Empat Sungai Meluap Rendam 2.300 Rumah Penduduk di Gorontalo

Gorontalo, LenteraEsai.id – Curah hujan yang turun cukup lebat telah mengakibatkan meluapnya empat aliran sungai di empat kecamatan Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo pada Jumat (1/10) malam sekitar pukul 21.00 waktu setempat.

Banjir yang kemudian tercatat meredam sedikitnya 2.300 rumah penduduk di 13 desa/kelurahan di empat kecamatan itu, terjadi setelah empat aliran sungai tidak mampu menampung debit air hujan, yaitu Sungai Bulota, Biyonga, Uwabu dan Sungai Marisa.

Bacaan Lainnya

Sementara wilayah desa atau kelurahan yang terdampak meliputi Kelurahan Hunggaluwa, Tenilo, Hutuo, Kayubulan dan Bolihuanga di Kecamatan Limboto. Kemudian di Kecamatan Limboto Barat terdiri atas Desa Yosonegoro, Tunggulo dan Desa Haya-haya. Sedangkan di Kecamatan Telaga dan Pulubala antara lain Desa Ulapato B, Dulamayo, Ulupato A, Talumelito dan Tuladenggi.

Selain merendam 2.300 rumah penduduk dengan tinggi muka air berkisar antara 20 hingga 50 cm, BPBD Kabupaten Gorontalo juga mencatat bahwa terjangan banjir telah merusak sebanyak empat unit jembatan yang melintang di atas empat aliran sungai.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari PhD dalam siaran persnya yang diterima redaksi pada Sabtu (2/10) siang mengungkapkan, begitu banjir terjadi, BPBD telah melakukan berbagai upaya penanganan darurat, seperti evakuasi, pendataan korban terdampak, dan pendistribusian makan siap saji.

Namun demikian, lanjut Abdul Muhari, genangan banjir di beberapa tempat kini sudah berangsur-angsur surut, sehingga petugas gabungan yang terjun ke lokasi musibah mulai membantu warga membersihkan material yang terbawa banjir ke kawasan rumah penduduk dan perkantoran.

Analisis inaRISK mengidentifikasi 17 kecamatan berpotensi bahaya banjir dengan kategori sedang hingga tinggi. Dari jumlah tersebut, beberapa wilayah termasuk empat kecamatan yang kini kebanjiran. Sedangkan dilihat dari peringatan dini cuaca BMKG, wilayah Gorontalo masih berpeluang hujan lebat yang dapat disertai petir atau kilat dan angin kencang pada hari ini dan esok hari.

Berdasarkan data pada BNPB, sepanjang kurun waktu lima tahun (2015-2020) tercatat sebanyak 20 kasus bencana banjir terjadi di Kabupaten Gorontalo. Untuk korban meninggal dunia dan hilang berjumlah lima orang pada periode tersebut.

Masyarakat diminta waspada dan siaga tidak hanya pada bahaya banjir, tetapi juga tanah longsor. Berdasarkan analisis Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kabupaten Gorontalo juga rentan timbulnya bencana gerakan tanah.

Terhitung 12 kecamatan di Kabupaten Gorontalo yang berpotensi terjadinya bencana longsor, dengan rincian 9 kecamatan pada kategori menengah, dua pada kategori menengah hingga tinggi, serta satu lainnya pada kategori tinggi, yaitu di Pulubala, ujar Abdul Muhari PhD, menjelaskan.   (LE-GT)

Pos terkait