judul gambar

Seabad Sagarika

Seabad Sagarika
Presiden Prabowo Subianto (kanan) berfoto bersama Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi (kiri) usai meresmikan kerja sama konservasi dan restorasi warisan budaya di Candi Prambanan, Sleman, DI Yogyakarta, Rabu (8/7/2026). Kunjungan Presiden Prabowo dan PM India Narendra Modi itu untuk melihat serta menindaklanjuti kerja sama restorasi dan konservasi Kompleks Candi Prambanan. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/agr

Jakarta, LenteraEsai.id – Pada Juli 1927, Pemerintah kolonial Hindia Belanda kelimpungan mendengar kabar ada seorang pujangga besar dunia akan berkunjung ke tanah Nusantara.

Dialah Rabindranath Tagore, peraih nobel sastra pertama dari bangsa Asia, yang sudah berlayar dari India menuju Batavia.

Bacaan Lainnya

Tagore, yang sudah terkenal dengan novel Gora, atau Gitanjali, kumpulan puisi yang dihadiahkan nobel sastra tahun 1913, tentu saja di dalam kepalanya banyak sekali melahirkan buah pikir.

Apalagi, pemerintah kolonial masih gugup dengan pemberontakan PKI yang berusaha menggulingkan Hindia Belanda pada akhir 1926 hingga awal 1927.

Kabar itu sangat mengkhawatirkan pemerintah kolonial hingga menggerakkan Politieke Inlichtingen Dienst (PID), dinas intelejen, untuk bertugas mengawasi penyair filsuf dari India tersebut.

Tagore memang berjanji tidak akan menyentuh perkara politik selama perjalanan yang dia sebut ziarah budaya ke India Raya. Tapi, kelahiran Gora, seorang pemuda dalam novel, adalah penolakan keras terhadap kolonialisme di atas tinta sastra.

Bali

Pertengahan Agustus 1927, kapal Prancis bernama Amboise yang membawa rombongan besar Tagore bersandar di Tanjung Priok, Batavia, sebelum menuju Pulau Dewata. Bali menjadi tujuan utama pelepasan dahaga akan mosaik peradaban Hindu-Budha di luar tanah kelahirannya yang masih dijajah Britania Raya.

Karangasem adalah tempat Tagore merenungi Bali. Timur pulau yang semua bentuk bumi dimilikinya: laut, samudera, selat, pesisir, bukit, Gunung Agung. Pujangga mana yang tidak mengangkat pena selagi berada di Bali?

Di sana, sang pujangga berbincang dengan Raja I Gusti Bagus Jelantik yang menguasai Kerajaan Karangasem di bawah pemerintah kolonial Hindia Belanda. Bicara tentang agama, ritual, hidup, sosial, kesenian, yang membuat Tagore terkesima mendalam.

Di Bali, Tagore tidak membaca ulang epos Ramayana dan Mahabharata, tapi dia melihatnya hidup pada ritual sehari-hari masyarakat lokal.

Pemerintah kolonial Hindia Belanda menerapkan kebijakan Baliseering atau memurnikan Bali yang menjadikannya tetap kental pada budaya tanpa menghadirkan kemodernan Eropa layaknya Batavia. Tagore menjuluki Bali sebagai Vyas Indies, Hindia-nya Resi Vyasa sang penyusun Mahabharata.

Syahdan, selama dua minggu Tagore di Bali, yang juga mengunjungi Gianyar, lahirlah “seorang” Sagarika atau Gadis Laut. Puisi enam bait tentang jatuh cintanya Tagore dengan Bali. Sebuah alegori tentang rindu, tentang tradisi Hindu kuno yang bertaut lekat antara Bali dan India.

Yogyakarta

Tagore kembali ke tanah Jawa dengan menyeberang ke Surabaya. Lalu melanjutkan perjalanan darat menuju Yogyakarta, singgah di Solo, mengamati kultur keraton dan bertemu komunitas Muhammadiyah lebih dulu.

Tapi tujuan utamanya adalah Taman Siswa yang baru lima tahun didirikan pada 3 Juli 1922 oleh Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, yang melepas nama kebangsawanananya menjadi Ki Hajar Dewantara.

Sebelum pertemuan Tagore dan Dewantara berlangsung, adalah Noto Soeroto yang menjembatani keduanya secara intelektual.

Soeroto, seorang bangsawan Pakualaman yang juga sastrawan pengagum karya-karya Tagore, banyak menerjemahkan karya dan pemikiran penyair India tersebut dari bahasa Inggris ke bahasa Belanda. Buku terjemahan Soeroto yang menggapai Dewantara. Dan kebangsawanan Jawa Soeroto yang disertai jaringan intelektual Eropa menyampaikan kabar Taman Siswa pada peraih nobel pertama dari bangsa non-Eropa tersebut.

