Denpasar, LenteraEsai.id – Potensi usaha mikro kecil menengah (UMKM) di tanah air sangat besar. Karenanya dibutuhkan perhatian dan pembinaan yang sungguh-sungguh dan terus-menerus. Selama ini sektor UMKM terkesan dilihat sebelah mata dan masih dianaktirikan.
Kenyataan tersebut disadari betul oleh sejumlah pengusaha dan kemudian sepakat mendirikan organisasi yang diberi nama Komite Pengusaha Mikro Kecil Menengah Indonesia Bersatu (KOPITU). Organisasi yang baru berjalan kurang lebih tiga tahun ini diharapkan dapat membawa perubahan besar bagi perkembangan dan kemajuan UMKM Indonesia.
Ketua Umum KOPITU, Yoyok Pitoyo menjawab pewarta LenteraEsai.id (LE) di Denpasar pada Jumat, 10 Desember 2021 menjelaskan, UMKM anggota KOPITU multisektor usaha. Tidak hanya usaha makanan dan minuman, melainkan juga kuliner, suplemen kesehatan, pertanian, service, pelatihan kerja, termasuk pedagang kaki lima (K-5). Jadi sangat luas dan beragam. Potensinya juga sangat luar biasa.
Dulu UMKM di KADIN, namun pembinaannya belum maksimal, cendrung angin-anginan dan sebatas komunitas. Tergantung anggaran dari pemerintah. “Dalam pembinaan pada pelaku UMKM, kami memiliki filosofi ~mandiri dan naik kelas. Artinya produk-produk yang dihasilkan berorientasi ke pasar eksport alias go internasional. Tidak hanya bermain di pasar lokal (dalam negeri Red-),” papar Yoyok Pitoyo bersemangat.
Tentu untuk membentuk pelaku UMKM Indonesia yang maju dan mandiri, kata Yoyok Pitoyo, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Karena memang jadi interpreneur (pengusaha) itu tidak mudah. Apalagi kalau malas belajar, mudah menyerah.
Kendala Perizinan
Sehubungan dengan itu, KOPITU harus membentuk dan menguatkan mental pelaku UMKM dulu, supaya mereka tidak gampang menyerah menghadapi tantangan maupun dalam kompetisi. Apa pun jenis usaha yang digeluti, kata dia, pasti ada kendala. Kendala-kendala itu yang dicarikan solusi dengan melakukan kerja sama-kerja sama dengan lembaga-lembaga di lintas Kementerian dan lembaga non pemerintah.
“Walau KOPITU tergolong masih baru, kami sudah menjalin kerja sama dengan sejumlah lembaga. Misalnya UMKM bidang makanan dan minuman, banyak menghadapi kendali dalam aspek perizinan dan izin edar, serta sertifikasi halal. Kami sudah ada MoU dengan BPPOM, lembaga perizinan dan lembaga halal. Kami langsung action tidak hanya ngomong,” ucapnya, menandaskan.
Bukan hanya itu, kata Yoyok Pitoyo, pembinaan pelaku UMKM juga dilakukan dengan menggelar webinar, agar mental mereka kuat. Karena jadi interopreneur itu tidak mudah. Saat terjadi pandemi Copid-19, banyak juga pelaku UMKM yang kelimpungan. Misalnya ketika sektor pariwasta jatuh, mereka tidak cepat melakukan inovasi. Termasuk menimpa pula pelaku UMKM di Bali. Kalau mereka gampang kelimpungan, itu artinya mereka belum terbentuk jadi interpreneur sejati. Ketika pariwiata jatuh, harusnya mereka cepat beralih ke sektor ketahanan pangan.
Ketua Umum KOPITU Yoyok Pitoyo menegaskan, organisasi yang dipimpinnya benar-benar independen. Tidak berafiliasai dengan organisasi partai politik (parpol). Pihaknya membentuk program pembinaan dan pengembangan terhadap pelaku UMKM, berinteraksi dengan masyarakat secara bisnis. Anggota membentuk koperasi. Koperasi bentuk perusahaan. Bukan ketuanya yang membentuk. Koperasi sudah terbentuk di Jakarta, bergerak di sektor riil.
“Bersyukur, sebanyak 130 ribu UMKM yang kini sudah bergabung ke KOPITU. Mereka yang dulu di KADIN, sekarang sudah banyak gabung di KOPITU,” kata Yoyok yang juga Dirut PT Abul Pratamajaya Cabang Denpasar itu, seraya menambahkan, untuk para pengurus KOPITU tidak bisa merangkap jadi pengurus di organisasi lain.
“Cari pengurus gampang-gampang susah. Saya langsung terjun ke daerah-daerah, melakukan action nyata. KOPITU layaknya KADIN kecil, gerakannya focus. Selama memandang UMKM dari sudut pandang yang keliru, programnnya pasti akan keliru,” ucapnya.
