judul gambar

Nikolaas Lineleyan dan Indonesia Mini di Pusat Kota Miami

Nikolaas Lineleyan dan Indonesia mini di pusat kota Miami
Pemilik restoran Indonesia di Miami, Bali Cafe, Nikolaas B Lineleyan. (ANTARA/Michael Siahaan)

Miami, Amerika Serikat, LenteraEsai.id – Ketika meminta rekomendasi Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Houston, Amerika Serikat, soal siapa WNI di kawasan Miami, Florida, yang kisahnya layak diketahui publik tanah air, nama Nikolaas B Lineleyan muncul.

Berbekal kontak dari KJRI Houston, ANTARA menghubungi Nikolaas lewat aplikasi pesan dari Jakarta, untuk meminta waktu wawancara tatap muka saat berada di Miami.

Bacaan Lainnya

Namun, alih-alih membalas dengan ketikan, pria berdarah Manado yang lahir di Bandung itu lebih memilih untuk menelepon.

“Saya harus tahu dengan siapa saya akan bertemu,” ujar Nikolaas, akrab disapa Niko, ketika itu. Alhasil, obrolan tengah malam WIB itu berlangsung nyaris satu jam.

Hampir sebulan setelahnya, ANTARA yang terbang ke Miami untuk meliput Piala Dunia 2026 menemui Niko di restoran Indonesia miliknya, Bali Cafe.

“Ah, Pak Siahaan, kan? Silakan, silakan,” ujar Niko dari balik meja kasir, masih dengan suaranya yang menggelegar tapi ramah. Padahal, ANTARA baru saja masuk, belum ada perkenalan resmi.

Kami pun duduk di pojok restoran itu, tepat dekat pintu masuk. Dari titik itu, terlihat jelas bagaimana Bali Cafe benar-benar memperlihatkan suasana Indonesia.

Selain karena makanannya yang memang khas nusantara, seperti rendang, sate ayam, nasi rames, lumpia, ketoprak dan lain-lain, dekorasi tempat itu terdiri dari berbagai pernak-pernik Indonesia. Ada beragam ukiran patung serta patung kecil pewayangan, boneka wayang golek, foto-foto serta lukisan-lukisan yang salah satunya bertema aktivitas jual beli di pasar tanah air.

Bali Cafe selayaknya Indonesia mini di pusat kota Miami, belum lagi lagu-lagu yang diputar di sana adalah gita populer Indonesia.

“Saya sudah di Miami sejak tahun 1987-1988. Namun, saya selalu bangga menjadi orang Indonesia. Itu harga mati,” kata Niko.

Dia menegaskan, Indonesia memiliki kebudayaan besar yang tidak seharusnya tertutup oleh budaya lain.

Perasaan itulah yang menguatkan dirinya untuk membuka Bali Cafe, yang secara operasionalnya secara resmi berjalan sejak tahun 2002.

Niko, yang kini sudah berusia 64 tahun, tidak asing dengan bisnis restoran lantaran dirinya merupakan alumni dari National Hotel Institute (NHI), Bandung, yang kini dikenal sebagai Politeknik Pariwisata NHI.

Setelah lulus dari NHI, Niko bekerja di kapal pesiar. Menyelesaikan satu putaran kontrak, atas ajakan seorang jejaring, dia pindah ke Miami sekitar tahun 1987-1988 dan bekerja di sebuah restoran Italia.

Kemudian, untuk mengasah kemampuan memasaknya, dia pindah ke New York dan bekerja di berbagai kafe dan restoran. Nasib mengantarnya lagi ke Miami untuk berkarier di hotel.

“Saya bekerja di hotel itu sekitar 1,5 tahun dan posisi saya sudah di level manajemen. Tapi dipikir-pikir, lebih enak bekerja sendiri, tidak ada yang menyuruh-nyuruh,” tutur Niko.

 

Belum akrab

Kala itu, awal tahun 2000-an, masyarakat Miami belum akrab dengan kuliner Indonesia. Niko, yang dari awal memang mau mengenalkan kuliner tanah air di Miami, jadi semakin termotivasi.

Niko pun memutar otak agar usahanya dapat diterima di Miami. Risiko rugi besar membayangi, tetapi dia menerima itu. Niko yakin santapan Indonesia bisa diterima.

Strategi pertama yang diterapkan Niko adalah mempromosikan restorannya ke penumpang kapal pesiar yang rutin singgah di Miami. Ini menjadi peluang lantaran lokasi Bali Cafe berlokasi hanya sekitar tiga kilometer dari pelabuhan PortMiami dan banyak dari penumpang atau kru tersebut berasal dari Indonesia.

