Badung, LenteraEsai.id – Ratusan narapidana (napi) beragama Hindu dan petugas di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Kerobokan, Bali mengikuti kegiatan ‘melukat’ massal sebagai sarana pembersih diri secara sekala dan niskala pada Selasa (1/3).
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Bali Jamaruli Manihuruk yang didampingi Kepala Bidang Pembinaan, Bimbingan dan Teknologi Informasi Kemenkumham Bali, tampak menghadiri kegiatan tersebut.
Selain itu juga terlihat hadir Kepala Lapas Kelas II A Kerobokan beserta seluruh jajaran dan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBK) Lapas Kelas II A Kerobokan. Bertindak selaku pemuput karya melukat massal tersebut, Ida Peranda Gede Putra Bajing dari Geria Gede Tegal Jingga.
Upacara melukat massal yang dilaksanakan dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi tahun Saka 1944 itu, merupakan bagian dari program pembinaan bagi narapidana pada Lapas Kelas II A Kerobokan untuk meningkatkan kualitas ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta memupuk sikap intelektual, perilaku, profesional, kesehatan jasmani dan rohani para WBP.
Sebagai tempat untuk melaksanakan pembinaan bagi narapidana, Lapas Kelas II A Kerobokan menyediakan fasilitas-fasilitas yang akan menunjang kegiatan pembinaan, salah satunya pelaksanaan upacara melukat massal bagi WBP yang juga diikuti para petugas sebagai pembimbing kegiatan pembinaan, kata Kalapas Kelas II A Kerobokan dalam laporan pelaksanaan kegiatan.
Lebih lanjut Kalapas melaporkan bahwa upacara melukat massal kali ini diikuti oleh 500 orang peserta yang terdiri dari petugas dan warga binaan Lapas Kelas II A Kerobokan dengan tujuan utama untuk meningkatkan keimanan dan ketaquaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, mengubah sikap dan perilaku para WBP untuk lebih baik dari sebelumnya serta memberi bekal ketika telah kembali ke masyarakat.
Sementara itu Kepala Kantor Wilayah Kemunkumham Bali dalam sambutannya menyampaikan bahwa upacara melukat massal merupakan ritual menyucikan atau membersihkan diri dengan air suci untuk memperoleh kebaikan, dan menjauhkan dari unsur-unsur negatif. Melukat merupakan salah satu tradisi turun-temurun yang harus dijaga oleh masyarakat Bali guna membersihkan atau menyucikan diri.
Umat Hindu percaya bahwa setiap manusia memiliki sifat diri yang kotor dan harus dibersihkan, maka dilakukanlah tradisi melukat untuk membuang berbagai hal negatif dalam diri manusia itu, ucap Kakanwil Jamaruli.
Kakanwil Jamaruli mengapresiasi Lapas Kelas II A Kerobokan yang telah menyelenggarakan kegiatan melukat massal ini dengan baik, seraya berharap dapat membawa pengaruh yang positif dan memberikan kesucian lahir bathin baik bagi petugas maupun WBP itu sendiri, Semoga kegiatan seperti ini akan dapat dilaksanakan secara berkesinambungan.
Di tempat terpisah saat menjawab pertanyaan wartawan terkait kegiatan melukat massal ini, Jamaruli menyampaikan, selain untuk menyucikan dan membersihkan diri, melukat ini juga merupakan momentum dan sarana untuk instrospeksi diri terkait apa yang telah atau sudah diperbuat selama ini.
Kegiatan dilanjutkan dengan melukat dan memercikkan air suci kepada seluruh pegawai dan WBP di Lapas Kelas II A Kerobokan serta penyampaian Dharma Wacana oleh Ida Peranda Gede Putra Bajing. (LE-BD)







