BadungHeadlines

Sebagai Penyembuh, Warga Abiansemal Kerap Temukan Benda-benda Aneh dan Sakral

Badung, LentetaEsai.id – Sepintas laki-laki bernama I Wayan Dening (77) alias Pak Nyandul, tidak memiliki keistimewaan apa-apa. Penampilannya sangat sederhana dan bahkan bersahaja. Kesehariannya ia bergelut di bidang pertanian, mengolah sawah, berkebun, beternak sapi, itik, babi dan sebagainya.

Semua itu Pak Nyandul lakukan untuk memutar ekonomi keluarga, selain ia juga aktif mengikuti dinamika sosial, yakni kegiatan agama, adat dan menyamabraya di tempat tinggal dan kelahirannya di Banjar Sukajati, Desa Taman, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung.

Tidak cuma itu, Pak Nyandul juga seorang penyembuh, yang di Pulau Dewata disebut balian. Kakek dengan beberapa cucu dan cicit itu memiliki kemampuan atau keterampilan memijat (massage), menyembuhkan beberapa jenis penyakit.

Bagi krama (warga) yang keseleo, terkilir, retak, bengkok maupun patah tulang akibat terjatuh, benturan dan sebagainya, bisa ‘dibengkeli’ oleh Pak Nyandul dalam waktu yang sesuai dengan jenis penyakit yang diderita si pasien.

Selama ini jasanya sudah banyak dimanfaatkan oleh warga sekitar, bahkan yang sengaja datang dari beberapa kabupaten di Bali. “Wenten manten semeton sane rauh (ada saja warga yang datang),” tutur Wayan Dening alias Pak Nyandul sambil menangani pasien dalam perbincangan dengan pewarta LenteraEsai.id (LE) Minggu (19/9) lalu.

Pak Nyandul yang merima pasien di rumah tinggalnya, sejuah ini hanya menggunakan lengis melah (minyak kelapa/tandusan) dalam mengurut setiap pasiennya. Tangannya dengan terampil memijat bagian tubuh yang sakit, baik karena terkilir maupun retak, patah tulang dan lainnya.

Proses massage tradisional tersebut dilakukan di ruang terbuka, santai dan tampak sangat hati-hati. Sesekali, wajah Pak Nyandul terlihat mendongak ke bagian atap Bale Delod, rumah tradisional Bali. Atau memandang lepas ke arah kejauhan.

Sementara tubuh si pasien yang diurutnya, sering terlihat menggeliat dan meringis, layaknya orang menahan sakit. Pak Nyandul mengatakan, proses penyembuhan bagi warga yang datang matamba (berobat), umumnya tidak bisa diakukan cepat. Melainkan membutuhkan kesabaran dan waktu relatif lama. Tergantung juga parah atau ringannya penyakit yang mereka bawa.

“Di sekala ne tiang ngurut, niskala ne nunas ica ring Ida Hyang Widhi. Secara nyata saya memijat, secara tidak nyata mohon kepala Tuhan,” sebutnya, menjelaskan.

Ngobrol lebih jauh seputar pijat-memijat, Pak Nyandul mengakui sudah  cukup lama melakoni profesinya itu. Yakni ketika usianya masih relatif muda. Namun semua mengalir begitu saja. Tidak melalui proses kursus (pelatihan), dan dari keturunan juga tidak.

Seingatnya, suatu ketika ada seorang warga setempat yang minta tolong dipijat lantaran mengalami keseleo tulang. Setelah itu, ada saja yang datang. Kemungkinan cerita dari mulut ke mulut dari orang yang pernah dipijat. “Yen wenten semeton sane rauh, tiang coba membantu. (Kalau ada warga yang datang saya mencoba membantu),” ujarnya, merendah.

Benda Langka

Ada yang menarik dari perjalanan hidup Pak Nyandul, yakni pengalaman atau kejadian unik dan aneh yang dialami sebelum dan sesudah menjalani profesi sebagai pemijat.

Ia mengaku sering menjumpai benda-benda langka dan sakral seperti kepasilan gedang (benalu pepaya, Red), nyuh buta (kelapa tidak ada tanda mata). Pernah juga menjumpai minyak beku di dalam buah kuud (kelapa muda). “Lengis medem nika tunas tiang. Minyak beku itu saya makan,” ucapnya.

Ia pun menuturkan pengalaman niskala-nya. Yakni kerap kali dicari seseorang, diajak pergi ke lokasi-lokasi tenget (angker) dan suci. Misalnya masuk ke sebuah goa yang di dalamnya ada pelinggih (tempat suci). Lokasinya di pinggir Tukad Ayung, wilayah Banjar Karang Dalem Tua, Desa Bongkasa Pertiwi, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung.

Pernah diajak berhari-hari menyepi di kawasan suci pinggir Danau Beratan, Bedugul, Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan. Dan tempat-tempat lain yang memiliki aura mistis, sakral dan suci.

“Tiang ten ngerti dados sering nepukin barang-barang aneh, lan ajaka ke genah-genah tenget lan suci. (Saya tidak mengerti mengapa kerapkali menjumpai benda-benda aneh, dan diajak ke lokasi-lokasi angker dan suci,” ceritanya, kalem.

Namun demikian, Pak Nyandul tidak bersedia mengungkapkan siaga gerangan seseorang itu yang kerap mengajak dirinya ke tempat-tempat suci dan angker, karena ini merupakan rahasia pribadinya.

Pengamatan pewarta LE, warga yang datang untuk matamba (berobat) ke balian urut Pak Nyandul, cukup membawa canang dan sesari seikhlasnya. Berpakaian yang sopan. Kalau yang bersangkutan ada di tempat, pasien langsung ditangani. Lokasinya di kawasan tegal Sukajati, dengan panorama alam yang asri dan lestari.

Begitu pasien yang biasanya diantar pihak keluarga akan beranjak pulang, oleh Pak Nyandul akan diberitahu beberapa nama bahan untuk dijadikan boreh (balur), yang nantinya dipakai  untuk membalur bagian tubuh yang terasa sakit.

Tidak sidikit warga masyarakat dari sejumlah daerah yang mengaku sangat tertolong oleh kemampuan pria yang tergolong sudah berusia ujur itu, sebari memanjatkan doa semoga Pak Nyandul dipanjangkan usianya.  (LE/Ima)

Lenteraesai.id