judul gambar

Papatonk, Kerupuk Udang “Made in Indonesia” untuk Pasar China

Papatonk, kerupuk udang "made in Indonesia" untuk pasar China
Kemasan khusus kerupuk udang "Papatonk" dengan tema Labuan Bajo (ANTARA/HO-Suprapto Santoso)

Beijing, 26/11 (ANTARA) – Kerupuk menjadi kudapan yang biasa menemani ragam kuliner asal Indonesia seperti nasi goreng, ketoprak, bubur ayam, soto, atau menjadi teman makan nasi tanpa lauk.

Kebiasaan makan kerupuk lekat dalam masyarakat Indonesia yang terbukti dari adanya berbagai jenis kerupuk Nusantara mulai dari kerupuk udang, kerupuk ikan, kerupuk kulit, kerupuk gendar, dan kerupuk kemplang. Bahkan, makan kerupuk putih dilombakan setiap perayaan 17 Agustus.

Bacaan Lainnya

Di China, negara dengan pengaruh kuliner kuat ke Indonesia, hadir kerupuk asli asal Indonesia dengan merek “Papatonk”.

“Papatonk mulai tahun 2008, saat itu di China makanan impor masih jadi segmen yang lumayan seksi,” kata Suprapto Santoso, pencipta kerupuk “Papatonk” dalam wawancara dengan ANTARA di Beijing.

Suprapto adalah CEO United Harvest China Co., Ltd, perusahaan yang memproduksi dan mendistribusikan kerupuk udang warna krem terang buatan Indonesia di pasar China.

Kantor pusat “Papatonk” berada di kota Dongguan, provinsi Guangdong, China. Perusahaan itu juga punya kantor perwakilan di Jakarta, Hong Kong, Taipei dan San Francisco, Amerika Serikat.

“Industri di China memang kuat, tapi saat itu kami mengidentifikasikan satu industri yang tidak sekuat lainnya adalah makanan dan minuman. China baru membuka akses pasar sekitar 1990,” ungkap Suprapto.

Suprapto menjelaskan jika dibandingkan dengan merek makanan dan minuman asing di Indonesia yang sudah beroperasi sejak 1960-1970, makanan dan minuman impor di China baru hadir setelah 2001, pasca China bergabung secara resmi dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

“Saya lihat tidak banyak sektor dari Indonesia yang bisa masuk ke China di luar migas, mungkin hanya di bidang perikanan, agro-bisnis, dan terakhir di makanan minuman karena di sektor lain, China sudah sangat kuat,” tambah Suprapto.

Karena pemain di sektor makanan minuman di China belum banyak saat itu, Suprapto pun membuat subkategori sendiri yaitu kerupuk udang yang produknya belum ada sama sekali di pasar China, sekaligus menjadikan kerupuk udang sebagai representasi makanan khas Indonesia.

“Karena di China itu sangat memandang ‘nation branding’ yang di asosiasisikan dengan subkategori tertentu. Contohnya, di mata orang China, Thailand terkenal dengan buah-buah tropis yang mahal, lalu Indonesia apa yang kuat? Saat itu kami lihat ada kopi, sarang burung walet lalu kami mulai subkategori baru yaitu kerupuk udang sebagai ‘snack’,” jelas Suprapto.

Suprapto mengatakan Indonesia kuat secara resep kerupuk udang sekaligus bahan baku udang segar yang berasal dari laut sedangkan di China sendiri belum ada camilan yang berasal dari tepung dicampur dengan “seafood”.

“Maka kami melihat adaptasinya adalah menciptakan ‘snack’ kerupuk dengan budaya yang mereka sudah paham yaitu mengemil ‘potato chip’, pasar China ternyata bisa menerima kerupuk udang yang sudah mateng dan dikasih bumbu, edukasi pasar pun tidak terlalu sulit,” ungkap Suprapto.

Cara memakan camilan kerupuk udang di China berbeda dengan cara mengonsumsi kerupuk udang di Indonesia yang menjadikan kerupuk sebagai teman makan nasi.

“Konsumen China itu kurang begitu fasih dalam hal deep frying preparation di rumah. Kalau mereka dikasih kerupuk mentah dan diminta menggoreng sendiri, mereka tidak tahu kapan harus angkat kerupuknya, karena secara tradisional budaya masakan merekan adalah dikukus, maka kami pun tidak menjual kerupuk mentah seperti budaya di Indonesia, tetapi kerupuk matang yang langsung dimakan seperti keripik kentang,” jelas Suprapto.

Kebiasaan memakan kerupuk atau emping-empingan sebagai teman nasi, ungkap Suprapto hanya ada  di beberapa negara di Asia Tenggara termasuk di Indonesia, Vietnam, Thailand maupun Malaysia.

Kerupuk udang buatan “Papatonk” pun menjadi teman konsumen China saat nonton TV di rumah atau main ponsel, persis seperti potato chip.

“Di situ kita lihat potensinya dijadikan snacking kategori tidak sebagai temannya nasi seperti di Indonesia,” kata Suprapto.

