepala Dusun Banyar Anyar selanjutnya menuturkan, tanpa paksaan sedikitpun sejumlah warga malah menawarkan tanah miliknya, supaya jalan yang diidamkan warga dapat terealisasi dengan segera dan dapat  digunakan untuk beraktivitas dalam keseharian.

“Lahan pribadi keluarga juga saya ikhlaskan sekitar 10 are, dan saya justru bersyukur dapat berkontribusi dalam TMMD ini. Sejumlah warga Banjar Anyar juga tidak keberatan dan tidak meminta biaya ganti rugi atas tanah yang digunakan untuk perluasan jalan. Inilah salah satu bentuk keikhlasan kami supaya jalan yang menjadi harapan kami semua ini dapat lancar terwujud,” katanya.

Menurut Jarwa, dengan adanya jalan yang diperbaiki ini, membuat pengembangan potensi wilayahnya menjadi lebih maksimal.

“Selama ini kami sudah mulai merintis pembentukan desa wisata untuk meningkatkan taraf perekonomian. Jadi sebagian besar warga kan profesinya bertani, menggarap kebun yang ditanami duren, dan beberapa jenis buah-buahan lainnya. Nah, di tengah-tengah kebun itu kami membangun pondok petani yang disewakan kepada wisatawan lokal maupun asing,” kata Jarwa, antusias.

Dia melanjutkan, pondok petani itu disewakan harian atau bulanan dengan harga terjangkau. Kalau harian, disewakan Rp150 ribu dan kalau bulanan mencapai Rp2,5 juta – Rp3 juta.

“Sebelum pandemi Covid-19, mulai ada tamu meski belum kontinyu. Sesekali ada keluhan karena memang kondisi jalan di dusun kami belum kondusif. Makanya dengan perbaikan jalan ini, tentu warga berlipat girangnya. Selain mengangkut hasil panen jadi lebih mudah, dan pemedek bersembahyang ke Pura Pucak Sari tidak lagi menemukan problema, juga wisatawan yang ingin menikmati pemandangan menghijau di Banjar Anyar tidak terkendala dengan kondisi jalan yang memprihatinkan,” ucapnya.

“Dulu itu kalau ada mobil, harus bergantian lewat karena lebar jalan hanya 2,5 meter dan kondisi masih sebagian berlubang. Sekarang, dengan diperlebarnya badan jalan dan dibeton, tentu dengan mudah dapat dilalui dua mobil yang saling berpapasan,” kata Jarwa sembari nenambahkan, kondisi jalan yang kini sangat memadai, membuat warga semakin bergairah untuk mengembangkan dunia wisata dan pembangunan lainnya di desa.

Sejarah Sangketan

Kepala Dusun Jarwa serta merta menceritakan, pada zaman dahulu sebelum menjadi Banjar Sangketan, daerah ini masih merupakan hutan belantara dan semak belukar. Dan pada zaman Kerajaan Tabanan, di sini sudah ada penduduk tetapi dusun ini ini diberi nama Sangkedan, yang artinya tempat beristirahat.

Pada waktu Raja Tabanan melakukan perjalanan berburu di hutan, sang raja selalu beristirahat di Banjar Sangkedan yang dipimpin oleh seorang kelian banjar bernama Nang Mudri

Suatu hari tersiar kabar dari mulut ke mulut, kalau Raja Tabanan sedang sakit keras. Menurut para cendikiawan dan para pengabih raja, disebutkan bahwa Raja Tabanan bisa sembuh apabila nanti ada asap yang mengepul di tengah hutan belantara dan semak belukar, karena di sanalah nanti akan ditemukan obat untuk raja. Maka diperintahkanlah pengabih raja untuk mencari tempat yang dimaksud.

Dalam perjalanan menelusuri hutan, pengabih raja melihat asap mengepul dari celah-celah rimbun pepohonan. Begitu ditelusuri, ternyata sumber asap itu berada di hutan di sebelah utara dari Banjar Sangkedan. Bersamaan dengan itu, benar ditemukan sesuatu untuk obat bagi sang raja. Karenanya, sampai saat ini tempat tersebut diberi nama Pura Luhur Tamba Waras. 

