Oleh I Made Astra
JADWAL sembahyang atau muspa pada Jumat, 20 November 2020, akan dilakukan di Pura Ulundanu Ranupane dan Pura Luhur Poten Bromo Tengger, Jawa Timur. Cuaca pagi itu di Desa Ranupane, berkabut. Maklum berada di kawasan Pegunungan Tengger. Hawa dingin sangat menusuk. Air kamar mandi bagai es, sangat-sangat dingin. Tetapi karena akan sembahyang, saya paksakan diri untuk mandi, mandi kilat. Seperti capung.
Jumpa sinar mentari pada pagi itu bagai sesuatu yang ‘dicita-citakan’ setelah semalaman bergulat dengan perjuangan yang panjang ditikam kedinginan. Miring sana, miring sini, tengadah, mendengkur, semuanya serba salah.
Nyaris semalaman saya tidak kuat melawan dingin, sampai-sampai harus memakai dua buah selimut bagu saat menelonjorkan tubuh. Entah hanya berapa jam saja saya bisa memejamkan mata. Ini benar-benar rombonan Tirta Yatra juga menceritakan pengalaman yang sama: kedinginan. Dan juga sepakat tidak ingin memperpanjang bermalam di sana.
Namun akhirnya sinar mentari pagi bersua jua, meski bagai malu-malu menusukkan hangatnya. Kawan-kawan tampak sudah semua berpakaian adat, siap sembahyang. Demikian juga Jero Mangku Kariono (bukan Kartono Red), sudah siap untuk memimpin persembahyangan di Pura Ulundanu Ranupane. Jarak pura dengan tempat kami menginap sangat dekat.
Sebelum sembahyangan, sarapan yang disiapkan keluarga Jro Mangku sudah terhidang. Kami sarapan dulu sebelum sembahyang. Lantaran kedinginan, makan bersama pun jadi sangat lahap. “Ayo tambah lagi makanannya,” celetuk Jro Mangku didampingi putri dan menantunya.
Seusai sarapan, kami langsung menuju Pura Ulundanu Ranupane dengan menaiki undak-undak. Areal pura tidak begitu luas. Itu pun, kata Jro Mangku Kariono, lahan milik pemerintah. Pura tersebut dibangun beberapa tahun silam dengan bantuan beberapa donatur, termasuk dari Bali.
Pura terdiri atasi beberapa pelinggih di Jaba Tengan (Madyaning Mandala) dan Jeroan (Utamaning Mandala). Bangunan utama berupa Gedong. Sementara umat Hindu di Desa Ranupane, tercatat masih relatife sedikit, hanya 30 KK.
Setelah upakara dan kelengkapan lainnya siap, Jro Mangku Kariono langsung memimpin persembahyangan. Kami seluruh pemedek berjumlah tujuh orang duduk jadi dua deret, masing-masing dengan dupa yang sudah menyala dan perlengkapan sembahyang lainnya. Bau wangi asap dupa semerbak. Suara genta dan mantra-mantra berbahasa Jawa, bagaikan sontrengan pun mengalun syahdu. Suasana sekitar terasa hening.
Setelah diberi aba-aba mabakti (sembahyang) yang diawali muspa tanpa srana, kami pun sembahyang bersama. Urut-urutannya sesuai panduan Jro Mangku. Diakhiri matirta (air suci) dan nunas bija.
“Ke depannya kami ingin umat Hindu makin banyak sembahyang ke sini (Pura Ulundanu Ranupane), juga umat Hindu dari Bali. Bisa satu paket dengan Pura Mandara Giri Semeru Agung. Seperti di Bali, Pura Ulundanu Batur dengan Pura Agung Besakih,” papar Jro Mangku Kariono.
Matahari makin meninggi. Perjalanan Tirta Yatra hari itu kami lanjutkan ke Pura Luhur Poten Bromo. Jarak tempuh dari Ranupani ke Bromo, lumayan jauh. Ada sekitar 10 kilometer, dengan medan menanjak dan berliku-liku. Ditambah jalanan sempit, diperlukan keterampilan berkendaraan yang mumpuni agar selamat sampai tujuan.
Kami menumpang sepeda motor. Salah seorang pengendara adalah Putu Krisna Aditya Kusuma yang masih SMP. Walau masih remaja, tetapi rupanya ia sudah benar-benar menguasai medan di sana. Buktinya ia menjalankan sepeda motor dengan lincah dan cukup kencang sepanjang perjalanan. Termasuk di jalanan berpasir di lembah Gunung Bromo. Sedang saya yang tumben ke situ, ngeri dalam boncengan, takut jatuh.
Singkat cerita, siang hari kami tiba di lokasi Pura Luhur Poten Bromo. Namun kami tidak langsung bisa masuk ke arel pura, lantaran pintu masuk paling luar pura digembok. Di sana sudah tertera, nomor telepon pemegang kunci. Setelah dihubungi, tidak begitu lama juru kunci datang membaca kunci. Untuk masuk ke Jeroan Pura Luhur Poten Bromo, tidak diperkenanan memakai alas kaki. Pemedek harus menanggalkan alas kaki di Jaba Tengah.
Banten Pejati dan upakara lainnya, segera keunggahang (ditaruh) di pelinggih Padmasana. Padmasana di Pura Luhur Poten Bromo sangat megah dan kokoh. Pura dengan areal sangat luas dan semua pelataran sudah dipaving. Pura ini sangat asri dan resik. Dari areal pura, Gunung Bromo sangat dekat jaraknya.
Persembahyangan di Bromo juga dipimpin Jro Mangku Kariono. Usai sembahyang, kami duduk-duduk dulu di Balai Wantilan. Saya sangat nau (kerasan) berada di Pura Luhur Poten Bromo berlama-lama. Selain tumben pedek tangkil, angin pegunungan yang mendesir, membikin badan terasa sejuk. Tak mudah untuk melupakannya.
- I Made Astra, jurnalis senior tinggal di Denpasar







