Gianyar, LenteraEsai.id – Keringat mengucur deras di pelipis seorang pria berusia senja yang tengah membungkuk-bungkuk membersihkan rerumputan yang tumbuh bersaing di sela-sela tanaman padi. Meski kulit tampak sudah mulai keriput seiring usia, namun jemari tangannya masih begitu kuat menggaruk aneka gulma yang dinilai dapat mengganggu tumbuhan padi.
Hamparan padi yang baru ditanam dalam hitungan pekan, tampak tumbuh subur menghijau di areal pertanian di wilayah Subak Lauh Batu, Desa Adat Keliki, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali. Subak merupakan organisasi kelompok petani yang memiliki areal garapan pada suatu wilayah tertentu di Bali.
Pria itu bernama I Wayan Budi (75) yang merupakan penduduk asli Desa Adat Keliki. Dahulu kala, Wayan Budi bertahun-tahun merantau di berbagai kabupaten di Bali dengan tujuan untuk mengubah nasib, sebelum akhirnya memutuskan pulang kampung dan melabuhkan diri kepada pekerjaan sebagai petani, mengolah lahan persawahan warisan orang tuanya.
“Saya menggarap lahan seluas tujuh are, yang ditanami padi jenis lokal. Warga Keliki biasa menyebut padi ketan, yang bibitnya diperoleh dari Jatiluwih, Tabanan,” ujar Wayan Budi sembari mengusap keringat di dahi dengan punggung tangan kiri, ketika ditemui di lahan sawahnya, Jumat (27/10/2023).

Dahulu, lanjut Wayan Budi, bertanam padi di Keliki hanya bisa dilakukan selama dua kali dalam setahun, dikarenakan ada pengaturan penggunaan air sawah yang berhulu pada ‘kelebutan’ di Kintamani, Kabupaten Bangli. Adanya regulasi pengaturan penggunaan air dengan subak-subak lain, membuat petani di Lauh Batu ketika itu, mau tidak mau harus menyesuaikan jadwal untuk bertanam padi.
“Ketika airnya harus digilir dengan subak lain, saya manfaatkan sawah dengan menanami kacang panjang atau ketela, ketimbang lahan dibiarkan kosong dan tidak menghasilkan apa-apa. Syukurnya, sekarang tidak seperti itu lagi. Bertanam padi setahun kini bisa tiga kali setelah adanya sumur bor. Kalau dulu, paling banter hanya dua kali,” ujarnya, menyampaikan.
Kakek empat cucu itu menuturkan, setiap kali panen, dirinya mendapatkan padi delapan ‘kampil’. Satu kampil berisi 30 kg gabah. Hasil panen ini tidak pernah dijual, namun untuk dikonsumsi sendiri oleh keluarganya. Wayan Budi menyatakan, di rumah ia tinggal bersama istri dan seorang anak kandung yang berprofesi sebagai buruh bangunan, serta seorang menantu dengan empat cucu yang masih kecil-kecil.
“Sekarang dengan ketersediaan air yang melimpah dari sumur bor, penduduk Keliki jadi betah berkegiatan di sawah. Menanam padi, nyari rumput untuk pakan ternak atau berburu keong. Saya sendiri, setiap harinya minimal tiga jam berada di sawah,” kata Wayan Budi dengan ekspresi wajah sumringah.
Wayan Budi menyatakan bahwa dirinya dan juga petani lain kini merasa semakin dientengkan untuk datang ke sawah. Yakni tidak perlu lagi membawa bekal air seperti pada era sebelum tahun 2022. “Dulu saya selalu bawa ‘pucung’ untuk wadah air minum. Tapi sekarang tinggal puter kran yang sudah disediakan di dekat sawah, sehingga tidak perlu repot lagi berat-berat bawa air minum seperti dulu,” katanya.
Beralih Pupuk Kompos
Sejak akhir 2022, Wayan Budi mulai beralih menggunakan pupuk organik untuk menyuburkan lahan pertaniannya. “Ya kalau dulu memang biasa bertani memakai pupuk yang umumnya dijual di toko-toko, tapi sekarang sudah tidak lagi. Sudah ganti pakai pupuk kompos hasil produksi sendiri di desa. Kalau pada pemakaian pertama, pada akhir 2022, belum ada perubahan apa-apa di tanaman. Malah tanaman agak kurus, dan hasil panen tidak bernas. Namun pada pemakaian pupuk kompos kedua awal 2023, butir-butir padi mulai nampak berisi. Dan kemudian pada masa tanam ketiga yang tetap menggunakan pupuk kompos, hasil panen yang diharapkan akhirnya dapat tercapai. Ukuran butir sudah sama dengan dulu ketika memakai pupuk kimia. Wah senanglah saya untuk terus pakai pupuk kompos,” kata Wayan Budi terkekeh gembira.
