judul gambar

Endusan Anjing Pelacak Nyalakan Lentera Konservasi di Lampung

Endusan anjing pelacak nyalakan lentera konservasi di Lampung
Tim anjing petugas pengendus perdagangan satwa ilegal yang bertugas di Pelabuhan Bakauheni Lampung Selatan. (ANTARA/HO-WCS Indonesia)

Bandarlampung, LenteraEsai.id – Matahari siang menyengat, memantulkan hawa panas ke hamparan aspal Pelabuhan Bakauheni, Lampung yang berdebu.

Di antara deretan truk kontainer, bus antarkota, dan kendaraan pribadi yang membentuk lorong-lorong sempit, empat tapak kaki melangkah dengan ritme teratur, meninggalkan jejak yang tersusun rapi bak rel kereta.

Bacaan Lainnya

Meski permukaan aspal terasa membakar, empat kaki kokoh milik anjing pelacak itu tetap lincah menyusuri celah-celah sempit di antara roda-roda raksasa yang hilir mudik.

Sang pelacak itu mengendus setiap sudut, menatap tajam ke segala arah, lalu sesekali menggonggong ketika mencium sesuatu yang mencurigakan.

Itulah rutinitas para “petugas” berkaki empat ini. Upah mereka bukan berupa uang, melainkan kasih sayang, pakan bergizi, potongan daging, vitamin, serta perawatan kesehatan yang terjaga. Dengan naluri dan kepekaan penciumannya, mereka menjadi garda terdepan dalam memerangi perdagangan satwa liar ilegal di Provinsi Lampung.

Bukan tanpa alasan mereka bertugas di Lampung. Posisi geografis provinsi di ujung selatan Pulau Sumatera itu menjadikannya salah satu simpul transportasi paling strategis di Indonesia. Lampung berbatasan langsung dengan Selat Sunda di bagian selatan dan Laut Jawa di sisi timur.

Keberadaan Pelabuhan Bakauheni sebagai penghubung utama Pulau Sumatera dan Jawa, serta Pelabuhan Panjang di Bandar Lampung sebagai pelabuhan internasional sekaligus pusat distribusi peti kemas, menjadikan wilayah ini jalur penting lalu lintas manusia dan barang.

Di balik hiruk-pikuk aktivitas logistik yang kian padat, Lampung sesungguhnya masih menyimpan bentang hutan seluas 925.608 hektare, atau mencakup 27,42 persen dari total wilayah provinsi. Area hijau ini, yang terdiri atas 319.386 hektare hutan lindung dan 408.586 hektare hutan konservasi, menjadi rumah bagi beragam flora dan fauna.

Namun, keberadaan ekosistem tersebut semakin rentan fragmentasi habitat akibat tekanan pembangunan mengancam kelangsungan hidup spesies-spesies di dalamnya.

Ancaman terhadap satwa liar di Lampung pun masih nyata. Beberapa waktu lalu, dunia konservasi dikejutkan oleh kasus penjagalan dan konsumsi daging tapir (Tapirus indicus) di Kabupaten Mesuji. Sebagai satwa yang dilindungi dan berstatus terancam punah, peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa tantangan konservasi bukan hanya persoalan penegakan hukum, tetapi juga kesadaran masyarakat.

Selain itu, posisi Lampung sebagai pintu gerbang Pulau Sumatera menjadikannya salah satu jalur favorit penyelundupan satwa liar. Berulang kali petugas menggagalkan pengiriman elang, monyet, burung liar, hingga sisik trenggiling yang hendak dibawa menyeberang melalui Pelabuhan Bakauheni.

Data Karantina Lampung mencatat sebanyak 3.076 ekor satwa liar berhasil diselamatkan dari berbagai upaya penyelundupan dengan beragam modus pengiriman. Sementara itu, berdasarkan catatan NGO Flight, lebih dari 14.000 ekor burung berhasil diselamatkan dari perdagangan ilegal sepanjang 2025. Sebagian besar di antaranya hendak dikirim dari Sumatera menuju Pulau Jawa melalui Pelabuhan Bakauheni, yang dikenal sebagai salah satu titik rawan penyelundupan burung liar.

Keberhasilan aparat menggagalkan berbagai penyelundupan justru mendorong para pelaku terus mengembangkan modus operandi. Jika sebelumnya satwa liar umumnya disembunyikan di kendaraan pengangkut barang, kini penyelundupan dilakukan melalui bus reguler, bus pariwisata, kendaraan pribadi, jasa ekspedisi, paket logistik, pemalsuan dokumen, hingga modifikasi kemasan agar lolos dari pemeriksaan.


Wildlife Detection Dog

Perubahan pola kejahatan tersebut menuntut metode pengawasan yang lebih adaptif. Salah satu jawabannya hadir melalui program Wildlife Detection Dog atau anjing pelacak konservasi, hasil kolaborasi antara Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia, perusahaan logistik multinasional asal Prancis CMA CGM Group, dan Kementerian Kehutanan.

Unit anjing pendeteksi satwa liar itu ditempatkan secara bergantian di berbagai simpul transportasi yang memiliki risiko tinggi terhadap perdagangan satwa ilegal. Mereka memeriksa kontainer, kendaraan, bagasi penumpang, paket pos, hingga kargo campuran yang menyembunyikan satwa di antara barang-barang legal atau di kompartemen rahasia yang sulit dideteksi secara visual.

Senior Manager Program Wildlife Trade and Policy WCS Indonesia, Sofi Mardiah, menjelaskan bahwa anjing pelacak memiliki sejumlah keunggulan yang belum dapat sepenuhnya digantikan teknologi.

