judul gambar

Di Bawah Kaki Karst, Aroma Sakral Iringi Langkah Menuju Warisan Dunia

Di bawah kaki karst, aroma sakral iringi langkah menuju warisan dunia
Arsip - Pengunjung bersantai di puncak karst Sangkulirang Mangkalihat, Kalimantan Timur (6/6/2025). (ANTARA/M Ghofar)

Samarinda, LenteraEsai.id – Aroma sakral dari upacara adat Tempong Tawar melayang pelan di udara Sangatta, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, menyatu dengan hembusan angin yang membawa wangi tanah basah dan dedaunan rimba.

Di halaman Galeri Cagar Budaya, tangan-tangan pemangku adat bergerak tenang, membaluri tamu kehormatan dengan tumbukan beras putih, kunyit, dan batang tebu.

Bacaan Lainnya

Inilah Tempong Tawar, ritual warisan leluhur Suku Ulun Darat Basap yang menjadi bisikan doa agar langkah yang diambil hari-hari ini senantiasa dilindungi, ditenangkan, dan segala hajat mencapai tujuannya.

Ritual pembuka ini bukan sekadar tradisi menyambut tamu, tetapi juga jantung dari perjalanan panjang kawasan Sangkulirang-Mangkalihat, yang kini sedang berjuang membuktikan diri layak diakui sebagai Geopark Nasional, hingga kelak melangkah menjadi Warisan Dunia UNESCO.

Selama lima hari pada 6-10 Juli 2026, Tim Verifikasi Geopark Nasional pimpinan Prof. Mega Fatimah Rosana meninjau bentang karst seluas sekitar 1,8 juta hektare tersebut.

Perjalanan ini bukan sekadar pemeriksaan dokumen atau peninjauan lokasi semata. Ini merupakan pertemuan antara ilmu pengetahuan modern dan kearifan leluhur, antara kekuatan alam yang membentuk diri selama jutaan tahun dan upaya manusia menjaganya untuk masa depan.

Di setiap jejak langkah tim penilai, tersimpan cerita tentang keseimbangan pertambangan yang memberi nafkah hari ini dengan hutan dan karst yang menjaga kehidupan esok, juga keseimbangan antara kemajuan ekonomi dan kelestarian identitas budaya.

Bagi masyarakat Basap, Tempong Tawar bukan semata upacara seremonial. Ia juga bahasa hati yang digunakan sejak turun-temurun untuk membuka segala hal penting, seperti melangsungkan pernikahan, menempati rumah baru, pengobatan, bertani, dan menyambut tamu.

Ritual ini menjadi pengingat bahwa pengelolaan kawasan geopark tidak hanya mengandalkan peta dan angka, tetapi juga harus berakar pada penghormatan terhadap tanah yang telah dijaga oleh generasi-generasi sebelumnya.

 

Rahasia masa lalu

Perjalanan tim penilai dimulai sejak mereka tiba di Bandara APT Pranoto Samarinda. Di ruang VIP, Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) Sri Wahyuni mengungkapkan potensi kawasan ini.

“Kita berdiri di atas bentang karst tropis terluas dan terlengkap di Indonesia,” ujar Sri, yang juga Ketua Pengelola Geopark Sangkulirang-Mangkalihat, dengan pandangan berbinar.

Kawasan yang terbentang dari ujung Kutai Timur hingga Kabupaten Berau ini menyimpan kisah masa lalu tentang pembentukan bumi, juga menjadi rumah bagi ribuan jenis tumbuhan dan hewan yang hidup di dalamnya.

Tak hanya itu, potensi yang mengagumkan tersimpan di Geopark Sangkulirang-Mangkalihat. Cadangan karbonnya mencapai 275,57 gigaton karbon (Gt-C), mampu menekan emisi gas rumah kaca Kaltim hingga 16,04 persen setiap tahun, serta berkontribusi menurunkan emisi nasional sekitar 0,74 persen.

Angka-angka itu menjadi bukti bahwa menjaga hutan dan karst bukan sekadar menjaga keindahan mata, tetapi juga menjaga napas dunia, bukan hanya manusia, juga makhluk hidup lainnya.

Perjalanan darat menuju Sangatta memakan waktu empat jam, melintasi jalan yang berkelok diapit hutan dan hamparan perkebunan.

Ketika rombongan tiba di Rest Area Beppa Janda, Desa Teluk Singkama, suasana menjadi lebih hangat dan penuh keakraban. Camat dan kepala desa setempat menyambut mereka dengan senyum, lalu menyajikan hidangan khas yang tak asing lagi bagi lidah warga lokal, beppa janda.

Penganan berbentuk pipih memanjang menyerupai lidah sapi itu terbuat dari tepung, gula merah, dan soda kue yang digoreng dengan minyak sayur. Ditemani secangkir saraba hangat, rasanya yang manis dan renyah bagai cerita tentang ketekunan yang membuahkan hasil.