Pada hakikatnya, pertemuan Tagore-Dewantara dilandasi dari pemikiran identik keduanya tentang pendidikan. Tagore mendirikan Universitas Visva-Bharati di Shantiniketan pada 1921, setahun sebelum Taman Siswa. Kesamaan dua lembaga pendidikan itu bertempat pada pembebasan buah pikir dari penjajahan. Di negeri yang sama-sama dijajah bangsa lain, Tagore dan Dewantara berupaya melahirkan pikiran-pikiran merdeka pada kaumnya.

Upacara adat Jawa dan gending gamelan memukau Tagore di kompleks Taman Siswa. Seketika, Tagore menyadari bahwa Taman Siswa dengan gagasan Sitem Among yang menolak pendidikan kolonial Barat, tetapi berpijak pada kodrat alamiah anak, adalah apa yang telah dilakukannya pada sekolah dasar Brahmacharyasrama sebelum pendidikan tinggi Visva-Bharati berdiri.

Tagore tidak merasa asing di Taman Siswa. Rasanya, dia hanya sedang melepas rindu pulang ke rumah saudaranya yang telah lama terpisah.

Setelah itu, siang-siang dan malam-malam Tagore dan Dewantara habis dalam diskusi, pertukaran, peleburan dari pemikiran, budaya, bahasa, seni yang kelak bersinggungan antara Indonesia dengan India.

Bandung

Di bumi Parahayangan, atau Preanger dalam bahasa Belanda, adalah agenda yang tidak sepenuhnya terencana bagi Tagore dan rombongannya yang hampir dua bulan menjelajah Hindia Belanda. Pengawasan PID semakin ketat di pertengahan September 1927.

Sehari setelah Tagore tiba di Bandung, terjadi pertemuan tidak terjadwal dan semi rahasia antara Tagore dengan pemimpin muda gerakan nasionalis: Soekarno.

Pada masa itu, Soekarno adalah pemuda intelektual nan radikal yang baru saja mendapat gelar insinyur setahun lalu. Dia sedang dalam masa metamorfosis dari seorang mahasiswa teknik sipil menjelma pemimpin utama pergerakan nasional, setelah dua bulan ia mendirikan Perserikatan Nasional Indonesia, yang kelak berganti nama menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI) satu tahun berikutnya.

Meskipun Belanda berusaha menjauhkan Tagore dari elemen politik, para pemuda pergerakan tetap berhasil menemui sang maestro untuk menyerap energi anti-kolonialisme spiritualnya.

Jakarta

Nyaris seabad, 99 tahun setelahnya, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto berjalan kaki di apron Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma, menunggu di bagian paling bawah anak tangga di mana Air India One terparkir.

Saat Perdana Menteri India Narendra Modi memijakkan kakinya di bumi Indonesia, Presiden Prabowo adalah yang pertama dilihat dan dirangkulnya. PM Modi adalah orang kedua yang menerima penghormatan tertinggi itu setelah Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan pada tahun lalu.

Dari 16 hal kesepakatan dalam kunjungan bilateral yang dicapai dua negara, Presiden Prabowo dan PM Modi mengumumkan 2026-2027 sebagai Tahun Tagore-Dewantara. Itu berarti 99 tahun, dan seabad Sagarika. Sebagai penanda tahun diplomasi pendidikan dan kebudayaan India-Indonesia.

Berhentilah memandang retorika diplomatik sebagai sekadar basa-basi seremonial atau romantisasi sejarah. Tahun Tagore-Dewantara bukan layaknya festival budaya murahan. Ini adalah instrumen geopolitik dan manuver strategis yang dikalkulasi dengan sangat presisi. Jika ini hanya dilihat sebagai pertukaran budaya, Anda gagal membaca papan catur geopolitik kawasan Indo-Pasifik.

Dalam hubungan internasional, kesamaan peradaban adalah mata uang yang jauh lebih kuat daripada sekadar janji investasi. Sejarah Tagore-Dewantara adalah kebenaran bahwa ikatan India dan Indonesia mendahului eksistensi negara modern itu sendiri.

Dari 16 kesepakatan India-Indonesia, penerjemahan Tahun Tagore-Dewantara yang paling terang adalah agenda transfer teknologi dan kapital manusia melalui pendirian kampus cabang Indian Institute of Management (IIM) di Indonesia, yang sekaligus membuka jalan bagi ekspansi Indian Institute of Technology (IIT) ke tanah air.

Jangan main-main dengan IIM dan IIT. Mereka adalah pabrik penghasil CEO perusahaan teknologi top global seperti Google, Microsoft, atau IBM. Dan mereka pula tulang punggung kebangkitan teknologi India.

Alih-alih bergantung pada pendidikan Barat yang mahal dan seringkali elitis, Indonesia melakukan jalan pintas dengan mengimpor langsung mesin pencetak elit teknologi India ke dalam negeri. Bagi India, ini adalah cara mereka menanamkan hegemoni akademik dan pengaruh jangka panjang di Asia Tenggara.

IIM dan IIT didirikan pascakemerdekaan India di bawah visi Perdana Menteri Jawaharlal Nehru untuk menciptakan elit teknokratis yang mampu membangun industri nasional tanpa ketergantungan pada Barat. IIT berfokus pada rekayasa dan teknologi (sains, teknologi, teknik, dan matematika, STEM), sementara IIM berfokus pada manajemen bisnis dan strategi.

