Denpasar, LenteraEsai.id – Ketua KONI Bali I Ketut Suwandi mengatakan, sebenarnya Bali dari dulu sudah sangat siap menjadi tuan rumah penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON). Tetapi setelah beberapa kali mengajukan diri, selalu kandas. Padahal dari skoring Bali tidak di bawah daerah-daerah yang lolos jadi tuan rumah PON.
“Kita (Bali) sudah beberapa kali mengajukan diri menjadi tuan rumah pelaksanan olahraga nasional empat tahunan (PON) itu. Ya begitulah, belum membuahkan hasil. Mungkin ada pertimbangan lain dari pihak yang menetapkan,” kata Suwandi menjawab media di sela-sela rehat pelaksanaan hari kedua seminar nasional sosialisasi Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) di Inna Grand Bali Beach Sanur Denpasar, Rabu, 1 Desember 2021.
Apa saja modal kesiapan Bali menjadi tuan rumah PON?. Suwandi yang didampingi Sekretaris KONI Bali IGN Oka Darmawan menjelaskan, segalanya Bali telah siap. Mulai dari sumber daya manusia (SDM), venue, akomodasi, transportasi, kuliner, termasuk objek wisata yang ada.
“Untuk venue hanya lintas pacuan kuda yang kurang. Itu tidak masalah besar bagi kami. Sedang biaya, adalah patungan dengan pemerintah pusat dan juga pihak ketiga (sporsorship),” ujarnya, menandaskan.
Namun demikian, pria yang pensiunan Kadis Pekerjaan Umum (PU) Badung itu menambahkan, tidak cukup hanya KONI yang menyatakan kesiapan jadi tuan rumah PON itu, melainkan harus dari pemerintah daerah Bali. “Karena pemerintah daerah yang menyiapkan anggaran, serta sarana dan prasarana yang dibutuhkan, termasuk venue. Dan ini kebanyakan merupakan asset pemerinth daerah,” ujar Suwandi.
Selain kesiapan dari venu dan SDM, prestasi olahraga Bali juga menunjukkan tren menanjak terus. Prestasi Bali di PON XX di Papua, Bali berhasil bertengger di posisi kelima. Hal itu menunjukkan keberhasilan pembinan olahraga. “Ke depan kami akan terus mengajukan Bali sebagai tuan rumah PON. Yakni pascapelaksanaan PON XXI di Aceh dan Sumut tahun 2024 nanti,” katanya.
Ditanya Bali tidak masuk pelaksanaan DBON Kemenpora, yakni dalam seleksi 12 cabang olahraga (Cabor) yang dipertandingkan di Olimpiade, Ketua KONI Bali menyatakan sedikit kecewa juga. Padahal kontribusi Bali pada beberapa cabor dalam event olahraga nasional, Asia dan ASEAN selalu ada. Tetapi pihaknya mengaku tidak paham juga dengan keputusan pihak Kemenpora.
Mengenai Bali tidak masuk, Menpora Zainudin Amali usai tampil sebagai pembicara kunci dalam seminar nasional sosialisasi DBON di Hotel Inna Grand Bali Beach pada Rabu, 1 Desember 2021, menjelaskan bahwa peluang Bali dan daerah-daerah lainnya masih terbuka.
“Masih.., masih terbuka peluang bagi Bali dan daerah-daerah lainnya yang potensial. Kami menerapkan sistem promosi dan degradasi. Kalau ada dari 12 Cabor plus dua, digantikan dari daerah lainnya,” kata Menpora ketika dicegat insan pers. (LE/Ima)