Menurut dia, kemampuan penciuman anjing sekitar 10.000 hingga 100.000 kali lebih sensitif dibandingkan manusia sehingga mampu mendeteksi keberadaan satwa liar dengan tingkat akurasi yang tinggi.

Selain itu, unit K9 (satuan khusus yang menggunakan anjing terlatih) juga lebih fleksibel menjangkau ruang sempit di kapal, kendaraan, maupun area yang tidak dapat diperiksa secara optimal menggunakan alat pemindai sinar-X. Kehadiran mereka juga memberikan efek psikologis yang kuat bagi para pelaku penyelundupan.

Program tersebut pertama kali diterapkan di Pelabuhan Bakauheni pada 2019. Keberhasilannya kemudian mendorong perluasan penempatan ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada 2020, Pelabuhan Bitung di Sulawesi Utara sejak 2021, dan Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta.

Di Bakauheni terdapat tiga “petugas” utama. Pertama, Raju si petugas pengendus satwa berbadan tinggi gagah, berbulu hitam yang merupakan campuran Labrador-Malinois. Kedua, Bailey, anjing Cocker Spaniel dengan bulu cokelat keriting menjuntai yang sangat gemar menjuntaikan lidahnya. Ketiga Sprockel, jenis Springer Cocker Spaniel dengan mata bulat dan jambul kecil di dahinya, tampil menggemaskan, tetapi memiliki kemampuan pelacakan yang tidak kalah andal.

Di Pelabuhan Bitung, tugas serupa dijalankan oleh Ivy yang memiliki perawakan tegak dengan telinga berdiri, bulu berwarna cokelat muda kombinasi hitam khas anjing jenis Belgian Malinois, serta Giselle dengan bentuk badan yang hampir serupa Ivy, tapi memiliki warna bulu lebih gelap sesuai dengan jenis bulu anjing German Shepherd.

Seluruh unit K9 tersebut telah mengantongi sertifikasi internasional dari Scent Imprint for Dogs (SIFD) Belanda dan BWY Canine UK.

 

Jejak Keberhasilan

Jejak keberhasilan mereka tidak sedikit. Pada 2019, tim K9 menggagalkan penyelundupan beruk, lutung, monyet ekor panjang, dan burung hantu yang disembunyikan di dalam bus tujuan Jakarta. Dua tahun kemudian, mereka membantu mengungkap pengiriman 272 ekor burung kicau, termasuk 128 ekor satwa dilindungi, dari Padang menuju Bandung. Hingga total melalui 280 kegiatan patroli bersama di Lampung, Jakarta dan Sulawesi Utara para petugas pengendus itu berhasil menyelamatkan 5.588 satwa.

Salah satu pengungkapan paling menyita perhatian terjadi pada 2021 ketika dua bayi orangutan Sumatera ditemukan disembunyikan di dalam keranjang buah di sebuah bus rute Medan-Jakarta. Kasus tersebut memperlihatkan betapa kreatif sekaligus kejamnya para pelaku perdagangan satwa liar.

Keberhasilan demi keberhasilan itu membuat area pengawasan diperluas hingga ke terminal peti kemas, termasuk di Pelabuhan Panjang, Bandar Lampung. Kawasan ini dinilai memiliki kerentanan tinggi karena memungkinkan pengiriman satwa liar dalam jumlah besar, penyamaran bersama komoditas legal, pemalsuan dokumen lintas negara, hingga perdagangan ilegal tumbuhan.

Perluasan pengawasan tersebut mendapat dukungan dari CMA CGM Indonesia. Presiden Direktur CMA CGM Indonesia, Ikram Ghazali, mengatakan rantai pasok logistik memiliki posisi strategis, tidak hanya dalam memfasilitasi perdagangan global, tetapi juga dalam mencegah aktivitas ilegal.

Menurut dia, kemitraan dengan Kementerian Kehutanan dan WCS Indonesia merupakan bentuk komitmen perusahaan untuk memperkuat sistem pengamanan jaringan logistik melalui solusi nyata berupa program anjing pendeteksi satwa liar.

Dukungan pemerintah juga terus diperkuat melalui regulasi dan operasi bersama lintas instansi.

Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan, Ahmad Munawir, mengatakan pemerintah bersama Karantina Indonesia dan aparat di berbagai simpul transportasi terus memperketat pengawasan.

Sepanjang 2025 hingga 2026, Kementerian Kehutanan berhasil menggagalkan berbagai upaya perdagangan satwa liar, termasuk penyitaan tiga ton sisik trenggiling di Pelabuhan Tanjung Priok.

Di tengah semakin canggihnya modus perdagangan satwa liar, kehadiran unit K9 menjadi pengingat bahwa perlindungan keanekaragaman hayati tidak selalu bergantung pada teknologi paling mutakhir. Terkadang, harapan justru datang dari naluri seekor anjing yang setia mengendus setiap sudut pelabuhan.

Setiap gonggongan yang mereka lepaskan bukan sekadar tanda ditemukannya barang bukti, tapi menjadi penanda bahwa masih ada kesempatan bagi satwa-satwa liar untuk kembali ke habitatnya, sekaligus pengingat bahwa menjaga keanekaragaman hayati hanya dapat dilakukan melalui kolaborasi yang berkelanjutan antara pemerintah, dunia usaha, organisasi konservasi, dan masyarakat.

Di Lampung, endusan para anjing pelacak itu bukan hanya menggagalkan penyelundupan satwa liar. Mereka juga menyalakan kembali lentera konservasi, agar hutan tetap menjadi rumah yang aman bagi kehidupan yang seharusnya tidak pernah diperdagangkan. (LE)

Source: ANTARA

Pos terkait