Tahu Google, kan? CEO-nya adalah lulusan IIT Kharagpur: Sundar Pichai. Kiprah Pichai dimulai dari memimpin Google Chrome, sebelum akhirnya dipercaya memegang kendali penuh atas seluruh ekosistem Android dan mesin pencarian Google. Sundar Pichai adalah CEO Alphabet dan Google yang menggantikan pendiri Google itu sendiri, Larry Page.

Lainnya lagi, Arvind Krishna lulusan IIT Kanpur menempati CEO IBM, Nikesh Arora dari IIT Varanasi menjabat CEO perusahaan keamanan siber Palo Alto Networks, Raghuram Rajan yang pernah menjadi Kepala Ekonom IMF dan Gubernur Reserve Bank of India merupakan lulusan IIT Delhi dan IIM Ahmedabad.

Ada hal-hal struktural yang membuat IIT dan IIM berhasil memuncaki korporasi di Silicon Valley. Pertama, adalah filter seleksi yang brutal. Setiap tahun, sekitar 1,2 hingga 1,4 juta siswa mengikuti ujian untuk memperebutkan kurang dari 17.000 kursi di IIT.

Tingkat penerimaannya berada di bawah 1 persen. Ini jauh lebih ketat daripada Harvard, MIT, atau Stanford yang berkisar di angka 3 hingga 5 persen. Untuk IIM, ujian masuk menyaring sekitar 300.000 peserta untuk hanya beberapa ribu kursi.

Institusi ini tidak “mendidik” orang biasa menjadi genius, mereka menyaring orang-orang paling genius dan paling tahan banting di seluruh anak dataran India, lalu mengujinya kembali dalam lingkungan yang sangat kompetitif.

Dari sisi ketahanan mental, mahasiswa IIT dan IIM tumbuh dan bersaing di lingkungan dengan sumber daya terbatas di India. Hal itu memaksa para mahasiswa menguasai konsep yang diberi nama Jugaad, yakni inovasi frugal berbasis pemecahan masalah secara cepat dan adaptif.

Ketika mereka dipindahkan ke lingkungan korporasi barat yang memiliki kelimpahan sumber daya, mereka mampu bergerak jauh lebih lincah dan taktis daripada rekan-rekan barat mereka.

Keputusan membawa kampus IIM dan IIT ke Indonesia, bukan mengirimkan mahasiswa ke India adalah kebijakan taktis lainnya.

Jika Indonesia mengirim 1.000 anak muda paling cerdas ke kampus IIT di Mumbai atau IIM di Ahmedabad, probabilitas mereka kembali ke Indonesia dipertanyakan. Di sana, mereka kemungkinan besar akan langsung direkrut oleh modal ventura global, korporasi multinasional di Bengaluru, atau ditarik langsung ke Silicon Valley melalui jaringan alumni India yang masif.

Dengan memindahkan lokus pendidikan ke wilayah kedaulatan Indonesia, mahasiswa tetap berada di dalam ekosistem domestik, magang di industri lokal, dan memecahkan masalah pasar Indonesia sejak hari pertama.

Membuka kampus cabang di Indonesia juga memberikan kapasitas tampung yang jauh lebih besar dibanding kuota beasiswa. Kampus ini dapat menyerap ribuan talenta lokal per tahun, bukan hanya segelintir penerima beasiswa elite. Selain itu, kehadiran fisik kampus ini memaksa terjadinya transfer pengetahuan secara langsung ke tenaga pengajar lokal yang terafiliasi.

Jika melihat sisi positifnya saja, kehadiran dua institusi ini akan membawa dampak ganda yang sangat positif bagi ekonomi Indonesia.

Apabila nanti IIM dan IIT sudah berdiri di Indonesia, dipastikan terjadi akselerasi infrastruktur digital dan AI yang menjadi kebutuhan sumber daya saat ini. Lulusan IIT versi domestik bisa memotong ketergantungan perusahaan teknologi Indonesia terhadap talenta ekspatriat dari luar negeri.

Injeksi kultur manajemen dari IIM juga bisa mendisrupsi kultur manajemen korporasi domestik dari yang cenderung birokratis, menjadi metodologi yang sangat analitis, berbasis data keras, dan berorientasi pada efisiensi global.

Selain itu, perusahaan raksasa teknologi global seperti Apple, Microsoft, atau Tesla bisa berubah pikiran untuk membangun pusat riset dan pengembangan di Indonesia dengan sudah tersedianya suplai talenta STEM lokal kelas atas.

Kehadiran kampus IIT di Indonesia akan bertindak sebagai jaminan kualitas bagi modal global bahwa talenta yang mereka butuhkan tersedia secara lokal.

Jauh dan panjang, memang. Hari ini baru terjadi kesepakatan pendirian IIM, yang akan bisa menjadi penjajakan IIT di Indonesia. Realisasi dan hasilnya tidak cukup satu, dua, atau lima tahun. (LE)

Source: ANTARA

Pos terkait