52 Tahun Silam Semeru ‘Telan’ Nyawa Seorang Demonstran

Gunung Semeru di Jawa Timur

Oleh Yanes Setat

SEMERU, satu dari sederet gunung berapi di tanah air yang tergolong sulit dipelajari ‘wataknya’. Gunung yang bagian kaki-kakinya bercokol di dua kabupaten, Malang dan Lumajang, Jawa Timur itu, tergolong dataran tinggi yang cukup ‘disakralkan’.

Bacaan Lainnya

Mungkin yang sebanding dengan Semeru adalah Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali. Sama-sama disakralkan, sama-sama pula sulit dibaca karakternya. Bahkan boleh dikatakan kedua gunung sama-sama memiliki daya sedot untuk dikunjungi atau didaki.

Sebagai gunung berapi yang sulit dibaca, terbukti dengan ditetapkannya Gunung Semeru dalam Status Waspada atau Level-2, malah tiba-tiba meletus dahsyat. Sebaliknya Gunung Agung yang aktivitas vulkaniknya sempat dinyatakan dalam Status Awas, Level-4 pada akhir September 2017, nyatanya ‘jinak’ dalam beberapa bulan lamanya.

Cukup ‘jinak’ dalam beberapa bulan hingga terhitung tahun, secara perlahan status Gunung Agung turun ke Level-3 dan terus ke Level-2 sampai saat ini.

Sehubungan dengan cukup lamanya Gunung Agung menyandang Status Awas pada 2017-awal 2018, Made Mangku Pastika yang menjabat Gubernur Bali waktu itu, sempat mempertanyakan, “Kok lama sekali status awasnya, gemana ini..?”. Mangku Pastika khawatir kalau terlalu lama menyandang Status Awas, terlalu lama pula wisatawan mengurungkan niatnya melancong ke Bali. Masalahnya, masyarakat Bali sebagian besar mengandalkan hidup dari kedatangan para pelancong ke Bumi Dewata.

Pendek kata, setelah lebih dari tiga bulan menyandang Status Awas, Gunung Agung belum juga menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik yang tergolong besar. Sebaliknya sekarang, Gunung Semeru yang masih menyandang Status Waspada malah tiba-tiba ‘menggelegar’ pada Sabtu sore, 4 Desember 2021.

Pihak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) membenarkan bahwa Gunung Semeru sejak sebelum dan setelah terjadinya erupsi pada sore hari itu masih berstatus Level-2, Waspada.

Di luar perkiraan orang kebanyakan, bencana alam erupsi Gunung Semeru telah menimbulkan duka yang dalam, terlebih bagi warga yang keluarganya menjadi korban atau terdampak langsung dari ‘terjangan’ banjir lahar gunung tersebut.

Penanganan darurat pancakejadian terus dilakukan pihak BPBD Kabupaten Lumajang dan tim gabungan, termasuk upaya pencarian dan evakuasi bagi penduduk yang terdampak atau yang diperkirakan hilang.

Berdasarkan informasi langsung dari Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Suharyanto SSos MM yang pada Minggu (5/12) pagi sedang menuju Lumajang, disebutkan bahwa 13 warga telah dilaporkan meninggal dunia akibat peristiwa tersebut.

Dari korban yang sebagian besar menderita luka bakar sebanyak itu, baru dua orang yang telah teridentifikasi, yakni penduduk dari Curah Kobokan dan Kubuan, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, ucapnya.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari PhD menambahkan, sebanyak 41 orang yang mengalami luka-luka, khususnya luka bakar, telah mendapatkan penanganan awal di Puskesmas Penanggal. Selanjutnya mereka dirujuk menuju RSUD Haryoto dan RS Bhayangkara, Lumajang.

Sementara warga luka lainnya ditangani pada beberapa fasilitas kesehatan, yaitu 40 orang dirawat di Puskesmas Pasirian, 7 orang di Puskesmas Candipuro, serta 10 orang lain di Puskesmas Penanggal, di antaranya terdapat dua orang ibu hamil.

Tim gabungan juga berhasil melakukan evakuasi terhadap sembilan warga yang pada Sabtu (4/12) malam dilaporkan Wakil Bupati Lumajang terjebak di ruang kantor pengelola tambang pasir. Saat ini, seluruhnya telah berhasil ditempatkan di Pos Curah Kobokan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut, ucapnya.

