Denpasar, LenteraEsai.id – Ethiopia adalah negara yang pernah dilanda kekeringan dan bencana kelaparan. Sejak bencana alam itu terjadi, justru sumber daya Ethiopia berkembang. Pertumbuhan ekonomi rata-rata menjadi lebih dari 10%, menjadi negara dengan tingkat perekonomian tertinggi di kawasan Afrika. Investasi berkembang luar biasa. Termasuk investasi-investasi yang berasal dari Indonesia.
Hal tersebut disampaikan oleh Al Busyra Basnur selaku Duta Besar Republik Indonesia Untuk Ethiopia merangkap Djibouti dan Uni Afrika dalam Webinar KOPITU pada 7 September 2021. Selain Dubes Al Busyra, Webinar tersebut juga dihadiri oleh Ismail Wahab selaku Direktur Serealia Direktorat Jenderal Tanaman Pangan yang mewakili Dirjen Tanaman Pangan Suwandi, Tim Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Yoyok Pitoyo selaku Ketua Umum KOPITU, Anang Noegroho selaku Direktur Pangan dan Pertanian Bappenas, dan Arif Satria selaku Rektor IPB.
“Persoalan yang dihadapi pertanian Ethiopia di antaranya adalah pupuk, pestisida, air dan pemasaran. Dengan berbagai masalah yang dihadapi oleh keterbatasan sumberdaya, Ethiopia mampu mengandalkan komoditas kopi, minyak biji-bijian, bunga potong segar, dan sayur potongan kering sebagai unggulan ekspor. Sedangkan mitra eksport utama di antaranya adalah Somalia, Belanda, Amerika, Saudi Arabia, UAE, dan Jerman,” kata Yoyok.
“Sudah dilihat bersama, sejauh mana teknologi bisa membawa kita. Dalam hal ini saya sungguh ingin mengajak kepada segenap petani Indonesia, untuk bersama-sama dan segera menggunakan teknologi-teknologi handal yang tersedia. Potensi kita lebih banyak dari Ethiopia, saya yakin kita bisa mencapai kemajuan yang lebih dari Ethiopia dengan teknologi yang tepat guna,” ucapnya.
Sementara Anang Noegroho menyebutkan, tantangan dalam hal ini juga tidak terlepas dari pendekatan-pendekatan infrastruktur yang krusial dalam sistem pertanian. Seperti diketahui bersama bahwa irigasi pertanian saat ini masih banyak mengalami pengembangan.
“Jika melihat Ethiopia, kita seharusnya bisa sadar bahwa kerja sama pemutakhiran teknologi tepat guna sangat diperlukan.Terlebih lagi dalam masa pandemi saat ini, kemudian dengan climate change yang terus berjalan, ditambah lagi dengan adanya perkembangan Industri 4.0,” ujar Arif Satria.
“Untuk meningkatkan perkembangan pertanian dan sebagai langkah pemulihan ekonomi nasional, pihak kami sudah membuat dan memetakan CB atau Cara Bertindak sebagai panduan dasar. Untuk produksi beras sendiri kita nomor 2 di Asia Tenggara. Ini artinya kita memiliki daya saing yang tinggi dalam hal produktivitas pertanian,” ujar Ismail. (LE-DP)







