Karangasem, LenteraEsai.id – Usai dilanda pandemi Covid-19, dunia pariwisata belakangan mulai terlihat bangkit. Namun tak lama berselang, sejumlah pengusaha hotel dan restauran di Karangasem, Bali kembali dibuat galau dengan naiknya harga BBM.
Sejumlah pengusaha hotel dan restauran di wilayah kabupaten Bali bagian timur itu, ketika dihubungi Selasa (6/9) mengungkapkan, kenaikan harga BBM berpengaruh terhadap biaya operasional seperti transportasi dan pengadaan gas elpiji. Padahal, saat ini akomodasi pariwisata di Karangasem sedang mencoba bangkit dari keterpurukan setelah dihantam pandemi Covid-19.
Ketua PHRI Karangasem I Wayan Kariasa yang dihubungi terpisah membenarkan bahwa kenaikan harga BBM dan gas elpiji berpengaruh pada kondisi akomodasi hotel dan operasional restauran di wilayahnya.
“Sebelum harga BBM dinaikkan, harga gas LPJ sudah terlebih dadulu melambung cukup signifikan, di mana untuk ukuran 12 kg yang dulunya di kisaran Rp110 ribu, kini dalam seminggu terakhir tiba-tiba naik menjadi Rp165 sampai Rp250 ribu per tabung di tingkat pengecer,” ujarnya.
Begitu juga untuk tabung ukuran 50 kilogram, yang mana harga sebelumnya Rp600 ribu kini mencapai Rp1 juta lebih per tabungnya, kata Wayan Kariasa, menjelaskan.
Sehubungan dengan itu, lanjut dia, secara otomatis biaya produksi hotel dan restauran akan jadi meningkat. Celakanya, di satu sisi harga-harga belum dapat langsung dinaikkan begitu saja, mengingat masih dalam upaya ‘mengundang’ kehadiran wisatawan untuk berkenan datang.
“Dengan adanya kenaikan harga BBM secara otomatis dari sisi transport juga naik, kemudian kebutuhan-kebutuhan pokok juga naik sehingga sektor pariwisata khususnya hotel dan restoran cukup merasakan dampak dari kenaikan harga BBM ini,” ucapnya, menandaskan.
Dengan begitu, kata Kariasa, pihaknya berharap pemerintah dapat melakukan atensi terhadap hal tersebut, antara lain dengan mengontrol pekembangan harga bahan pokok serta stok ketersedian gas di masyarakat, sehingga harganya bisa ditekan seuai harga yang ditetapkan oleh pemerintah.
“Kemungkinan nantinya juga akan berpengaruh terhadap daya beli para wisatawan, yang mana sekarang ini harga tiket pesawat juga naik tajam sehingga para wisatawan yang rencananya liburan 2 minggu diduga akan menjadi 7-10 hari dan ditambah daya beli mereka juga menurun,” ungkap Kariasa, menyampaikan. (LE-Ami)







