judul gambar

Pembuat Film Lokal Jadikan Balinale Pintu Menuju Oscar

Pembuat film lokal jadikan Balinale pintu menuju Oscar
Pembuat film lokal dan internasional buka festival film internasional Balinale ke-19 di Denpasar, Bali, Senin (1/6/2026). (ANTARA/Ni Putu Putri Muliantari)

Denpasar, LenteraEsai.id – Para pembuat film tanah air menjadikan Bali International Film Festival (Balinale) ke-19 sebagai pintu masuk menuju cita-cita masuk ajang perfilman dunia, Oscar.

“Balinale ini salah satu festival film terbesar di Indonesia terutama untuk kualifikasi Oscar, orang akademinya juga hadir, jadi ini pintu yang sangat luas juga bagi pembuat film Indonesia, belum ada film kita yang masuk kualifikasi banget jadi ini kesempatan sangat besar,” kata Sutrada Film Holy Salt Mirza Nadlar Mazini di Denpasar, Senin.

Bacaan Lainnya

Mirza merupakan mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ) yang bersama timnya berhasil lolos kurasi Balinale 2026, mereka menjadi salah satu pembuat film lokal yang masuk daftar tahun ini.

Kepada media ia bercerita bahwa sejak awal mengikuti seleksi mereka tak berani berekspektasi tinggi, mendaftar di festival besar ini akan dijadikan pengalaman namun ternyata mereka justru lolos dengan film pendek yang menceritakan kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap garam rukiyah yang diperjualbelikan.

“Dosen kami mengajarkan bahwa distribusi itu penting akhirnya kami coba, kami tidak tahu akan masuk karena ini festival bisa kualifikasi Oscar, film-film di sini sangat bergengsi, jadi punya harapan ke Oscar itu ada, tapi kami jadikan Balinale pertama kami ini sebagai tempat belajar,” ujar Mirza.

Film pendek garapan mahasiswa itu mengambil realitas kehidupan sekitar mereka di Jakarta, di mana banyak ditemukan umat Islam yang menjual garam rukiyah dengan harga mahal dan membohongi orang-orang.

Mirza yang lulusan pesantren itu bahkan mengkonfirmasi ke guru spiritual dan sejumlah ustadz bahwa itu takhayul, namun para oknum memanfaatkan keluguan masyarakat yang mudah percaya.

Kisah-kisah yang dekat dengan kehidupan ini menurut Pendiri dan Direktur Festival Balinale Deborah Gabinetti menjadi salah satu keunikan film Indonesia yang membuat para kurator tertarik.

“Film-film Indonesia berasal dari cerita yang sangat pribadi bukan aspek komersial, datang dari hati ada sejarah di sana, ada warisan yang ingin mereka bawa ke dalam cerita, itu lah yang menarik bagi penonton menunjukkan sesuatu yang berbeda,“ ujarnya.

Dalam proses kurasi, Balinale yang mendapat kualifikasi Oscar menyadari tantangan untuk tidak sembarang meloloskan film, terbukti mereka melakukan empat lapis proses kurasi.

Akhirnya tahun ini Balinale ke-19 hadir dengan 94 film dari 38 negara, di mana 26 judul di dalamnya adalah karya pembuat film Indonesia.

Deborah menyampaikan tahun ini festival film internasional itu akan berlangsung dari 1–7 Juni 2026 di Icon Bali Mall sebagai pusat pemutaran, serta The Meru Sanur sebagai venue terpilih untuk rangkaian program festival.

“Festival film ini untuk dampak ekonominya sangat penting bagi destinasi manapun, target kami 8.000 orang pengunjung, dan saya rasa kita punya program yang cukup dan kita punya beberapa film yang luar biasa, festival ini menjadi ruang pertemuan bagi sineas, penonton, pelaku industri, komunitas, dan mitra lintas negara untuk merayakan cerita- cerita yang menggerakkan, menantang, dan menginspirasi,” tuturnya. (LE)

Source: ANTARA

Pos terkait