Suprapto mengaku produknya sangat diminati konsumen China saat masa pandemi Covid-19 karena mayoritas masyarakat China berada di rumah dan banyak mengonsumsi “snack” termasuk kerupuk udang Papatonk.

“Tapi dua tahun terakhir sangat berat buat kami selain karena persaingan di retail, tapi juga masyarakat sering bepergian keluar rumah, jadi tidak ‘snacking’ lagi,”

Selain itu, kondisi perekonomian China yang mengalami penurunan ditambah dengan perang dagang dan lainnya juga ikut mempengaruhi omzet “Papatonk”.

 

Made in Indonesia

Latar belakang pendidikan Suprapto sendiri bukanlah di bidang makanan atau ekonomi, melainkan Mechanical and Industrial Engineering di AS. Saat berada di AS, ia pun bekerja paruh waktu untuk membiayai kuliah dan hidup.

Suprapto kemudian bekerja di perusahaan AS tapi ditempatkan di China pada 2003 dan sedikit demi sedikit mengumpulkan modal usaha.

Dari modal tersebut, ia mendirikan perusahaan pada 2008 dan menjadikan “Papatonk” sebagai proyek keempatnya pada 2011.

Nama “Papatonk” sendiri bukanlah dari bahasa Mandarin apalagi Inggris, melainkan berasal dari bahasa Sunda yang artinya capung. Logo “Papatonk” menggunakan dasar warna hijau dengan capung kecil di bagian atas.

“Ada sedikit filosofi di balik logo dan nama itu. Sesungguhnya capung adalah binatang yang mengindikasi udara bersih karena capung hanya hidup di daerah dengan udara bersih. Jadi kami sebagai pemain di industri makanan berupaya keras untuk memegang ideologi bahwa produk makanan yang kami ciptakan sesuai dengan bahan-bahan yang tercantum, tidak membohongi konsumen,” jelas Suprapto.

Suprapto mengaku ingin mempertahankan mutu produk-produknya dan tidak akal-akalan menipu konsumen.

“Filosofi kami juga sebagai pengingat dalam pengembangan produk bahwa inilah janji kami ke konsumen sejak tim kami masih muda sampai sekarang,” ungkap Suprapto.

Suprapto menjelaskan saat ini total karyawan “Papatonk” mencapai 300 orang, termasuk di pabrik kerupuk udang di Bogor, Jawa Barat. Artinya “Papatonk” 100 persen buatan Indonesia dan menjadi produk ekspor Indonesia ke China karena Suprapto sejak awal berkomitmen untuk mengusung produk made in Indonesia.

“Walaupun saya bisa produksi di Vietnam maupun Malaysia maupun China sendiri, karena saya dapat banyak tawaran. Hanya memang impian saya berkontribusi untuk negara melalui memberikan devisa hasil ekspor dan menggerakkan supply chain di Indonesia sehingga Indonesia dapat value added dan kesejahteraannya,” jelas Suprapto.

Prinsip itulah yang membuat pria yang telah 22 tahun tinggal di China itu tetap berkomitmen untuk menjalankan produk made in Indonesia.

Meski berjualan kerupuk, Suprapto mengaku tidak suka makan kerupuk.

“Kalau teman atau keluarga yang kenal saya, mereka tahu sejak kecil saya malah tidak suka kerupuk. Kalau saya makan ketoprak kerupuknya saya singkirkan, tapi ya itu cari uang sekarang malah di bidang kerupuk,” aku Suprapto.

 

Promosi wisata

Masih dengan semangat untuk berkontribusi bagi Indonesia, Suprapto pun menjadikan kemasan kerupuk udang “Papatonk” sebagai bahan promosi lokasi wisata di Nusantara.

“Saya sendiri yang mengusulkan kerja sama dengan Kementerian Pariwisata pada 2018 sebagai bagian dari CSR kami untuk menampilkan lokasi-lokasi wisata unggulan Indonesia,” kata Suprapto.

Maka muncullah kemasan-kemasan kerupuk udang “Papatonk” dengan gambar dan penjelasan mengenai lokasi wisata di Indoensia seperti Pulau Komodo, Labuan Bajo, Bali, dan lokasi lainnya. Ide Suprapto itu pun diikuti oleh perusahaan-perusahaan lain yang menampilkan kekayaan budaya Indonesia di kemasannya.

Bentuk CSR lain yang terkait wisata, ungkap Suprapto adalah dengan display di supermarket dengan tema Indonesia.

“Waktu itu kami pernah buat tema Bunaken di supermarket dengan menampilkan 2000-an produk yang semuanya destinasi wisata Bunaken untuk meningkatkan exposure Bunaken, apalagi saat ini ada penerbangan langsung dari Guangzhou ke Manado,” kata Suprapto.

Terakhir di berencana bekerja sama dengan maskapai “China Southern Airlines” menjadikan Papatonk sebagai salah satu makanan yang ditawarkan kepada penumpang pesawat.

