Denpasar, LenteraEsai.id – Gubernur Bali Wayan Koster turut meresmikan beroperasinya pembangkit listrik tenaga surya atap berkapasitas 226 kWp Bali PGU di PT Indonesia Power Bali dan Power Generation Unit, di Denpasar, Senin (24/2/2020).
Pengembangan dan pemasangan dua atap solar panel untuk kepentingan itu dilakukan di area perkantoran PT Indonesia Power Bali, yang masing-masing berdaya 130 Kwp di PLTDG Pesanggaran dan 96 kWp di PLTG Pemaron, dan diperkirakan akan mampu memangkas nilai emisi hingga 41T CO₂.
Pada kesempatanitu, Gubernur Bali menyatakan terima kasih atas undangan dan peresmian pemasangan sistem pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap yang disebutnya sebagai implementasi dari kebijakan yang dijalankan pemerintah di Provinsi Bali.
“Ini kebijakan yang sangat penting, yang harus dipahami lebih dahulu, mulai dari tingkat pusat hingga daerah. Acara ini menyuarakan program dengan spirit baru yang sedang digaungkan di Bali,” ujarnya, menandaskan.
Selama 3 periode di DPR RI, Wayan Koster mengaku sering berdiskusi tentang penyediaan energi baru dan terbarukan. Setelah jadi Gubernur Bali, lebih dalam lagi mempelajari nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan leluhur.
“Ternyata Bali punya nilai yang luar biasa, suatu filosofi yang sangat konkret untuk dijalankan. Itulah yang saya jalankan dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, melalui pola pembangunan semesta berencana menuju Bali era Baru. Hal tersebut bermakna menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya, untuk mewujudkan kehidupan krama Bali yang sejahtera sekala dan niskala,” ujar Gubernur Koster yang juga Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali.
Gubernur Koster melanjutkan, selama ini dirinya berkomitmen untuk menjaga alam beserta isinya, supaya senantiasa suci, bersih dan harmonis. Inilah filosofi dasarnya yang kemudian dituangkan dalam berbagai kebijakan, yang tak hanya untuk memenuhi kebutuhan skala lokal, tapi juga kebutuhan bagi Bali sebagai destinasi wisata dunia yang terbaik.
Kebijakan tersebut antara lain tentang pembatasan timbulan sampah plastik hingga pengolahan sampah berbasis sumber. Kebijakan-kebijakan ini mendapatkan apresiasi yang luas dari dalam dan luar negeri, bahkan ada 5 duta besar yang datang langsung untuk menyampaikan apresiasinya, dan untuk selanjutnya akan belajar bagaimana untuk bisa menerapkannya di negara mereka masing-masing.
“Energi adalah kebutuhan vital kita. Namun harus energi bersih yang kita supply. Selama ini banyak yang menggunakan bahan bakar yang tidak ramah lingkungan, hasilkan polusi udara. Maka saya berinisiatif untuk mengeluarkan suatu kebijakan Bali energi bersih dan Bali mandiri energi,” ujarnya.
Kebutuhan energi Bali saat ini 350 mW datang dari Paiton, Jawa Timur. Sedangkan pembangkitknya masih menggunakan batubara. “Padahal kebijakan kami di Bali ingin menggunakan energi baru terbarukan. Untuk itu, dicanangkan kebijakan energi baru terbarukan, minimum dengan bahan bakar gas. Maka pembangkit listrik yang menggunakan minyak dan batubara akan disudahi jika penggantinya sudah siap,” katanya dengan menekankan bahwa semua pihak harus mengikuti arah kebijakan yang diterapkan di Bali.
Ini juga, lanjutnya, sebagai pendukung citra pariwisata yang berkualitas, bukan pariwisata murahan. Terlebih, respon negara luar terhadap pariwisata Bali saat ini sangat bagus.