Petani asli Keliki ini meneruskan, nilai lebih dari menggunakan pupuk kompos adalah biaya operasionalnya yang jauh lebih murah. Untuk satu are lahan, cukup dengan biaya Rp20 ribu bila memakai pupuk kompos. Sedangkan bila memakai pupuk kimia, bisa merogoh kocek antara Rp65.000 sampai Rp75.000. “Apalagi pupuk kompos kan sebenarnya bisa dibuat sendiri oleh petani, sehingga ongkos bertani mejadi jauh lebih hemat,” ucapnya, menjelaskan.
Sementara itu, tidak jauh dari areal persawahan, terdengar suara gemeretuk mesin pencacah sampah yang menyeruak lamat-lamat, di satu siang benderang di tempat pengolahan sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS 3R) yang letaknya berdekatan dengan tanah kuburan. Nampak sejumlah pekerja di TPS 3R sigap menjalankan tugas masing-masing. Ada yang memotong sampah, lainnya memasukkan dalam mesin pencacah atau mengemas produk pupuk kompos yang sudah siap didistribusikan ke masyarakat.
“TPS 3R ini berdiri sejak April 2022 lalu. Saat ini telah menghasilkan sekitar 1 ton pupuk per bulan yang langsung terserap habis untuk kebutuhan pertanian di Subak Lauh Batu. Sebenarnya, seberapapun jumlah pupuk kompos yang kita hasilkan, akan langsung habis terserap oleh petani di sini. Jadi sesungguhnya masih kurang sebanding antara kebutuhan pupuk kompos oleh petani dengan jumlah pupuk yang mampu kita hasilkan,” kata Gede Adnyana (29) selaku Manager Produksi dan Fasilitas TPS 3R Desa Keliki, ketika ditemui di tempat kerjanya.
Adnyana merinci, lahan pertanian di Subak Lauh Batu tercatat seluas 42 hektare. Setiap 1 are lahan pertanian membutuhkan 20 kg pupuk kompos. Jumlah ini tentu saja masih timpang, sehingga warga setempat mengharapkan agar tingkat produktivitas pupuk kompos itu dapat dimaksimalkan.
Peningkatan jumlah pupuk juga seiring imbauan pemerintah yang mengharapkan pertanian di Subak Lauh Batu benar-benar dapat menerapkan sistem pertanian organik. Dengan kata lain, meninggalkan penggunaan pupuk kimia yang dikhawatirkan berdampak serius bagi keberlangsungan kelestarian alam dan ekosistem di pedesaan, ucapnya.
Saat ini, lanjut Adnyana, di TPS 3R Desa Keliki memiliki dua mesin pencacah sampah, yang salah satunya merupakan bantuan PT Pertamina. Kedua mesin inilah yang menjadi penggerak utama beroperasinya TPS 3R. Mesin tersebut berkapasitas 150 kg untuk mencacah sampah selama satu jam. Sampah yang telah dicacah kemudian difermentasi selama tiga bulan. Setiap seminggu sekali, sampah kemudian dibolak-balikkan. Setelah mencapai kurun waktu tiga bulan, sampah diayak dan dinyatakan siap dimanfaatkan apabila telah memenuhi sejumlah persyaratan. Meliputi: PH sesuai tanah, telah mencapai suhu ruangan yang ditentukan dan memiliki kelembaban normal.
Setelah memenuhi persyaratan untuk siap pakai atau telah menjadi pupuk kompos, kemudian dipacking dengan dua ukuran kantong plastik. Ukuran pertama untuk skala rumah tangga seberat 10 kg, dijual dengan harga Rp10.000. Dan kedua dipacking dengan berat 30 kg dan dijual seharga Rp30.000.
