Atlanta, Amerika Serikat, LenteraEsai.id – Gamelan adalah jalan hidup seorang Darsono Hadiraharjo, Direktur Ansambel Gamelan Jawa Emory University, Atlanta, Amerika Serikat (AS), yang bahkan sudah ditapakinya sejak dalam kandungan.
Ayahnya adalah Saguh Hadiraharjo atau Ki Saguh Hadi Carito, seorang pengrawit yang juga dalang. Ibunya, Nyi Panuti, berprofesi sebagai sinden.
Ki Saguh cukup disegani di kalangan seniman Jawa Tengah. Pada tahun 1980-an, dia memimpin sebuah grup karawitan bernama Karawitan Ngudi Laras yang sering memproduksi rekaman kaset di bawah label Fajar Record.
“Ayah saya juga sempat menjadi anggota Ki Nartosabdo,” ujar Darsono, merujuk kepada Ki Nartosabdo, seniman dan dalang wayang kulit legendaris asal Klaten, Jawa Tengah.
Pengabdian ayah dan ibunya pada seni karawitan Jawa membuat mereka sering berkeliling. Begitu pun saat Nyi Panuti hamil Darsono, si bungsu dari delapan anak mereka.
Itu yang membuat Darsono langsung akrab dengan kesenian Jawa, begitu dia lahir di Desa Wadunggetas, Wonosari, Klaten, pada 22 September 1979.
Menginjak sekolah dasar (SD), Darsono mulai serius belajar gamelan, ansambel dalam karawitan yang diyakini sudah ada sejak tahun 404 Masehi.
Dari suka, timbullah rasa cinta. Perasaan mendalam tersebut membuat Darsono melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) di Surakarta, Jawa Tengah, pada 1995. Untuk pertama kalinya, dia berpisah dari orang tuanya.
“Saya ngekos (Indekos) di Solo,” kata Darsono.
Lulus dari SMKI, Darsono meneruskan pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI), kini Institut Seni Indonesia (ISI), Surakarta, mulai 1998. Tentu saja dia mengambil jurusan karawitan dengan fokus di gamelan.
Di STSI, bakat Darsono semakin terasah. Selama kuliah, dia sudah dipercaya tampil di banyak panggung meski baru tingkat lokal.
Kepiawaiannya yang di atas rata-rata membuat Darsono mampu menyelesaikan kuliah hanya dalam waktu sekitar 3,5 tahun, tercepat dari semua rekannya, dengan predikat cumlaude.
Akan tetapi, hal yang mengubah hidupnya tidak datang ketika dia sudah lulus, tetapi persis beberapa saat sebelum itu.
Darsono berkisah, ketika di ujung semester terakhirnya, dosen sekaligus pimpinan STSI Surakarta, Rahayu Supanggah, menawarinya untuk mengikuti seleksi I La Galigo, sebuah pertunjukan teater musik yang diangkat dari naskah sastra klasik Sulawesi Selatan dan direncanakan bergulir pada 2004.
Rahayu Supanggah, seorang jenius karawitan yang kala itu berstatus komposer I La Galigo, langsung menemui Darsono yang dalam masa ujian semester pamungkas.
Waktu itu dia tidak tahu apa itu I La Galigo. Meskipun demikian, dia langsung menjawab mau kepada san dosen.
Darsono pun berangkat untuk mengikuti seleksi di Bali. Setelah melewati serangkaian tahap, Darsono dinyatakan menjadi salah satu pemusik karawitan di I La Galigo yang pertunjukannya diarahkan oleh sutradara asal AS Robert Wilson.
Darsono bersama puluhan seniman tanah air terpilih menjalani pertunjukan I La Galigo pertama mereka di Esplanade – Theatres on the Bay, Singapura, Maret 2004.
Pertunjukan di Singapura itu pengalaman pertama dia bermain secara profesional di luar negeri. Kala itu, Darsono terkesima dengan panggung pertunjukan yang sangat megah.
Pada perjalanannya, Darsono, tidak hanya tumbuh sebagai seniman karawitan, tetapi juga dalang dan komponis gending Jawa.
Tawaran mengajar
Bukan cuma Singapura, I La Galigo juga dipertontonkan di banyak negara. Darsono pun turut berkeliling, termasuk tur ke Eropa, di mana mereka bermain di beberapa tempat, termasuk Spanyol, Prancis, Italia, dan Belanda.
Tahun 2005, mereka singgah di New York, Amerika Serikat, untuk menggelar pertunjukan di Lincoln Center for Performing Arts, Manhattan.
Ternyata, pergelaran itu disaksikan oleh seorang perwakilan dari Wesleyan University, sebuah perguruan tinggi AS yang mempelajari gamelan sejak tahun 1960-an. Wesleyan Unversity berada di Middletown, Connecticut, sekitar 169 kilometer dari New York.
Perwakilan Wesleyan kemudian menemui Rahayu Supanggah secara pribadi dan meminta Darsono untuk mengajar gamelan di sana.
Mulanya, Darsono bimbang karena sudah terikat kontrak dengan I La Galigo yang masih akan berkarya di banyak tempat. Dia akhirnya menerima tawaran tersebut, apalagi Rahayu Supanggah mendorongnya untuk terus mencari pengalaman sebanyak-banyaknya di luar negeri.
Dia mengajar di Wesleyan University mulai 2005. Darsono pribadi tidak mengetahui alasan mereka memilihnya. Dia mendiga, tim dari Weslevan University melihat track record dan nilai akademik. Nsmun, bisa juga karena ada rekomendasi dari si dosen.
