HeadlinesKarangasem

Harga Anjlok, Petani Arak Tradisional di Karangasem Mengeluh

Karangasem, LenteraEsai.id – Harga arak yang diproduksi secara tradisional di Kabupaten Karangasem, kini terus mengalami penurunan. Hal tersebut sangat dikeluhkan oleh para petani arak tradisional di wilayah Bali bagian timur.

I Komang Merta (28), salah seorang petani arak tradisional asal Banjar Dinas Kalanganyar, Desa Gegelang, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem saat ditemui di rumahnya, Jumat (26/3) mengatakan, saat ini harga arak tradisional di pasaran berada di kisaran Rp100 sampai Rp130 ribu per jerigen yang berisi sekitar 9 liter arak.

“Itu pun arak yang kualitasnya bagus, sedangkan arak yang kualitasnya sedang-sedang saja, harganya bisa di bawah itu,” kata Merta sembari mengeluhkan harga minuman yang diproduksi dengan cara menyuling tuak itu yang belakangan ini terus merosot.

Meskipun demikian, ia mengaku tetap bersyukur karena masih bisa menjual arak yang diproduksinya secara tradisional, di tengah maraknya aneka minuman dalam botol produksi pabrikan di pasaran.

“Ya..syukuri saja, masih ada yang mau beli, meskipun harganya jauh di bawah dari yang sempat berlaku beberapa bulan sebelumnya,” ujar Merta, menghibur diri.

Sebelum ini, lanjut dia, untuk 1 jerigen arak yang berisi 9 liter dengan kualitas bagus, harganya bisa mencapai Rp250 sampai Rp300 ribu. “Jauh kan. Kini paling banter laku terjual Rp130 ribu,” katanya.

Selain Merta, petani arak tradisional lainnya yang ada di Desa Gegelang juga mengakui hal yang sama, sehingga cukup mengeluh dengan harga arak tradisional saat ini yang terus mengalami penurunan.

Bahkan ada beberapa petani arak yang memilih untuk tidak menjual araknya, melainkan hanya menyimpannya di rumah karena tidak seimbang dengan ongkos produksi yang dikeluarkan. Mereka senada mengatakan baru akan menjual araknya jika harganya sudah kembali normal.

Diperoleh keterangan, selain faktor pandemi Covid-19 yang membuat harga arak tradisional menjadi anjlok, juga karena adanya produksi arak fermentasi (arak gula) yang saat ini cukup banyak ditemui di Kabupaten Karangasem.

Arak fermentasi bisa dijual dengan harga yang jauh lebih murah dari arah tradisional, antara lain karena proses pembuatannya yang lebih gampang. Di samping itu, bahan bakunya juga lebih mudah didapat, dan dengan harga yang juga jauh lebih murah dari harga tuak hasil sadapan para petani.

Merta dan beberapa perajin arak yang lain, mengaku sempat berharap dan bernafas lega saat Presiden Joko Widodo menerbitkan Perpres No.10 Tahun 2021. Tapi, harapan itu kini sirna karena Presiden Joko Widodo kembali mencabut lembaran yang mengatur tentang investasi minuman beralkohol pada Perpres tersebut, setelah munculnya pro dan kontra di masyarakat.  (LE-Jun) 

Lenteraesai.id