Mengenai bahan baku kompos, ia menyebutkan diperoleh dengan mudah dari sampah rumah tangga penduduk Desa Keliki. Untuk membuang sampah, semua penduduk Keliki memang telah berlangganan ke pihak desa dengan biaya Rp15.000 per bulan. Sampah itu telah dipilah berdasarkan jenisnya antara sampah organik dan anorganik.
“Sampah organik dan anorganik dipisahkan pengambilannya. Beda hari ambilnya. Untuk sampah organik, antara lain berupa daun-daun dari halaman rumah penduduk, sampah rumah tangga, bekas canang sari atau sisa makanan dari warung-warung. Setiap hari, mobil pengangkut sampah mendapatkan sampah organik berkisar antara 400-700 kg. Sampah organik inilah yang kemudian diolah menjadi bahan pupuk kompos. Dengan demikian, sama sekali tidak ada kesulitan untuk mendapatkan bahan baku,” ujarnya.
Kalau bicara kendala, lanjut Adnyana, mungkin kesulitan yang kini dialami pihaknya hanya sebatas kurangnya jumlah mesin pengolah sampah yang bisa dioperasikan untuk tujuan semakin melipatgandakan jumlah produksi pupuk kompos untuk kebutuhan para petani. “Itu saja saya pikir,” ucapnya, menandaskan.
Menuju Wisata Organik
Ketika ditemui di kantornya baru-baru ini, Perbekel Keliki I Ketut Wita menjelaskan bahwa Keliki merupakan sebuah desa tua yang dihuni 1.028 KK yang menjalani berbagai macam profesi, yang sebagian besar di antaranya menggarap lahan pertanian sebagai pekerjaan yang telah turun-temurun dilakukan sejak leluhur zaman dulu kala.
Sebelumnya, petani di Desa Keliki kesulitan mendapatkan kontinyuitas pasokan air untuk bertani, sehingga menerapkan sistem bergilir di antara subak-subak yang ada di Desa Keliki. “Ada tujuh subak di desa ini, yakni Subak Lauh Batu, Tain Kambing, Uma Desa Sebali, Bangkiangsidem, Uma Desa Keliki, Jungut dan Subak Umelikode, ” katanya.
Perkembangan terkini, ketujuh subak di desa diberikan fasilitas panel surya untuk mengoperasikan sumur bor, di mana airnya yang cukup melimpah bisa dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian. Sedangkan di dekat Pura Dalem, ditempatkan pula sebuah sumur bor yang fungsinya dipakai sebagai bahan ‘tirta’ saat ada ritual keagamaan, yang kemudian mengalir pula ke lahan pertanian.
“Saat ini di Desa Keliki telah dipasang 8 titik solar PV dengan kapasitas 28 kWp untuk menjangkau lebih dari 1.000 KK. Energi bersih tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan masyarakat desa seperti mengoperasikan TPS 3R, pembangunan eco-village, dan pertanian berbasis energi baru terbarukan,” ujar Ketut Wita.

Dikatakannya, salah satu program unggulan desa saat ini adalah mengusung wisata organik, sehingga kemudian mulai diterapkan dengan penggarapan demplot pertanian organik pada lahan yang terdapat di Subak Lauh Batu. Kini di subak tersebut telah menggunakan pupuk kompos sebagai pendukung kegiatan bertani, sehingga hasil panen menjadi makin bergizi untuk dikonsumsi warga setempat. Hamparan padi organik pun makin luas membentang.
Hamparan sawah yang ditanami padi organik nan menghijau ini, ternyata telah menarik minat sejumlah wisatawan sehingga betah berlama-lama mengunjungi persawahan di Lauh Batu dan mengakrabi penduduk dengan segala aktivitas keseharian sebagai warga Pulau Dewata yang tidak pernah lepas dari upacara ritual adat.
“Kami sedang menyiapkan atraksi bertani organik sebagai paket wisata untuk turis mancanegara. Kalau turis lokal, mungkin sudah tidak aneh diajak ‘nyemplung’ di sawah dan bergelut dengan lumpur. Tapi kalau bagi turis asing, kegiatan bertani ini malah membuat mereka tergelitik ingin mencoba, sehingga kami sedang menggagas untuk membuat sejumlah paket wisata seperti bertani tanaman organik, tracking di lahan pertanian serta paket memasak kuliner Bali ataupun membuat bebantenan canang sari untuk dipakai upacara agama. Bahkan saat ini kami juga tengah mengajak warga untuk menyiapkan kamar tidur yang bisa disewakan bagi turis. Sehingga turis yang berkunjung ke Lauh Batu atau Keliki, bisa menginap di rumah penduduk untuk benar-benar merasakan kehidupan keseharian penduduk Bali,” kata Ketut Wita.