Darsono pun mengajar gamelan di Wesleyan University dari tahun 2005-2007. Dalam waktu yang bersamaan, dia juga mengasah pengetahuan dan kemampuan gamelan mahasiswa di Smith College, Northampton, Massachusetts.
Jaraknya sekitar satu jam dari Connecticut. Waktu itu dia diberikan asisten dari kampus (Wesleyan), sekaligus menjafi pengantar ke Smith College. Asisten itu adalah mahasiswa S3 di Wesleyan yang risetnya tentang gamelan. Darsono bersyukur, walaupun “hanya” lulusan S1, tetapi mengajar banyak mahasiswa S2 dan S3.
Dua tahun di AS, Darsono pulang ke Indonesia. Dia menjadi pengrawit utama di Pura Mangkunegaran, Surakarta, dengan spesialisasi alat musik kendang. Selain itu, dia menjadi dosen kontrak di STSI/ISI Surakarta dan mengajar gamelan secara privat.
Darsono baru kembali lagi ke AS pada tahun 2017 karena permintaan untuk menyebarkan ilmu gamelannya. Dia pun berpindah-pindah ke berbagai universitas di AS untuk mengajar. Di luar Weslevan dan Smith College, dia juga berkarier di Tufts University, Yale University, Bates College dan pernah menjadi visiting scholar di Cornell University.
Selama empat tahun terakhir, Darsono mengajar di Emory University, Atlanta, di mana dia menjadi Direktur Ansambel Gamelan Jawa.
Tantangan
Menurut Darsono, satu tantangan yang dihadapinya saat menyebarkan ilmu gamelan di Amerika Serikat adalah perbedaan budaya dan latar belakang seni.
Perbedaan itu terletak pada tangga nada musik sangat berbeda.
Darsono harus mengatasi pula dampak dari sifat individualistis masyarakat AS yang memengaruhi cara mereka bermain musik.
Dia mencontohkan, bagaimana mahasiswanya kerap hanya fokus ke alat musiknya sendiri saat bermain gamelan. Mereka cenderung tidak mau mendengar lantunan dari alat musik lainnya yang membuat nada menjadi tidak merdu.
Darsono menduga hal itu ada hubungannya dengan sifat individualistis. Di AS, katanya, kalau belajar piano, maka fokus saja piano. Saat pentas, tinggal mengikuti notasi. Sementara seni musik Indonesia atau umumnya dari Timur, biasanya bersifat komunal. Belajar satu instrumen harus mengerti pula instrumen yang lain.
Alih-alih terbebani, Darsono justru termotivasi dengan kondisi itu dan di sinilah sisi Indonesianya mengambil peran. Dengan pendekatan kekeluargaan, Darsono banyak berkomunikasi dengan mahasiswa dan meminta mereka menurunkan ego saat bermain gamelan.
Darsono tahu, ego dapat diruntuhkan dengan empati. Oleh sebab itu, dia mengajak mahasiswanya masuk lebih dalam. Gamelan bukan cuma bunyi, tapi harmoni. Setiap nadanya merupakan hasil dari budaya dan perjalanan sejarah yang panjang.
Pendekatan seperti itu menghasilkan murid yang mengerti. Mahasiswa-mahasiswa Darsono tidak lagi menganggap gamelan dan karawitan sebagai musik biasa, melainkan wujud dari peradaban satu negara besar bernama Indonesia.
Darsono menerapkan metode itu di semua kelas gamelannya yang bukan cuma di AS, tetapi juga di negara-negara Eropa serta Asia, misalnya Jepang dan Singapura, saat dia berkesempatan berbagi ilmu di sana.
Saking mendalaminya, banyak mahasiswa asing Darsono yang akhirnya datang dan mengasah wawasannya langsung di Indonesia. Ada pula yang sampai menikah dengan orang Indonesia.
Mahasiswa-mahasiswa Darsono yang sudah menjadi alumni, kini turut menyebarkan gamelan di AS, seperti Phil Acimovic yang mengajar gamelan di Yale University, Connecticut, lalu Anne Stebinger dan Jon Rea yang menjadi co-director Gamelan Kusuma Laras (kelompok orkes gamelan Jawa) di New York, serta Claire Fassnacht dan Alex Yoffe, direktur artistik Friends of the Gamelan (Frog), yang berbasis di Chicago.
Darsono melihat, mereka semua sudah seperti orang Jawa, orang Indonesia. Dia merasa sangat bangga dengan fakta tersebut.
Kemampuan dan keahlian Darsono di bidang karawitan mendapatkan pengakuan internasional.
Di kalangan akademisi dan seniman karawitan, nama Darsono begitu terang. Ada yang menyebutnya maestro, ada pula yang menganggapnya sebagai salah satu duta budaya Indonesia di mancanegara.
Dia tidak pernah lelah memperkenalkan Indonesia melalui gamelan di setiap tempat yang disinggahinya.
Emory University sangat menghargai kehadiran Darsono di kampus mereka. Di Emory, Darsono mendapatkan rasa hormat yang memang pantas diberikan untuknya.
“Darsono adalah seorang musisi karawitan paling terkemuka, di dalam maupun luar Surakarta. Dia mengajar dan menginspirasi banyak generasi muda yang terkesan dengan improvisasinya pada berbagai instrumen gamelan,” tulis Emory University dalam laman resminya. (LE)
Source: ANTARA








