Padangbai, LenteraEsai.id – Seorang bocah berusia 5 tahun asal Desa Kutampi, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, hendak dirujuk ke RSUD Klungkung karena mengalami sesak nafas, demam tinggi dan muntah. Bocah ini diantar tim medis dan keluarganya dengan boat dari Nusa Penida. Akan tetapi, ketika boat yang ditumpangi hendak bersandar di Pelabuhan Padangbai pada Jumat (17/5/2020) sore sekitar pukul 17.30 Wita, diberitakan terjadi penolakan oleh warga Padangbai.
Akhirnya setelah terombang ambing sekitar sejam lamanya, boat itu pergi dan memilih bersandar di Pelabuhan Bias, Klungkung, walau sesungguhnya pelabuhan tersebut dalam kondisi rusak. Ibu si pasien sampai-sampai basah kuyup ketika membopong anaknya yang sudah dalam kondisi lemas, saat keluar dari boat.
Kondisi ini kontan menjadi pemberitaan viral di media massa dan media sosial, sehingga akhirnya Bendesa Adat Padangbai I Komang Nuriada angkat bicara untuk menjelaskan kesimpangsiuran dalam pemberitaan melalui surat terbuka pada Jumat malam.
Izinkan tityang menyampaikan kronologi sekaligus klarifikasi berita “Penolakan Penurunan Pasien dari Nusa Penida di Padangbai” yang viral di medsos, sebagai berikut.
“Jumat sore sekitar pukul 17.30 Wita tiba-tiba ada boat cepat langsung merapat di Dermaga Rakyat Padangbai tanpa ada komunikasi ataupun kordinasi terlebih dahulu dengan pihak KSOP Padangbai,” kata Nuriada memulai klarifikasi.
Selanjutnya, ujarnya, saat itu ada warga yang kebetulan melihat boat hendak bersandar. Warga langsung menanyakan kepada crew boat tentang kedatangannya karena semua crew boat menggunakan APD lengkap penanganan Covid-19.
Crew boat menjelaskan bahwa boat membawa pasien dari Nusa Penida. Kemudian berselang beberapa menit datang sebuah ambulance dan paramedis yang juga menggunakan APD lengkap.
Melihat hal ini, warga Padangbai menanyakan kepada sopir ambulan, “Pak, kenapa pasien tidak diturunkan di Kusamba, kan lebih dekat dengan RS Klungkung?”
Dijawab: “Kemungkinan di Kusamba ditolak. Mendengar jawaban demikian, sontak saat itu warga jadi khawatir dan meminta agar pasien jangan dulu diturunkan karena perlu standar prosedur kesehatan,” ujarnya.
Menurut dia, warga Padangbai lantas segera menghubungi Ketua Satgas Gotong Royong Covid-19 Padangbai. Setelah Ketua Satgas datang dan berkomunikasi, boat diminta agar mengapung dulu sementara, karena kondisi saat itu warga merasa resah.
Ketua Satgas segera berkordinasi dengan pihak KSOP dan Kesehatan Pelabuhan agar bisa dibantu untuk penanganan pasien tersebut sesuai protokol penanganan pasien terduga Covid-19.
Kurang lebih 20 menit setelah sepakat, boat tersebut maunya disandarkan ke pelabuhan ferry agar dapat tertangani langsung dengan peralatan/protokoler yang telah lengkap yang ada di Kesehatan Pelabuhan Padangbai, tetapi ternyata boat tersebut sudah langsung balik arah dan pergi meninggalkan Pelabuhan Padangbai.
“Kami dari Desa Padangbai tidak pernah menolak pasien diturunkan untuk segera mendapat pertolongan, akan tetapi dengan situasi dan kondisi saat ini serta tidak adanya informasi dan koordinasi kedatangan pasien, maka terjadilah penundaan penurunan pasien tersebut. Kami selaku Bandesa dan Satgas Pencegahan Covid 19 Padangbai mohon maaf apabila terjadi hal yang tidak berkenan kepada warga Nusa Penida, khususnya keluarga pasien. Semoga ke depan hal seperti ini bisa dikomunikasikan dan dikordinasikan terlebih dahulu sehingga kami bisa membantu dan mempersiapkan penanganan secara cepat dan tepat,” kata Bendesa Adat Padangbai. (LE-KR)