Perbekel Desa Keliki menambahkan, dirinya sangat bersyukur dengan dukungan dari Pertamina, sehingga cita-cita penduduk yang ingin menghidupkan pariwisata berbasis alam dapat tercapai, dengan impian ‘memahatkan’ kehidupan selaksa surga seperti dulu di mana alam tidak teracuni bahan kimia.
“Bersyukur kali ini pertanian tidak lagi terkendala air berkat adanya sumur bor bantuan dari Pertamina, dan mengorganikkan pertanian dapat terlaksana pula dengan aplikasi pupuk kompos. Astungkara, ke depan keseluruhan persawahan di Keliki bisa menjadi demplot organik, yang saat ini menjadi pilot project memang baru di Subak Lauh Batu,” ujarnya penuh harapan seraya menambahkan penduduk sudah lama merindukan kehidupan pertanian seperti zaman dulu, di mana bebas bahan kimia atau residu yang membahayakan bagi alam semesta.
Sementara itu, sebagaimana dikutip dari website resmi www.pertamina.com, Vice President CSR & SMEPP Pertamina Fajriyah Usman mengatakan bahwa Desa Energi Berdikari Pertamina berbasis energi terbarukan di Desa Keliki, Gianyar, Bali, merupakan yang terbesar di Indonesia.
Fajriyah menjelaskan, pembangunan energi terbarukan di Desa Keliki tidak lain merupakan komitmen Pertamina dalam menerapkan Environmental, Social & Governance (ESG) dan sekaligus mendukung implementasi SDGs poin ke 7 dan 8, yakni menyediakan energi bersih dan terjangkau, serta memberikan pekerjaan layak, mendukung perekonomian dan kemandirian masyarakat.
Desa Berdikari Pertamina di Keliki, ujar Fajriyah, menjadi pilot project pengembangan energi terbarukan dan sekaligus bentuk dukungan perseroan terhadap Presidensi G20 Indonesia yang berfokus pada transisi energi bersih.
Pertamina memiliki 11 Desa Energi Berdikari di Indonesia yang dikembangkan dengan melibatkan generasi muda yang berkontribusi langsung untuk transisi energi di Indonesia.
Ke-11 desa itu meliputi Balkondes Wringinputih, Magelang ( 1,2 KWP), Balkondes Karangrejo, Magelang (1,2 KWP), Desa Wisata & Budi Daya Kepiting, CIlacap (6,6 kWP), Life Energi Karang-Karangan Solar Home Sistem, Luwu (4,4 KWP), Energi Pelosok Cindako, Maros (6,6 KWP), Wisata Edukasi Kampung Sekaja, Jambi (2,2 KWP), Desa Energi Berdikari Krueng Raya, Aceh Besar (4,4 KWP), PLTS Pemberdayaan Kelompok Tani Desa Wayame, Ambon (4,4 KWP), Walahar Eco Green, Karawang (2,2 KWP), Pusat Konservasi Elang Kamojang, Garut (6,6 KWP) dan Desa Keliki, Gianyar (28 KWP).
Fajriyah menambahkan, Pertamina memiliki 47 program energi terbarukan yang dikemas dalam Desa Energi Berdikari. Program tersebut meliputi Solar Energy (29 program), Hybrid Energy (1 program), Biogas and Biomethane (11 program), Microhydro Energy (4 program) dan Biodiesel Energy (2 program).
Keseluruhan dari program ini menyumbang pengurangan emisi karbon sebesar setara 530.000 ton CO2 per tahun dan memberikan multiplier effect Rp1,8 miliar per tahun bagi 2.750 rumah tangga.
Program Desa Energi Berdikari merupakan aksi nyata dari pembukaan akses energi baru terbarukan, yang bersih dan sangat terjangkau bagi masyarakat. Di sinilah, Pertamina dan masyarakat berupaya optimal memanfaatkan energi bersih yang berkontribusi langsung untuk menggerakkan roda perekonomian penduduk desa. (Tri Vivi Suryani)







