Karangasem, LenteraEsai.id – Hidup bahagia di hari tua mungkin menjadi dambaan bagi setiap orang. Sayangnya, hal ini tidak berlaku untuk kehidupan lansia yang bernama Ni Wayan Seledor (70), yang justru menjalani hidup cukup menyedihkan di hari tuanya.
Ditemui baru-baru ini, Wayan Seledor yang tinggal di Bukit Musu Banjar Telengan, Desa Gegelang, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, mengatakan tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan seperti ini.
Semenjak sang suami meninggal dunia karena sakit pada tahun 2006 silam, dia hanya hidup berdua bersama anak satu-satunya. Akan tetapi, nasib malang kembali menghampirinya. Anak laki-laki satu-satunya itu meninggal dunia pula pada 2012.
Setelah itu, untuk beberapa saat Ni Wayan Seledor hidup seorang diri. Tak mau berputus asa, ia mencoba tegar dan mencari penghasilan dengan membuat ‘porosan’, yaitu salah satu alat kelengkapan dalam upacara keagamaan.
Penghasilan dari membuat ‘porosan’ tidaklah seberapa, malah kadang tidak cukup untuk membeli beras. Namun Wayan Seledor tetap melakukan pekerjaan itu, karena ia tidak memiliki keterampilan lainnya.
“Penghasilan sedikit dari bikin ‘porosan’. Akhirnya saya tidak bisa perbaiki saat rumah rusak. Tidak ada biaya untuk membetulkan atap bocor dan kerusakan lainnya. Sekarang rumah jadinya rusak berat, dan saya memilih tinggal bersama keponakan saya Nengah Kasih, karena rumah saya tidak bisa ditinggali lagi,” kata Ni Wayan Seledor dengan ekspresi sedih.
Nengah Kasih adalah keponakan Wayan Seledor. Keluarga Nengah Kasih dengan sikap terbuka menerima Wayan Seledor, meski bukan terbilang keluarga yang mampu secara ekonomi.
Nengah Kasih ini tidak memiliki pekerjaan tetap. Sesekali saja ada panggilan bekerja serabutan. Saat ini, Nengah Kasih hanya mengandalkan kiriman uang yang diberikan oleh anaknya yang bekerja di Denpasar. Dengan uang itulah mereka bisa membiayai hidup sehari-hari dengan pas-pasan. (LE-Jun)