Tidak Minta-minta
Ketum dan Pendiri KOPITU kelahiran Surabaya itu mengungkapkan, KOPITU sudah terbentuk di 19 provinsi di tanah air, termasuk di Bali. Terlebih, Bali merupakan barometer UMKM, juga usaha besar berskala nasional dan internasional. Lantaran potensi yang luar biasa, ke depannya KOPITU akan sampai di tingkat desa dan kelurahan, supaya lebih memudahkan pembinaan pelaku UMKM yang ada di akar rumput. Untuk penguatan mental dengan pendampingan bisa dilakukan oleh pengusaha UMKM yang mentalnya sudah bagus.
Yoyok Pitoyo mengaku bersyukur bahwa respons pemerintah selama ini cukup bagus. Pihaknya berlolaborasi dengan pemerintah dalam mensukseskan program pemerintah. “Jadi KOPITU tidak hanya minta-minta bantuan, melainkan bersama pemerintah menjalankan visi dan misi yang sama,” katanya.
KOPITU, kata Yoyok Pitoyo, punya mimpi, suatu saat UMKM di tanah air bisa seperti di sejumlah negara di luar negeri. Yakni mereka mendapat perhatian yang layak dari pemerintah. Di beberapa negara dia melihat, pemerintahnya memeberikan tempat secara cuma-cuma kepada pelaku UMKM. “Tidak seperti di tanah air kita selama ini. UMKM lebih berjalan sendiri-sendiri. Justeru malah mereka kerapkali dikejar-kejar petugas. Itu artinya iklim usaha, kenyamanan mereka tidak ada,” ujar Yoyok Pitoyo.
Berkiprah di G-20
Berkenaan dengan akan diselenggarakannya pertemuan negara-negara G-20 di Bali, Yoyok Pitoyo menyebutkan, pengurus KOPITU berencana bersuarat ke Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi), memohon dapat menerima organisasi yang mewadahi pelaku UMKM bisa menyampaikan keinginan ikut sebagai host dalam pertemuan G-20 yang akan diselenggarakan Oktober 2022 mendatang itu.
“Pertemuan negara-negara G-20 yang akan dilaksanaan di Bali Oktober 2022 mendatang, adalah momentum yang sangat penting. Maka kami pengurus KOPITU sepakat untuk bertemu dengan Bapak Presiden Jokowi. Surat sudah kami siapkan untuk dikirim ke istana Presiden,” paparnya.
Mengapa harus bertemu Presiden?, Yoyok Pitoyo menjelaskan, Presiden Jokowi memiliki atensi yang tinggi dalam memajukan usaha mikro kecil menengah di tanah air. Maka dari itu pihaknya sangat berharap Presiden bisa menerima pengurus KOPITU. Sehingga orang nomor satu di Indonesia itu, bisa mendengar langsung program, gagasan dan komitmen KOPITU dalam membina pengusaha mikro, kecil dan menengah di tanah air.
Termasuk akan menyampaikan pentingnya pengurus KOPITU dilibatkan langsung sebagai host dalam pertemuan G-20.
“Tidak ada organisasi yang sungguh-sungguh membina pengusaha UMKM supaya berdaya. Termasuk pemerintah selama ini kurang optimal membina mereka. Program masih parsial dan sebatas life service,” katanya dengan penuh semangat.
Ia menambahkan, Indonesia sebagai presidensi pertemuan G 20 tidak akan terulang 20 tahun lagi. Berarti pertemuan itu di tanah air jadi momentum, kesempatan emas, jangan disia-siakan, jangan dilepaskan. Ada penekanan dari Presiden tentang penguatan UMKM dan wanita. Belum ada oranisasi yang membawahi UMKM yang menyambut penekanan Presiden tersebut. Kalau KADIN tidak mungkin akan membahas UMKM. Karena organisasi itu identik dengan pengusaha besar. UMKM hanya dianggap suplumen saja.
“Kami lagi mendorong supaya ada kuota untuk sektor UMKM di G-20. Tidak hanya jadi objek tetapi subjek. Jadi alat pemecahan masalah yang dihadapi pemerintah. Jangan hanya pelaku UMKM disuruh berjualan kalau ada acara-acara tertentu, seperti terjadi selama ini,” ujar Yoyok Pitoyo, menandaskan.
Dikatakan, orang ngomong G-20 indentik dengan jaringan. Supaya keinginan KOPITU jadi host dalam pertemuan G-20 bisa terwujud, pihak sedang melakukan pendekatan-pendekatan. Seperti dengan Menko Ekuin, Kementerian LN. “Presiden sudah mendorong, belum ada yang menangkap. Bahkan Kementerian Koperasi belum ada suaranya. Pelaku UMKM jangan sampai disisihkan,” kata Yoyok Pitoyo, mengharapkan. (LE/Ima)