 

Strategi ke depan

Pria kelahiran Pontianak, Kalimantan Barat, itu juga menyebu perusahaanya akan beradaptasi dengan dinamika pasar yang berubah sangat cepat, termasuk kondisi Generasi Z dalam 5-10 tahun yang menjadi pilar utama ekonomi di seluruh dunia.

“Kami akan mengeluarkan produk-produk yang berkiblat kepada kesehatan. Misalnya dengan mempertimbangkan ulang portion control per kemasan mengingat di China, konsumen kami 70 persen adalah perempuan dan mereka sangat sadar pentingnya kesehatan. Jadi mereka tetap ingin ‘snacking’ dengan porsi yang terkontrol,” tambah Suprapto.

Selanjutnya konsumen juga memperhatikan kadar gula, kadar minyak, kadar sodium hingga memilih produk yang menggunakan saturated fat rendah atau bahkan unsaturated fat yang berasal dari avocado oil, coconut oil atau olive oil.

“Jadi, ke depan arahnya kami akan mengembangkan produk untuk generasi baru dengan kesadaran kesehatan mereka, harus ke arah sana,” ungkap Suprapto.

Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Suprapto dan timnya karena pabrik kerupuk udang sepenuhnya berada di Indonesia yang kesadaran bahan makanan sehatnya belum terbangun sehingga sulit untuk mencari bahan mentahnya dan kalau pun ada harganya sangat mahal.

“Papatonk”, kata Suprapto, juga siap untuk bekerja sama dalam bentuk private labelling maupun co-branding dengan perusahaan makanan lain dari Indonesia karena untuk masuk ke industri makanan minuman di China sangat sulit.

Private labelling adalah ketika suatu produk dibuat oleh satu perusahaan, tetapi dijual dengan merek perusahaan lain sedangkan co-branding; merupakan kerja sama dua merek berbeda yang menaruh nama mereka pada satu produk.

“Saat ini Papatonk membawa produk makanan lain ke perusahaan dan membuka pintu private labelling dengan rekanan perusahaan Indonesia yang punya segmen makanan berbeda tapi mau berada di bawah merek kami, karena di China kami sudah punya distribusi lengkap baik di supermarket, maupun e-commerce dan specialty channel line‘” kata Suprapto.

Produk-produk “Papatonk” secara daring dapat ditemukan di jaringan Tmall, Taobao, JD, Xiaohongsu, Daoyin, Kuaishou dan platform lainnya, sedangkan “offline” ada supermarket-supermarket level A, level B dan J plus bahkan sudah masuk ke supermarket China bagian barat seperti Gansu, Ningxia, Qinghai, Xinjiang, termasuk kota Kashgar yang menjadi pintu ke pasar Asia Tengah seperti Kazakhstan, Turkmenistan, dan Tajikistan.

Tak hanya kerupuk udang, produk “Papatonk” pun telah berkembang ke keripik singkong, keripik kentang, ubi, wafer, biskuit, kopi hingga snack noodle.

Suprapto mengakui saat ini sudah mulai ada pemain baru yang bermunculan di subkategori kerupuk udang dan bukan hanya dari produsen China sendiri tapi juga negara lain seperti Korea Selatan, Malaysia, Vietnam hingga Thailand.

“Makanya saya selalu menekankan kalau national branding di China itu penting, ditambah penguatan hubungan luar negeri Indonesia dan China karena konsumen di China ini sangat mendegarkan pemerintahnya. Kalau pemerintah kedua negara bersahabat maka produk dari negara tersebut lebih diterima,” tambah Suprapto.

Namun, Suprapto merasa bangga bahwa “Papatonk” lah yang membuka segmen subkategori camilan “kerupuk udang dari Indonesia” di pasar China.

“‘This is not joking. Terbukti kalau ke supermarket di China, mereka akan tulis di bagian kerupuk ‘Indonesian style, shrimp crackers’. Itu salah satu usaha pengakuan yang dibangun ‘Papatonk’ karena top of mind kerupuk udang berasal dari Indonesia, bukan dari yang lain,” katanya bangga.

Kerupuk udang hadir bersama dengan kopi dan sarang burung walet sebagai produk yang diingat berasal dari Indonesia.

Sekarang pun Suprapto sedang melakukan negosiasi dengan pembeli asal Korea, Kanada maupun kerja sama “private labelling” dengan perusahaan dari Australia, Amerika, Selaindia Baru hingga Inggris,

⁶”Papatonk” atau produk Indonesia lainnya tetap terbuka untuk “bertarung” memenangi pasar raksasa makanan China bila dapat beradaptasi dengan perubahan tren preferensi konsumen yang menginginkan bahan alami berkualitas tinggi, transparan akan manfaat kesehatan, sekaligus punya cita rasa unik.

 

Oleh Desca Lidya Natalia
Editor : Dadan Ramdani

Konten ini dilindungi oleh hak cipta dan dilarang untuk disebarluaskan tanpa izin tertulis dari ANTARA

Pos terkait