Nusa Dua, LenteraEsai.id – Sepasang suami istri asal Surabaya, Hari Subagio dan Mujiati sama sekali tak menyangka, lewat ajang pameran Bali Interfood, ternyata membuat usaha sambal skala rumahan yang sudah bertahun-tahun ditekuni, akhirnya dilirik pembeli dari Jepang.
“Kami sekeluarga memang pencinta sambal, jadi setiap makan selalu dilengkapi dengan sambal. Dari sinilah, pada tahun 2010, istri kemudian bereksperimen membuat sambal yang dikemas agar awet, namun tanpa mengurangi kualitasnya. Ternyata, sambal yang diracik istri ini disukai keluarga besar dan para tetangga. Melihat sikap antusias mereka saat mencoba sambal, akhirnya membuat kami tergerak mengembangkannya menjadi usaha yang serius. Agar mudah dikenali, diberi merek CUK, yang merupakan singkatan dari ‘Cabe Ulek Kemasan’,” kata Hari Subagio (70), di sela-sela melayani pembeli pada gelaran Bali Interfood 2026, di Nusa Dua, Badung, Bali, Rabu (2/9/2026).
Hari menjelaskan, keluarganya mendapat kejutan karena pada tahun 2013, usaha sambal Cuk ini meraih penghargaan dari Wali Kota Surabaya, berlanjut penghargaan dari Gubernur Jawa Timur. Berikutnya pada 2016, sambal Cuk mendapat penghargaan dari Presiden Joko Widodo, atas penghargaan sebagai produk yang inovatif dan berkualitas.

Penghargaan demi penghargaan yang diperoleh ini, membuat Hadi dan keluarga makin memegang komitmen untuk menjaga kualitas, serta kesinambungan produksi agar jangan sampai laju usaha sambal ini tersendat-sendat. Demi menjaga kualitas dan rasa otentik rasa, ia mendatangkan beberapa jenis bahan baku langsung dari daerah asalnya. Misalnya, ia mendatangkan jenis-jenis ikan tertentu dari Manado, baby cumi dari Medan, serta berbagai bahan penunjang lain dari daerah Surabaya dan sekitarnya.
“Sekarang ini sudah ada 20-an jenis sambal dari berbagai daerah di Indonesia yang kami produksi. Salah satu yang best seller adalah sambal ganja Aceh. Kenapa dinamakan demikian, karena menurut para pembeli, jenis sambal itu sangat bikin nagih saat dimakan bersama nasi hangat dan ikan goreng. Untuk harga, mulai dari Rp 35 ribu – Rp 55 ribu. Produk sambal ini bertahan sampai 12 bulan,” ujar Hadi.
Bali Interfood Pembuka Jalan
Awalnya, produk sambal Cuk ini dipasarkan secara online atau dipromosikan melalui handphone ke pihak teman-teman dan keluarga. Lama-lama setelah bergabung dengan berbagai asosiasi yang bergerak di bidang makanan, akhirnya Hadi mendapatkan informasi tentang ajang pameran yang khusus mengusung produk minuman dan makanan yang dihelat Krista Exhibitions Group bertajuk Interfood yang digelar di beberapa kota besar di Indonesia.
Terdorong keinginan ingin mengembangkan usaha, maka pada empat tahun lalu Hadi pun mendaftar untuk mengikuti pameran, dimulai dari gelaran Surabaya Interfood. Respon pasar ternyata sangat menggembirakan, banyak pengunjung pameran memborong sambal Cuk. Tanpa pikir panjang, Hadi kemudian mengikuti ajang serupa yang digelar di Bali. “Di Bali Interfood inilah, produk sambal Cuk kemudian mulai dilirik konsumen luar negeri, yakni wisatawan dari Jepang yang saat itu sedang berlibur di Bali. Bersyukur akhirnya produk sambal Cuk disukai pembeli dari Jepang dan sampai sekarang pun masih rutin memesan. Belakangan tak hanya pembeli dari Jepang, produk sambal Cuk juga sudah beberapa kali dikirim ke Amerika Serikat, Switzerland, hingga Jeddah. Ternyata orang luar negeri mulai suka produk sambal Indonesia,” kata Hadi bangga.
Memberdayakan Lansia
Kini, dalam keseharian, puluhan lansia dan ibu-ibu rumah tangga turut diajak untuk menjadi pegawai lepas usaha sambal Cuk. “Jadi karena dalam sehari, kami membutuhkan sekitar 1 ton cabai, maka kami memberdayakan orang-orang sekitar, ya kami bersyukur bisa berbagi kasih dengan cara memberi pekerjaan kepada orang-orang dekat rumah,” kata Hadi.
Sejumlah lansia dan tetangga ini, mendapatkan penghasilan dengan bekerja sebagai pembersih cabai agar selanjutnya siap dimasak menjadi sambal. Sebagian lagi menjadi pengupas bawang merah dan bawang putih.
“Saya bersyukur sambal Cuk yang awalnya hanya sebagai usaha skala rumahan, kini mulai diterima pasar internasional melalui event Bali Interfood. Lebih bersyukur lagi, karena usaha sambal ini memberi manfaat bagi lansia dan tetangga sekitar. Semoga usaha sambal Cuk bisa terus bertahan, dan diteruskan anak cucu nantinya. Jadi pesan kepada generasi muda, jangan menilai bahwa berbisnis itu harus dimulai dengan modal besar dan produk yang modern. Lihatlah yang kami lakukan, dengan hanya mengolah sambal cita rasa Indonesia yang kami inovatifkan menjadi ‘taste’ Surabaya, membuat masyarakat tergerak membeli karena dinilai rasanya bikin nagih. Mari semangat melestarikan warisan leluhur, salah satunya melalui olahan makanan tradisional,” pesan Hadi agar generasi muda terinspirasi untuk menjaga budaya yang diwariskan nenek moyang. (LE-Vivi)