“Kita kembangkan dan jalankan dahulu, baru akan kita kembangkan lebih besar lagi. Fenomena sekarang, orang akan kembali ke sesuatu yang lebih sehat, sehingga paradigma ke depan arahnya akan menuju ke sana semua, termasuk di sektor energi. Kita harus mampu menangkap arah fenomena ini menjadi satu kebijakan baru,” ujarnya.
Gubernur menyebutkan, di hilir pun, penggunaan kendaraan pun harus menggunakan energi bersih. Untuk itu telah dicanangkan Pergub penggunaan kendaraan listrik berbasis baterai. Terkait ini, mendatang akan dikurangi sepeda motor dengan BBM. Tak hanya itu, akan dikembangkan industrinya di sini, sehingga Bali juga akan menjadi produsen kendaraan listrik.
“Kami akan tancap gas, segera kumpulkan semua bupati, pengelola hotel, supermarket, properti, untuk mengintruksikan penggunaan panel tenaga surya (rooftop) sebagai persyaratan. Saya akan gelar rakor untuk sosialisasi program ini dan mulai jalankan. Saya akan dukung penuh kebijakan ini, termasuk rencana solar cell di tol Bali Mandara. Tak hanya itu juga di lahan-lahan kosong, kantor pemerintahan, dan lainnya. Saya mohonkan rencana aksi konkretnya untuk gerakan itu. Rencana ini akan saya percepat dalam waktu setahun hingga 2 tahun. Ini soal perubahan perilaku lama ke perilaku baru. Saya punya keyakinan ini akan bisa. Konversi kayu bakar ke kompor gas saja bisa berjalan. Akan saya tegaskan terutama ke industri wisata, supaya Bali ini keren. Tidak hanya ramah lingkungan tapi juga efisien. Plus ditambah lembaga riset dan diklat energi baru terbarukan di Bali. Saya kira dari hulu hingga hilir bisa dijalankan di Bali dan Bali bisa jadi percontohan untuk daerah lainnya. 5 tahun kepemimpinan saya harus progresif penerapannya,” ujar Gubernur Koster, penuh semangat.
Pada Kesempatan itu, Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konversi Energi Kementerian ESDM FX Sutijastoto menyatakan, Pergub No 45 tahun 2019 Provinsi Bali adalah langkah awal yang penting untuk mendukung program pemerintah di bidang energi baru terbarukan.
Ini juga menjadi bagian dari kebijakan keberlangsungan di aspek lingkungan, sebagai komitmen nasional dan rangkaian aksi mitigasi iklim global. Energi baru terbarukan di Indonesia baru mencapai 8,85% di tahun 2019 dan itu masih jauh dari target, katanya.
Keberadaan energi baru terbarukan di Bali sangat penting artinya karena Bali adalah show case Indonesia di mata dunia, dengan potensi yang sangat besar. Teknologi energi terbarukan sekarang sudah demikian berkembang. Contohnya teknologi pembangkit listrik tenaga surya harganya sudah sedemikian terjangkau, hingga 5 sen per kWh, tidak semahal dahulu. Aplikasinya pun mudah, murah dan bisa dilakukan sendiri oleh masyarakat.
“Kondisi ini bisa jadi jalan yang lancar untuk kebijakan Bapak Gubernur Bali dan mari kita dukung bersama, bersinergi dengan PLN,” ujarnya, menekankan.
Dia melanjutkan, gerakan pemasangan solar cell akan menyasar terlebih dahulu gedung-gedung pemerintahan, rumah ibadah dengan kontribusi dari APBN. Sudah ada surat edaran kari Kementerian ESDM untuk itu. Dan jika nantinya proyek ini berhsil, Bali pun bisa jadi produsen solar panel dan sekaligus menjadikan Bali sebagai center of excelent energi baru terbarukan di Indonesia.
Hadir pula dalam acara tersebut, Dirut Indonesia Power M Ahsin Sidqi beserta jajaran direksi dan komisaris PT Indonesia Power. (LE-DP1)