Bersamaan dengan itu, Niko mencari celah di pasar masyarakat lokal Miami. Untuk masuk ke sana, Niko sengaja menambahkan menu masakan Jepang seperti sushi di Bali Cafe.

“Ketika mereka datang ke sini untuk masakan Jepang, kami mengenalkan makanan Indonesia. Pelan-pelan mereka mencoba,” ujar dia.

Walau mesti menyesuaikan rasa, Niko menegaskan bahwa dirinya tidak meninggalkan ciri khas masakan Indonesia yang ada di Bali Cafe. Mereka bahkan masih mengimpor beberapa bahan dari Indonesia termasuk bumbu rendang.

Bali Cafe termasuk restoran yang cukup ramai didatangi oleh warga Amerika Serikat, terutama Miami. Mereka biasanya datang bersama keluarga atau teman.

Satu dari sekian banyak konsumen itu adalah Claudio, warga Miami yang mencicipi santapan dan suasana Indonesia di Bali Cafe.

“Ini pertama kali saya mencoba makanan Indonesia dan saya menyukainya,” kata dia.

 

Promosi Indonesia

Rasa cinta Niko terhadap Indonesia tidak pernah berkurang. Oleh sebab itu, dia memanfaatkan benar-benar semua peluang yang ada untuk mempromosikan negara asalnya dengan Bali Cafe sebagai pintu pembukanya.

Dari Bali Cafe, Niko menyebarkan dan mempromosikan makanan Indonesia di Miami. Hal itu pun diendus oleh media massa setempat yang beberapa kali meliput ke sana.

Bahkan, pada 2024, Miami New Times sempat menetapkan Bali Cafe sebagai restoran terbaik di pusat kota Miami.

“Tentu saja ada restoran-restoran yang lebih mewah, terkini dan mahal di pusat kota Miami. Tetapi Bali Cafe mengungguli semuanya dengan menyajikan kenyamanan yang bersahaja ala restoran masyarakat yang terjangkau dengan cita rasa masakan Indonesia yang kuat, sebuah kuliner yang jarang di kota ini,” tulis Miami New Times.

Ulasan mereka di mesin pencari Google cukup bagus dengan nilai 4,7 dari lima bintang.

Niko juga terus berupaya melibatkan Bali Cafe pada kegiatan-kegiatan di Miami. Bersama KJRI, dia pun cukup sering membantu untuk memfasilitasi acara yang berkaitan dengan Indonesia atau delegasi Indonesia yang datang ke Miami.

Di Bali Cafe, Niko mengaku sengaja menempatkan banyak ornamen, lukisan, patung, foto dan ukiran khas Indonesia di berbagai posisi demi menarik perhatian pengunjung mancanegara.

“Kami pun selalu menyediakan tempat untuk brosur atau pamflet yang berhubungan dengan promosi pariwisata, industri atau apa saja soal Indonesia. Nanti itu dibagikan ke tamu-tamu di sini. Biasanya mereka senang sekali,” kata dia.

Niko dan Bali Cafe-nya terlibat pula dalam aktivitas amal ketika terjadi bencana di Indonesia.

Tahun 2004, contohnya, Bali Cafe ikut dalam kegiatan pengumpulan dana di Miami untuk para korban tsunami Aceh.

“Saat itu, lumayan juga yang terkumpul sampai kurang lebih 35 ribu dolar AS,” kata Niko.

Mampu menakhodai Bali Cafe sampai hampir 25 tahun lamanya, Niko memegang satu nilai dengan sungguh-sungguh yaitu mencintai apa yang dikerjakan. Dengan begitu, Niko yakin setiap pekerjaan dapat dijalani dengan sukacita.

Akan tetapi, Niko mengingatkan, kerja keras dalam pekerjaan tidak boleh membuat manusia lupa dengan kehidupannya.

“Fokus juga artinya fokus ke keluarga, komunitas dan lain-lain. Saya dari dahulu juga dekat dengan komunitas (Indonesia-red). Kami sering membuat acara. Saling membantu. Begitu pula dengan pihak Pemerintah Indonesia,” tutur dia.

Kuliner memang bukan sekadar bumbu dan bahan yang menyatu padu. Dalam aspek yang lebih luas, makanan dan minuman adalah representasi budaya yang menjadi pintu masuk untuk mengenal lebih dalam wilayah atau negara asal santapan tersebut.

Dalam sebuah wawancara dengan Majalah Slate pada tahun 2010, koki ternama asal AS Anthony Bourdain menguatkan pernyataan tersebut.

“Makanan adalah perpanjangan dari perasaan nasionalis, etnis, sejarah pribadi, provinsi, wilayah suku dan nenek anda. Makanan tidak bisa dipisahkan dari itu semua sejak awal,” kata Bourdain. (LE)

Source: ANTARA

Pos terkait