Sejak itu, setiap Raja Tabanan melakukan perjalanan ke Pura Luhur Tamba Waras mencari obat, rombongan selalu beristirahat di Banjar Sangkedan. Dan pada zaman penjajahan Belanda, Banjar Sangkedan diubah namanya menjadi Banjar Sangketan. Namun demikian, tidak adanya penjelasan tertulis yang ditemukan, kenapa nama Sangkedan diubah menjadi Sangketan.

“Inilah mengapa pembangunan jalan menjadi kebutuhan yang ‘urgent’ bagi kami. Selain ingin mengembangkan desa menjadi destinasi spiritual ke Pura Pucak Sari atau Pura Tamba Waras, warga juga tengah bergiat diversifikasi potensi kekayaan alam dengan membangun pondok-pondok petani untuk disewakan. Yang tidak kalah penting, jalan yang layak memang sangat dibutuhkan untuk akses anak-anak berangkat sekolah supaya lebih lancar perjalanan menuntut ilmu, serta para petani tidak  kesulitan lagi mengangkut hasil pertanian ke pasar. Sungguh, kami warga desa merasa sangat-sangat terbantu dan berterima kasih dengan adanya program TMMD ini. Kami sangat berterima kasih pada Bapak Tentara yang tidak kenal lelah mewujudkan jalan yang sudah lama menjadi impian warga kami,” ucap Jarwa dengan nada penuh kesungguhan. 

Sementara itu, anggota Satgas yang terlibat dalam program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-114 Kodim 1619/Tabanan setiap hari bekerja sekuat tenaga, bergotong royong bersama warga dan komponen lainnya.

Dansatgas TMMD ke-114 Kodim 1619/Tabanan, Letkol Inf Ferry Adianto SIP ditemui di lokasi pada Minggu (21/8), menyatakan pihaknya mengapresiasi atas kekompakan TNI-rakyat yang solid bergotong royong dan bersama-sama memberikan dedikasi terbaik untuk menyukseskan program TMMD kali ini. Meski tidak jarang ketika bergotong royong ada kendala cuaca yang tidak menentu atau beberapa kendala seperti lokasi jalan yang berada di medan ketinggian, namun ternyata semangat tidak pernah kendor sehingga nyaris seluruh program telah rampung dilaksanakan. 

”Kesuksesan program ini berkat soliditas Satgas TMMD bersama masyarakat dan komponen lain, yang setiap hari berpeluh keringat dan membanting tulang untuk mengerjakan sasaran TMMD. Ini sangat berperan besar sehingga terbukti seluruh sasaran TMMD ke-114 hampir rampung dikerjakan dan berjalan sesuai harapan kita semua,” kata Letkol Ferry yang juga Komandan Kodim 1619/Tabanan.

Menjelang penutupan yang akan dilaksanakan tanggal 24 Agustus 2022 mendatang, ternyata sebagian besar sasaran telah dapat dirampungkan 100 persen. Tinggal 2 sasaran lagi yang masih akan dilanjutkan yaitu pembuatan gorong-gorong dan senderan kedua yang saat ini sudah mencapai 97 persen dan pengerasan/betonisasi jalan dengan panjang 1.150 meter, lebar 4 meter, tebal 0,15 meter sudah mencapai 967 meter atau 84,1 persen hingga tinggal 183 meter lagi atau 15,9 persen lagi akan dituntaskan.

“Saya sangat bersyukur, dengan semangat gotong royong yang tidak kenal menyerah meski kegiatan sering terhadang hujan dan kendala ketinggian medan, akhirnya membuahkan hasil maksimal. Sasaran tinggal sedikit lagi kelar, artinya tepat waktu dilaksanakan,”  ujar Dandim Tabanan, menjelaskan.  (Tri Vivi Suryani) 

Pos terkait