Demonstran dan Kolumnis

Cukup dramatis pemandangan di lapangan pada Sabtu malam hingga Minggu (5/12) dini hari itu. Tidak sedikit warga yang terlihat panik, terlebih sejumlah desa yang berada di bagian lereng dan kaki Gunung Semeru, sempat dibuat gelap gulita bagai malam hari. Masalahnya, sinar matahari tak lagi mampu menembus permukaan bumi setelah terhadang oleh tebalnya debu vulkanik yang dipancarkan dari lubang kawah Gunung Semeru.

Sungguh misteri. Demikian warga mengomentari kejadian tersebut. Misteri yang tidak jauh berbeda juga dialami kelompok mahasiswa pencinta alam Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI) pada Desember 1969, yakni 52 tahun silam.

Adalah Soe Hok-gie (27) dan Idhan Dhanvantari Lubis (19) serta enam kawannya yang lain, sejak 12 Desember 1969 berangkat dari Jakarta untuk tujuan mendaki gunung tertinggi di Pulau Jawa, yakni bertengger 3.676 meter di atas permukaan laut (dpl).

Soe Hok-gie selama aktif sebagai mahasiswa hingga menjadi dosen pada Fakultas Sastra UI, dikenal sebagai seorang demonstran yang kerap bersuara lantang. Tidak hanya itu, Hok-gie, panggilan akrabnya, juga dikenal sebagai kolumnis yang lewat tulisan-tulisannya di sejumlah media massa nasional dikenal berani dan tajam.

Tiba di bagian lereng Gunung Semeru pada 15 Desember 1969 setelah menempuh perjalanan rumit dari Gubuk Kelakah, Hok-gie dan kawan-kawan berkemah di daerah Roncopodo yang merupakan batas vegetasi hutan cemara di areal tertinggi di kawasan tersebut. Setelah itu, hanya ada hamparan bebatuan dan pasir hingga sampai ke bibir kawah Semeru yang disebut Kawah Jonggring Seloko.

Kesesokan harinya 16 Desember 1969, Hok-gie dan tujuh kawannya tiba di kawasan bibir Kawah Jonggring Seloko yang ketika itu tengah aktif menyemburkan asap dengan tebaran bau belerang yang menyengat. Timbulnya suara letupan-letupan yang cukup keras, membuat Aristides Katoppo selaku pimpinan rombongan, sempat mengingatkan kondisi kurang baik hingga kemudian mengajak teman-temannya untuk turun meninggalkan kawah.

Saat turun, seperti yang disebutkan Rudy Badil dalam buku berjudul ‘Soe Hok-gie, Sekali lagi’, menceritakan tidak bergerak secara bersama-sama. Menyusul Aristides dan Hok-gie, dibelakangannya Idhan Lubis, Herman Lantang, Badil dan seterusnya. Namun malang, dalam perjalanan turun yang terpencar, Hok-gie dan Idhan Lubis ditemukan oleh Herman Lantang sudah terkujur kaku dan tak lagi bernyawa. Hok-gie yang terlahir pada 17 Desember 1942 menghembuskan nafas terakhir sehari sebelum dia berulang tahun yang ke-27.

Belakangan, tim yang melakukan penyelidikan atas kejadian itu menyimpulkan bahwa Hok-gie dan Idhan Lubis meninggal dunia setelah menghirup gas beracun yang menyembur dari letusan kawah Semeru. Karena sulitnya medan, tim penjemput jenazah yang adalah penduduk dari Desa Gubuk Kelakah, baru berhasil melakukan evakuasi setelah sepekan jenazah Hok-gie dan Idhan Lubis berbaring kaku di dekat puncak gunung tertinggi di Pulau Jawa itu.

Kini, pada Sabtu sore (4/12) sekitar pukul 15.20 WIB, Gunung Semeru kembali murka dengan memuntahkan awan panas dan memancarkan debu vukkanik dalam ratusan meter ke angkasa. Akibatnya, belasan desa di delapan kecamartan di Kabupaten Lumajang harus diguyur hujan abu. Tidak hanya itu, bencana juga meyebahkan puluhan pohon tumbang dan memutus Jembatan Gladak Perak satu-satunya yang menghubungkan Kabapaten Malang dengan Lumajang.  (LE-YS)

Pos terkait