Karangasem, LenteraEsai.id – Cukup banyak kerugian yang ditimbulkan akibat hujan deras yang mengguyur Kabupaten Karangasem, Bali bagian timur, khususnya yang ada di Desa Gegelang, Antiga dan Antiga Kelod, Kecamatan Manggis.
Seperti yang terjadi di Desa Antiga, sebuah sekolah yaitu SMP Negeri 3 Manggis yang terletak di Banjar Dinas Kelod, dan puluhan rumah warga terendam banjir bandang setelah hujan turun sangat deras sejak Kamis (16/6) malam.
Bahkan dari hasil pantauan di lapangan pada Kamis (17/6) pagi, air masih terlihat menggenangi halaman sekolah dan beberapa rumah warga, di samping juga hektaran areal pentanian milik penduduk.
Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Manggis Ni Wayan Sutarmi saat ditemui mengatakan, air banjir bisa masuk sampai menggenangi sekolah karena tidak adanya tembok penyengker di bagian barat gedung sekolah. Jadi air sungai meluap, langsung naik ke halaman sekolah.
“Ada sebanyak 12 ruang kelas yang tergenang banjir. Dari hasil pantauan terlihat bekas genangan air cukup tinggi, dan kini sudah perlahan mulai surut,” kata Sutarmi, menjelaskan.
Untuk membersihkan bekas genangan air tersebut, pihak sekolah sudah berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Karangasem untuk bersama-sama turun ke lapangan.
“Karena jika dibersihkan secara manual, tentu akan memakan waktu yang cukup lama sehubungan genangan banjir cukup banyak meninggalkan kotoran bercampur lumpur, terutama di bagian halaman sekolah,” ujarnya.
Selain sekolah, puluhan rumah warga juga dilaporkan tergenang banjar, terutama yang berlokasi di dekat aliran sungai yang melintang di wilayah Desa Antiga dan Antiga Kelod, Kecamatan Manggis.
Saat pewarta LenteraEsai (LE) datang ke lokasi rumah warga yang kebanjiran, air sudah mulai surut dan puluhan warga terlihat sedang membersihkan kotoran sampah bercampur lumpur dan pasir serta ‘nyanyad’ yang naik ke bagian halaman rumah dan jalan yang sempat dibawa arus banjir.
“Kami sedang gotong royong membersihkan ‘nyanyad’ agar bisa dilewati kendaraan, karena saat ini tidak bisa dilalui terutama oleh sepeda motor,” kata Wayan Gunaksa saat ditemui di lokasi gotong royong.
Wayan Gunaksa juga mengaku bahwa hewan peliharaannya berupa seekor bangkung mati setelah terseret arus banjir. “Bangkung saya sempat terbawa banjir tapi berhasil ditemukan tersangkut di sebuah pohon dalam keadaan sudah mati,” katanya.
Selain itu, beberapa hewan peliharaan warga, terutama yang berada di dekat aliran sungai, juga dilaporkan hanyut seperti ayam, sapi, bebek, babi bahkan puluhan burung merpati beserta kandangnya juga hanyut tersapu banjir dan menghilang. (LE-Jun)







