Pangdam Larang Gelar Pesta Malam Tahun Baru

Denpasar, LenteraEsai.id- Untuk mengatasi masalah pandemi Covid-19 yang saat ini masih ada, pangdam IX/Udayana, Mayjen TNI Maruli Simanjutak mengimbau kepada masyarakat untuk tidak gelar pesta pada malam pergantian tahun. Selain itu masyarakat diminta untuk ketat menerapkan Protokol Kesehatan (Prokes). 

 

Bacaan Lainnya

“Saya berharap masyarakat tidak bikin acara malam tahun baru yang menimbulkan kerumunan banyak orang. Cukup dirayakan di rumah dengan kelompok kecil untuk menyampaikan rasa syukur kita,” ungkap Pangdam seusai acara temu media di Aula Makodam IX/Udayana, Selasa (29/12) pagi.

 

Pangdam mengatakan saat pertemuan para kepala daerah bersama pemerintah pusat bicara terkait liburan Natal dan Tahun baru banyak yang untuk tidak ada libur. Saat itu pemerintah Provinsi Bali membranikan diri untuk bicara minta tetap dikasi kelonggaran. Itu karena Bali sebagian besar kebutuhannya bergantung pada pariwisata.

 

Memahami hal itu, pemerintah pusat pun memberikan keringanan. Termasuk untuk masalah swab PCR dan swab antigen. Oleh karena itu masyarakat diminta untuk taati betul Prokes. Jika liburan panjang akhir tahun ini bisa berjalan dengan baik maka pemerintah Bali bisa berani bicara dalam forum nasional untuk tambah penerbangan ke Bali.

 

“Ini membutuhkan kerja sama kita semua. Untuk patroli malam tahun baru ada penambahan 2.000 personil gabungan, baik TNI, Polri, Satpol PP, imigrasi, dan instansi terkait lainnya,” ungkap pangdam.

 

Patroli melibatkan imigrasi karena mereka punya peran untuk mengawasi orang asing. Diharapkan dengan melibatkan imigrasi komunikasi di lapangan dapat berjalan dengan baik. “Ada juga warga negara asing yang tidak taat Prokes. Makanya dilibatkan imigrasi,” tutur Pangdam.

 

Dikatakan salah satu kendala dalam menekan kasus Covid-19 ini adalah masih ada masyarakat yang abai dengan Prokes. Meskipun terjadi penurunan jumlah kasus yang terus menerus tiap hari tapi sosialisasi tetap terus dijalankan. Jangan sampai jenuh.

 

Menurutnya sosialisasi tidak boleh jenuh. Harus terus menerus dilakukan. Walaupun sudah ada vaksin harus tetap menerapkan pola 3 M yang dikampanyekan selama ini. “Coba kalau pelaku usaha tegas tidak mau melayani tamu yang tak pakai masker misalnya. Kalau saya boleh sarankan seperti itu. Ini memang sulit. Ini perlu diyakinkan lagi. Sebetulnya pelaku usaha kita mengerti tapi masih ragu-ragu,” tuturnya. (LE-DP).

Pos terkait