Polresta Denpasar Ungkap Motif Anak Lompat dari Lantai Tiga Pasar Adat

Polresta Denpasar ungkap motif anak lompat dari lantai tiga Pasar Adat
Kapolresta Denpasar Kombes Pol. Leonardo David Simatupang (kanan) bersama Kasat Reskrim Polresta Denpasar Kompol Agus Riwayanto Diputra (kiri) memberikan keterangan terkait kasus seorang anak yang melompat dari lantai tiga Pasar Desa Adat Serangan, di Mapolresta Denpasar, Bali, Kamis (23/4/2026). ANTARA/Rolandus Nampu

Denpasar, LenteraEsai.id – Kepolisian Resor Kota (Polresta) Denpasar mengungkap motif seorang anak perempuan berinisial KA yang melompat dari lantai tiga Pasar Desa Adat Serangan, Denpasar, Bali, pada Minggu (19/4).

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Denpasar Agus Riwayanto Diputra di Denpasar, Kamis, mengatakan hasil penyelidikan menunjukkan tidak ditemukan indikasi perundungan (bullying) dalam kasus tersebut.

Bacaan Lainnya

“Dari hasil penyelidikan, tidak ada indikasi bullying. Namun korban terindikasi termotivasi oleh salah satu game dan tren di media sosial,” ujarnya.

Pihak kepolisian juga telah mengamankan telepon genggam yang digunakan untuk merekam kejadian tersebut, serta melibatkan tim siber Polda Bali untuk melakukan analisis digital forensik.

Berdasarkan hasil pendalaman, kata Agus, korban diduga terpengaruh konten permainan dan tren yang beredar di media sosial, sehingga ingin mencoba aksi tersebut dengan tujuan agar viral.

“Dari keterangan digital forensik, ada pengaruh dari game yang memotivasi korban untuk membuat tren tersebut,” katanya.

Menurut Agus, game yang dimaksud diketahui bernama Omori, yang disebut memiliki dampak psikologis tertentu bagi pemain.

Pihak kepolisian juga telah berkoordinasi dengan psikolog untuk mendalami kondisi kejiwaan korban, termasuk kemungkinan adanya pengaruh dari konten digital yang dikonsumsi.

Saat ini korban masih dalam masa pemulihan setelah menjalani operasi akibat luka yang dideritanya.

Pihak keluarga korban, lanjut dia, berharap agar kasus ini tidak terlalu diekspos secara berlebihan karena dapat memengaruhi kondisi psikis anak tersebut.

“Keluarga berharap tidak terlalu digemborkan karena bisa mengganggu pemulihan korban,” ujarnya.

Dia juga menjelaskan teman korban yang merekam kejadian tersebut tidak mengetahui sebelumnya bahwa aksi tersebut akan dilakukan.

Agus mengimbau masyarakat, khususnya orang tua, untuk lebih mengawasi aktivitas anak-anak mereka dalam mengakses media sosial ataupun konten digital lainnya.

“Kami mengingatkan orang tua agar lebih berhati-hati terhadap apa yang dikonsumsi anak-anak di dunia maya karena sangat berpengaruh,” katanya.

Ke depan, kata dia, kepolisian akan berkoordinasi dengan instansi terkait, termasuk Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), pemerintah provinsi, serta Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk langkah pencegahan.

Dia mengatakan pihak kepolisian juga terus melakukan pemantauan melalui tim siber guna mengantisipasi penyebaran konten serupa yang berpotensi membahayakan anak-anak. (LE)

Source: ANTARA

Pos terkait