Badung, LenteraEsai.id – Sejak 1 Januari 2022, I Ketut Suwita SPd MPd tercatat menjabat Kepala Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 11 Denpasar. Ia menggantikan Plt Kepala SMAN 11, I Ketut Sumandhi Arta SPd MPd yang sehari-harinya selaku Kepala SMAN 1 Kuta, Kabupaten Badung.
Sebelumnnya, Suwita yang kelahiran Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung itu bertugas di SMAN 1 Kuta Selatan. Di situ ia menjabat seorang wakil kepala sekolah dan mengajar mata pelajaran fisika. Menurutnya, memimpin sekolah baru menjadi tantangan sekaligus peluang.
“Pertama kali diangkat pegawai tahun 1998, saya bertugas di SMAN 1 Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Saya suka di sana, apalagi ketika itu masih teruna (lajang). Tiga bulan sekali saya baru pulang ke Kutuh,” papar Suwita dalam perbincangan dengan pewarta LenteraEsai,id (LE) pada Sabtu, 2 April 2022 di SMAN 1 Kuta, Badung.
Ayah empat anak itu menceritakan, setelah menamatkan SMA, ayahnya sempat menyampaikan bahwa hanya bisa membiayai dirinya ke perguruan tinggi pendidikan. Maksudnya yang ada program studi (prodi) untuk menjadi guru. Karena itu, pilihannya kemudian jatuh ke Universitas Ganeca, Singaraja, untuk Prodi Fisika.
Setelah lulus dengan mengantongi ijazah dan gelar MPd, tahun 1998 ada formasi guru, termasuk guru bidang studi fisika. Tetapi Suwita mengaku saat itu tidak ikut mengajukan lamaran.
Jelang dua hari penutupan pendaftaran, jelas Suwita, ada kejadian menarik. Apa itu?. “Saya didatangi seorang teman ke rumah. Teman itu dengan nada heran menanyakan, mengapa tidak ikut melamar menjadi guru ?. Padahal formasi untuk guru bidang studi fisika cukup banyak, yakni 60 orang,” ceritanya dengan mimik wajah serius.
Akhirnya atas desakan dan dorongan temannya itu, Suwita ikut mengajukan lamaran menjadi guru. Padahal waktu cukup sempit untuk menyiapkan administrasi sesuai persyaratan. Dirinya harus ke Singaraja untuk mengesahkan fotocopy ijazah dan menyiapkan adminisrasi lainnya. Berpacu dengan waktu, selesai juga ia mengumpulkan persyaratan melamar. Setelah melalui proses tes tulis dan interview, Suwita dinyatakan lulus.
“Kemudian hari setelah menjadi guru, saya renung-renungkan peristiwa yang dialami. Seperti ayah yang ‘ngotot’ agar saya jadi guru. Teman yang datang juga ‘ngotot’ agar saya ikut melamar jadi guru. Merenung tentang itu semua, saya akhirnya berkesimpulan ada suatu perintah secara niskala agar saya menjadi tenaga pengajar,” katanya, mengenang.
Dari untaian kisah yang dialami, Suwita dalam hati yang tulus akhirnya berkomitmen dan berjanji mendedikasikan hidupnya menjadi seorang pendidik (guru), yang bertang jawab untuk mencerdaskan dan mengembangkan potensi anak didik.
“Saya sudah komit untuk menjadi tenaga pendidik, walaupun sebenarnya banyak godaaan, seperti terjun ke bisnis pariwisata, karena di wilayah saya merupakan daerah pariwisata yang terus berkembang. Terutama sebelum pandemi Covid-19 melanda Bali,” ujarnya, bersemangat.
Menyinggung setelah menjabat Kepala SMAN 11 Denpasar, apa saja langkah-langkah yang akan dilakukan. Ia menyebut, ini merupakan tantangan dan peluang. Tantangan dimaksud, bagaimana dirinya berkoordinasi, bekerja sama, berjuang bersama stakeholder, supaya mampu mewujudkan proses belajar mengajar dengan maksimal di SMAN 11 Denpasar.
Untuk kepentingan itu, Suwita menyebutkan bahwa dirinya harus secepatnya berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Provinsi Bali, terkait kelanjutan proyek pembangunan gedung Kantor SMAN 11. Juga kelengkapan mebelair (bangku, kursi dll), serta mengenai pengisian tenaga guru dan pegawai administrasi sekolah nantinya.
Sedang peluangnya, tentu untuk mengembangkan jenjang karier. Karena setiap kinerja ada penilaian dari atasan, ujar Suwita.
Ia mengungkapkan, SMAN 11 Denpasar hingga kini masih bergabung dalam satu atap dengan SMAN 1 Kuta. Baru memiliki siswa angkatan pertama enam kelas, sementara tenaga pengajar masih guru-guru SMAN 1 Kuta.
Seperti diketahui, tahun 2021/2022 Pemerintah Provinsi Bali membuka sejumlah SMA Negeri dan SMK Negeri di sejumlah daerah di Bali. Termasuk SMAN 11 Denpasar, yang sekaligus langsung merekrut calon siswa. Tetapi gedung sekolahnya sendiri belum ada. Sekolah-sekolah baru itu masih ‘nebeng’ di sekolah-sekolah yang telah duluan ada. SMAN 11 Denpasar misalnya, ‘nebeng’ di SMAN 1 Kuta.
“Jadi ‘nebeng’ dulu di SMAN 1 Kuta. Setelah itu baru menyusul dibangun gedung untuk SMAN 11 Denpasar yang dilakukan secara bertahap, dan kini masih menunggu proses penyelesaian secara tuntas,” ucapnya, menyampaikan. (LE-Ima)







