Jepang, LenteraEsai.id – Ajang olahraga multicabang seperti Asian Games selalu memiliki daya tarik tersendiri bagi para penggemar. Mereka rela datang langsung demi memberikan dukungan penuh kepada atlet atau tim negara kebanggaannya.
Namun, tidak sedikit yang memilih cara berbeda untuk menikmati atmosfer tersebut. Salah satunya Syafira Nurhasti, dara asal Jakarta yang hadir di Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Saat ditemui di venue bulu tangkis Kota Ichinomiya, Aichi, Jepang pada Sabtu, Syafira berada di sana bukan sebagai penonton, melainkan sebagai sukarelawan (volunteer).
Karyawan swasta asal Jakarta ini merelakan waktunya selama dua pekan untuk bertugas di venue tersebut. Pilihan ini didasari oleh kecintaannya yang mendalam terhadap bulu tangkis, atau yang akrab disapa sebagai Badminton Lovers (BL).
Sebelum akhirnya mengenakan kaus hijau berlogo Asian Games 2026 —seragam resmi para relawan— perjalanan Syafira sudah dimulai sejak dua tahun sebelumnya.
Syafira menceritakan bahwa ia mengetahui pendaftaran relawan Asian Games 2026 telah dibuka sejak 2024. Tanpa ragu, ia mendaftar dan mengikuti seluruh proses seleksi hingga tahap wawancara daring melalui Zoom.
Menariknya, di tengah proses seleksi tersebut, Syafira juga sedang sibuk bertugas sebagai relawan pada ajang yang lebih besar, yakni Olimpiade Paris 2024.
Keterlibatan Syafira sebagai relawan di ajang olahraga internasional sebenarnya diawali pada Asian Games Jakarta-Palembang 2018. Pengalaman pertamanya itu tidak membuatnya lelah atau kapok, melainkan justru memicu semangat dan keinginannya untuk terus berpartisipasi di event-event berikutnya.
Kecintaannya pada dunia olahraga, khususnya bulu tangkis, makin terasah saat ia menempuh pendidikan di Jurusan Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
Setelah lulus, minat tersebut terus terjaga. Meski tidak berkarier sebagai atlet, Syafira menyalurkan kegemaran dan ilmunya lewat kontribusi aktif sebagai relawan.
Dekat dengan atlet
Bagi Syafira, menjadi sukarelawan memberikan eksklusivitas yang tidak bisa ia dapatkan jika hanya menjadi penonton biasa. Peran ini membukakan peluang untuk berada jauh lebih dekat dengan para atlet favoritnya.
Kuncinya ada pada pilihan bidang tugas (job desk) di bagian media, khususnya di area mixed zone.
Area tersebut bersifat khusus, tempat para jurnalis melakukan wawancara doorstop dengan atlet seusai pertandingan. Di situlah Syafira melihat kesempatan emas.
Sebagai staf relawan di mixed zone, Syafira bertugas memastikan awak media mematuhi protokol yang berlaku, sekaligus bisa menyaksikan atlet idola dari jarak dekat. Sebuah pengalaman berharga yang mustahil ia dapatkan jika sekadar duduk di tribun bersama ribuan penonton lainnya.
Pada Asian Games kali ini, Syafira sejak awal memang menargetkan posisi staf media di cabang olahraga bulu tangkis, meskipun lokasinya terbilang cukup jauh dari Pusat Kota Nagoya.
“Memang dari awal ingin di posisi ini. Enaknya ajang seperti ini, kita bebas memilih posisi dan cabang olahraga yang diinginkan. Karena saya suka bulu tangkis, jadi pilih cabang ini. Walau lokasinya di sini, tidak masalah buat saya,” tutur Syafira.
Berjarak sekitar satu jam perjalanan mobil dari ibu kota Prefektur Aichi, Ichinomiya justru lebih dekat ke Kota Gifu, ibu kota Prefektur Gifu. Bahkan, Ichinomiya Gymnastic Stadium yang menjadi arena pertandingan bulu tangkis terletak tepat di tepi Sungai Minamiha, perbatasan alami antara kedua prefektur tersebut.
Demi menghemat waktu dan jarak tempuh ke arena, Syafira memilih tinggal di Gifu selama beberapa pekan ke depan. Langkah ini jauh lebih efisien dibandingkan harus menginap di Nagoya. Di sana, ia tidak tinggal sendirian, melainkan menginap bersama rekannya.
Syafira mengungkapkan bahwa ada lima relawan asal Indonesia yang bertugas di arena bulu tangkis Ichinomiya. Meski begitu, tidak semuanya memegang peranan di bagian media, ada pula yang ditempatkan di bidang tugas lain.
Kepuasan batin
Menjadi relawan ajang internasional, terlebih di negeri orang, tentu membutuhkan banyak pertimbangan dan pengorbanan. Waktu dan materi menjadi hal mendasar yang harus disiapkan Syafira.
Dari segi waktu, Syafira dituntut memiliki manajemen yang cermat. Ia harus memantau jadwal pembukaan pendaftaran relawan jauh-jauh hari, lalu bernegosiasi dengan tempatnya bekerja untuk mengajukan cuti selama bertugas.
“Saya biasanya sudah sounding ke kantor dua tahun sebelum acara, berbarengan saat pendaftaran dibuka. Jatah cuti tahunan kan 14 hari, biasanya saya ambil 10 hari. Itu sudah cukup untuk bertugas di sini (Asian Games),” kata Syafira.
Uang saku sebesar 1.000 yen (sekitar Rp115 ribu) per hari bagi relawan Asian Games Aichi-Nagoya 2026 terbilang minim. Sebagai gambaran, nominal tersebut hanya cukup untuk satu kali makan porsi sedang di Jepang.
Namun, Syafira tak terlalu memusingkan hitungan matematis tersebut. Begitu dipastikan lolos seleksi, ia langsung mengatur strategi keuangan. Masa persiapan selama dua tahun ia manfaatkan untuk mengumpulkan tabungan.
Bagi Syafira, kesempatan menjelajahi tempat baru dan berinteraksi langsung dengan para atlet tanpa sekat protokol memberikan kepuasan batin yang tak ternilai.
Berawal dari Asian Games 2018, berlanjut ke Olimpiade Paris 2024, hingga kini di Asian Games 2026, Syafira berharap jejak langkahnya sebagai relawan di ajang olahraga internasional bisa terus berlanjut. (LE)
Source: ANTARA