Muhammad Zulkarnain, pemilik kedai itu, menceritakan perjalanan usahanya yang dimulai sejak 2014. Dulu ia hanya mampu memproduksi 100 buah, kini ia sanggup menghasilkan 15.000 buah. Usahanya itu memberi nafkah bagi 100 orang warga sekitar dan menyediakan tempat bagi 20 pelaku UMKM lain untuk berjualan.

Di sini terlihat jelas wajah ekonomi yang diimpikan. Bukan ekonomi yang merusak alam, melainkan yang tumbuh dari akar budaya dan memberdayakan orang-orang di sekitarnya.

Inilah salah satu yang dicari oleh tim verifikasi, bukti bahwa geopark bukan sekadar label prestisius, melainkan sumber kehidupan yang nyata bagi masyarakat sekitarnya.

 

Menjalin keseimbangan alam

Saat tiba di pendopo rumah jabatan Bupati Kutai Timur (Kutim), keseriusan menyelimuti suasana saat Bupati Ardiansyah Sulaiman menyampaikan komitmen daerahnya.

Diakuinya, Kutim selama ini lebih dikenal sebagai lumbung batu bara nasional, tetapi separuh lebih luasnya masih diselimuti hutan.

“Lebih dari separuh wilayah Kutim masih berupa hutan terjaga, termasuk Taman Nasional Kutai dan kawasan lindung lainnya,” kata dia.

Kutim pernah menerima penghargaan Dana Karbon dari Bank Dunia, bukti bahwa di tengah gemuruh alat berat tambang, kesadaran menjaga kelestarian tak pernah luntur.

“Memang Kutim punya tambang dan migas, tapi kita tak boleh membiarkan itu merusak warisan alam kita,” katanya, menegaskan.

Pemerintah daerah telah memastikan tidak ada izin tambang yang menyentuh kawasan inti karst di Sekerat dan Kaliorang. Semua aktivitas industri telah dievaluasi ketat sehingga pembangunan dan pelestarian bisa berjalan beriringan.

Komitmen serupa disampaikan Sekretaris Daerah Kutim Rizali Hadi. Ia mengatakan tujuan geopark bukan ekonomi semata, tetapi mengedepankan pula tiga pilar tak terpisahkan, konservasi, edukasi, dan kesejahteraan rakyat.

Alam dijaga agar tetap lestari, dijadikan ruang belajar bagi generasi muda, sekaligus memberi penghidupan yang layak tanpa merusak ekosistem hutan maupun karst.

Kawasan ini memiliki 26 situs penting: 15 di wilayah Berau dan 11 lainnya tersebar di Kutai Timur. Selama verifikasi, tim menelusuri antara lain Galeri Budaya Sangatta, Goa Mengkuris, Liyang Tewet Bengalon, Air Terjun Tangga Bidadari, hingga situs karst di Kaliorang.

Di setiap goa dan sungai, di setiap dinding batu yang berlumut, tersimpan jejak ribuan tahun pembentukan bumi yang tak ternilai harganya. Termasuk jejak manusia purba yang diperkirakan hidup ribuan tahun lalu.

 

Menuju pintu dunia

Prof. Mega, pemimpin tim verifikasi yang juga menjabat Dekan Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran, mengaku sudah lama terpesona saat membaca dokumen dan penelitian tentang Sangkulirang-Mangkalihat, termasuk hasil penelitian puluhan tahun dari tim ilmuwan Prancis.

Namun, kata dia, melihat langsung dengan mata kepala sendiri adalah pengalaman yang tak tergantikan. Penetapan Geopark Nasional bukanlah garis finis, tetapi garis awal tantangan menjaga kekayaan bumi agar terus memberi manfaat bagi manusia dan alam.

Kehadiran tim yang terdiri dari ahli geologi, arkeologi, perencana pembangunan, serta pengamat dari berbagai instansi adalah untuk memastikan bahwa semua yang tertulis di atas kertas benar-benar hidup di lapangan.

Hasil verifikasi tersebut akan diserahkan kepada Kementerian ESDM untuk dibahas lintas kementerian sebelum status Geopark Nasional disahkan.

Jika semua berjalan lancar, pintu menuju pengakuan UNESCO Global Geopark akan terbuka lebar, sekaligus membuktikan kepada dunia bahwa Kaltim mampu memadukan kemajuan dengan kasih sayang pada tanah kelahirannya.

Di bawah langit Kutim yang luas ini, harapan menyatu dengan doa leluhur. Suatu hari, nama Geopark Sangkulirang-Mangkalihat tak hanya dikenal sebagai kawasan batu kapur dan goa indah, tetapi juga bukti bahwa pelestarian alam dan budaya dapat berjalan seiring dengan pembangunan.

Kemajuan tak harus mengorbankan kelestarian, kekayaan alam tak harus dinikmati sendirian, warisan budaya leluhur adalah arah yang menuntun melangkah ke masa depan yang cerah.

Di sini, di tanah tempat karst bertemu budaya, tersirat pesan bahwa warisan terindah bukan sesuatu yang bisa diambil dan dimiliki, melainkan yang dijaga agar tetap utuh bagi anak cucu nanti. (LE)

Source: ANTARA

Pos terkait