Jamu dan Pijat Tradisional Jadi Andalan, Indonesia Bidik Pasar Wisata Kebugaran Global

Niluh Puspa
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa - (Foto: Dok Antara)

Jakarta, LenteraEsai.id – Tradisi merawat tubuh dan menenangkan pikiran yang diwariskan turun-temurun kini menjadi salah satu modal Indonesia untuk mengembangkan wisata kebugaran (wellness tourism). Mulai dari racikan jamu berbahan rempah, loloh khas Bali, hingga pijat tradisional yang telah dikenal wisatawan mancanegara, kekayaan budaya tersebut dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat daya saing pariwisata Indonesia di pasar global.

Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa mengatakan, wisata kebugaran bukanlah konsep baru bagi masyarakat Indonesia. Praktik menjaga kesehatan fisik dan keseimbangan diri telah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di berbagai daerah.

Bacaan Lainnya

“Tidak usah ditanya lagi apa yang tidak kita punya di Indonesia. (Pada wisata) kebugaran ini sudah sangat mengakar dalam kehidupan sehari-hari kita,” kata Ni Luh saat berkunjung ke ANTARA Heritage Center (AHC) di Jakarta, Kamis.

Menurutnya, kekuatan wisata kebugaran Indonesia tidak hanya terletak pada perawatan fisik, tetapi juga mencakup keseimbangan pikiran, jiwa, raga, serta makanan yang dikonsumsi. Setiap tradisi memiliki makna dan filosofi tersendiri yang dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Salah satu contohnya adalah jamu, minuman tradisional berbahan rempah-rempah yang telah lama dikenal masyarakat Indonesia. Di Bali, tradisi serupa hadir melalui loloh, minuman herbal yang dibuat menggunakan bahan-bahan alami.

Keduanya tidak hanya menawarkan pengalaman kuliner, tetapi juga memperkenalkan pengetahuan tradisional masyarakat dalam memanfaatkan kekayaan alam yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Pijat Tradisional Jadi Daya Tarik Wisata Dunia

Selain minuman herbal, pijat tradisional menjadi bagian penting dari potensi wisata kebugaran Indonesia. Berbagai daerah memiliki teknik pemijatan khas yang diwariskan secara turun-temurun, termasuk tradisi perawatan tubuh yang berkembang sejak masa kerajaan.

Pengalaman tersebut kerap dilengkapi penggunaan minyak aromaterapi dengan aroma khas daerah, sehingga menghadirkan perpaduan antara perawatan tubuh, budaya, dan pengalaman relaksasi.

Ni Luh menilai, pijat tradisional Indonesia memiliki peluang besar untuk terus diperkenalkan ke pasar internasional. Hal itu terlihat dari semakin dikenalnya teknik pijat Bali dan Jawa di kalangan wisatawan mancanegara.

“Leluhur kita punya tradisi pijat bahkan saat ini Balinese dan Javanese massage sudah sangat mendunia. Saya pikir ini adalah suatu kekuatan yang perlu kita kuatkan di kancah global bahwa Indonesia sangat kaya,” ujarnya.

Menurutnya, kekayaan tersebut perlu diperkuat melalui pengembangan produk dan pengalaman wisata yang mampu mengangkat keunikan budaya Indonesia sekaligus memenuhi kebutuhan wisatawan modern.

Tren Wisata Bergeser ke Pengalaman Personal

Ekosistem wisata kebugaran kini juga berkembang dengan hadirnya berbagai aktivitas yang memadukan latihan fisik, meditasi, dan relaksasi, seperti yoga dan pilates.

Ni Luh menyebut Kementerian Pariwisata melihat potensi wisata kebugaran sebagai salah satu penggerak ekonomi yang dapat memberikan manfaat lebih luas bagi industri pariwisata nasional.

Kementerian Pariwisata turut mendorong pengembangan wisata gastronomi dan bahari sebagai bagian dari upaya membangun pariwisata berkualitas dan berkelanjutan. Untuk memperkenalkan kekayaan tersebut, kementerian berkolaborasi dengan pelaku industri melalui berbagai kegiatan, termasuk Wonderful Indonesia Wellness (WIW) dan Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG).

Kedua kegiatan itu menjadi sarana untuk memperkenalkan daya tarik wisata kebugaran dan gastronomi Indonesia kepada wisatawan domestik maupun mancanegara.

Potensi tersebut semakin relevan setelah pandemi COVID-19, ketika preferensi wisatawan mulai bergeser menuju pengalaman perjalanan yang lebih personal dan bermakna.

Jika sebelumnya wisatawan cenderung memilih destinasi ramai dan perjalanan berkelompok, kini sebagian wisatawan lebih tertarik pada akomodasi privat, suasana alam, serta aktivitas yang memberikan ketenangan dan kesempatan berinteraksi dengan masyarakat lokal.

“Dulu wisatawan banyak berada di kota yang ramai, kemudian mulai mencari yang lebih ke alam, yang berhubungan dengan warga lokal. Jadi sesuatu yang benar-benar membawa mereka pada titik kedamaian tertentu dan menjadi salah satu alasan yang mengubah arah pariwisata kita secara keseluruhan,” kata Ni Luh.

Pergeseran tren tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk mengemas jamu, loloh, pijat tradisional, yoga, dan berbagai praktik kebugaran lokal menjadi pengalaman wisata yang khas. Dengan pengembangan yang terarah, warisan leluhur tidak hanya dapat dipertahankan, tetapi juga menjadi bagian dari daya tarik pariwisata Indonesia di tingkat dunia. (LE-Ant)

Pos terkait